Logo Header Antaranews Sumsel

Kereta api andalan angkutan batu bara

Kamis, 8 Agustus 2013 15:39 WIB
Image Print
Operator alat berat sedang melakukan pengaturan muatan batu bara yang diangkut kereta api babaranjang di kawasan Kertapati, Palembang. (FOTO ANTARA)
....Setelah selesainya pembangunan jalur kereta api ganda itu diharapkan volume angkutan batu bara dapat ditingkatkan hingga mencapai 22,7 juta ton per tahun....

Palembang (ANTARA Sumsel) - PT KAI Divisi Regional III masih mengandalkan angkutan batu bara memanfaatkan fasilitas kereta api batu bara rangkaian panjang dari mulut tambang Tanjungenim, Sumatera Selatan, menuju Tarahan, Provinsi Lampung dan Kertapati, Palembang.

Selama ini yang menjadi andalan adalah angkutan kereta api batu bara rangkaian panjang atau dikenal dengan sebutan Kereta Babaranjang, yang mampu mengangkut hingga 18 juta ton per tahun.

PT Kereta Api Indonesia Divisi Regional III (PT KAI Divre III) Sumatera Selatan, selain mengandalkan pendapatan dari angkutan kereta penumpang juga angkutan barang khususnya jenis komoditas hasil tambang batu bara.

Informasi dari Dinas Pertambangan setempat, Sumatera Selatan hingga saat ini memiliki cadangan batu bara melimpah mencapai 22,24 miliar ton. Dari jumlah itu baru sebagian yang sudah dimanfaatkan untuk mendukung kemakmuran rakyat dan membiayai kegiatan pembangunan.

Total cadangan batu bara yang dimiliki Sumsel itu hingga saat ini baru dimanfaatkan sekitar 18 juta ton per tahun, artinya masih cukup banyak kekayaan sumber daya alam yang terpendam di perut bumi belum dieksploitasi untuk mendukung kemakmuran rakyat.

Melihat potensi kekayaan sumber daya alam yang melimpah itu, mendapat tanggapan serius dari pihak PT KAI Divre III Sumsel dengan berupaya meningkatkan kapasitas angkut batu bara, sehingga produksinya juga dapat ditingkatkan dari yang sekarang.

Kepala PT KAI Divre III Sumatera Selatan, Suseno di Palembang, Selasa, mengatakan untuk memanfaatkan potensi batu bara yang melimpah itu pihaknya melaksanakan program proyek pembangunan jalur kereta api ganda sepanjang 80 kilometer dari Stasiun Niru Penimur, Kabupaten Muaraenim ke Tanjung Enim, Sumatera Selatan, sudah dimulai sejak Januari 2013 yang diharapkan rampung tahun 2014.

Menurut dia, pembangunan jalur kereta api ganda itu hingga saat ini telah menyelesaikan tahap pertama yakni dari Stasiun F6 Prabumulih ke Stasiun Niru sepanjang 20 kilometer.

Sementara pembangunan tahap dua yakni jalur ganda kereta api dari Stasiun Niru ke mulut tambang batu bara di Tanjung Enim.

"Total jarak dari proyek jalur ganda PT KAI ini sepanjang 80 kilometer. Pekerjaan tahap pertama telah selesai dan sudah digunakan untuk lintasan kereta api pengangkut penumpang dan batu bara," katanya.

Memang, kata dia, proyek pembangunan yang ditargetkan rampung pada akhir 2013 terpaksa tertunda karena banyak kendala dialami antara lain faktor alam terjadi longsor dan lainnya sehingga diharapkan selesai tahun 2014 yang tujuannya untuk mengurangi kepadatan jalur lalu lintas akibat angkutan batu bara.

Di samping itu juga dilakukan pembangunan rel kereta api ganda dari Stasiun Giham - Ketapang arah Provinsi Lampung sepanjang 40 km, dan pembangunan fasilitas pendukung sebanyak delapan unit stasiun kereta api baru yang diharapkan efektif selesai tahun 2014.

PT KAI membuat suatu perencanaan pembangunan jalur ganda dengan total Rp4 trilun untuk mengangkut batu bara dari mulut tambang di Tanjung Enim.

Penjualan batu bara

Sementara, PT Tambang Bukit Asam (PTBA) optimistis target penjualan batu bara tahun 2013 sebesar 20,68 juta ton tercapai, meningkat 31,8 persen dibandingkan tahun 2012.

Sekretaris Perusahaan PTBA, Joko Pramono di Palembang, sebelumnya mengatakan bahwa pihaknya optimistis target tersebut terealisasi dengan dukungan PT Kereta Api Indonesia yang meningkatkan kapasitas angkutan batu bara.

Menurut dia, produksi batu bara dari Unit Pertambangan Tanjung Enim mencapai 6,66 juta ton pada semester pertama.

Sedangkan, pembelian batu bara dari pihak ketiga mencapai 1,55 juta ton sehingga total produksi dan penjualan 8,21 juta ton.

Ia mengatakan, realisasi penjualan batu bara tersebut tentunya sangat tergantung dengan tersedianya transportasi yang mampu mengoptimalkan angkutan komoditas itu.

PT KAI telah menambah kapasitas angkutannya sebanyak 230 gerbong dengan 44 lokomotif beroperasi sejak Juli sehingga total menjadi 2.430 gerbong dan 90 lokomotif.

Dia menjelaskan, peningkatan kapasitas sarana angkutan itu sangat berperan dalam mendorong terealisasinya pencapaian target penjualan.

Karena itu, target pengangkutan pun meningkat 15,69 juta ton tahun ini, naik 31,8 persen dibandingkan tahun 2012 sebesar 11,9 juta ton dari Tanjung Enim ke Tarahan Bandar Lampung dan Dermaga Kertapati.

Joko menambahkan, volume penjualan batu bara pada semester pertama mencapai 8,81 juta ton atau naik 20 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Volume penjualan batu bara itu terdiri ke pasar domestik 4,14 juta ton dan ekspor 4,67 juta ton dengan harga Rp611.000 per ton, sehingga semester pertama berhasil merealisasikan pendapatan sebesar Rp5,43 triliun dan laba bersih Rp0,87 triliun, katanya.

Target peningkatan penjualan batu bara oleh PTBA itu, sejalan dengan program PT KAI Divre III Sumsel yang berinisiatif membangun jalur kereta api ganda tersebut.

"Jalur rel ganda itu jika sudah digunakan maka terjadi efisiensi waktu tempuh, biasanya 6-7 jam dari Palembang ke Tanjung Enim, nanti hanya 4-5 jam saja," kata Kepala PT KAI Divre III Sumatera Selatan, Suseno menjelaskan.

Bila jalur kereta api ganda itu selesai diharapkan angkutan penumpang dan barang khususnya batu bara akan semakin lancar, karena perjalanan antara kereta barang dengan penumpang terpisah.

"Kalau sebelumnya, masing-masing kereta bila terjadi perlintasan antara satu kereta harus ada yang menunggu, namun setelah dibangun jalur ganda tidak akan ada lagi saling menunggu," katanya.

Disinggung mengenai kelancaran angkutan batu bara dari mulut tambang Tanjung Enim, Kabupaten Muaraenim, menuju Tarahan dan ke Kertapati menggunakan jasa Kereta Api Babaranjang sekarang mencapai 18,5 juta ton per tahun, kata Suseno di dampingi Kabid Hubungan Masyarakat PT KAI Divre III Sumsel, Bambang S Prayitno.

Menurut Suseno, dengan selesainya pembangunan jalur kereta api ganda itu diharapkan volume angkutan batu bara dapat ditingkatkan hingga mencapai 22,7 juta ton per tahun.

"Kami akan terus berupaya meningkatkan volume angkutan batu bara, sehingga suatu saat produksi salah satu hasil tambang andalan Sumsel tersebut akan lebih banyak lagi," katanya.

Gubernur Sumsel Alex Noerdin bahkan pada setiap kesempatan mengatakan suatu saat produksi batu bara daerahnya pada puncaknya akan mencapai 100 juta ton per tahun, karena potensi cadangan yang dimiliki cukup besar.

Menurut dia, cadangan batu bara Sumsel cukup besar mencapai 22,24 miliar ton, sementara yang bisa dimanfaatkan hingga saat ini baru sekitar 18 juta ton per tahun.

Potensi batu bara yang melimpah itu akan diupayakan dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan pembangunan serta kemakmuran rakyat khususnya warga Sumatera Selatan, demikian Alex Noerdin.(Antara)



Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026