
Bulog: Lampung belum perlu op beras

...Kami masih melihat perkembangan harga beras di pasaran dulu, mengingat harga operasi pasar masih mendekati harga pasaran...
Bandarlampung (ANTARA Sumsel) - Perum Bulog Divisi Regional Lampung belum menggelar operasi pasar beras secara tersendiri menjelang Idul Fitri 1434 Hijriah, mengingat harga beras di pasaran masih relatif stabil.
"Kami juga sudah menyalurkan beras untuk rakyat miskin secara reguler, raskin ke 13 dan ke 14, dengan total keseluruhan masing-masing rumah tangga sasaran menerima sekitar 45 kg," kata Humas Perum Bulog Divre Lampung Susana, di Bandarlampung, Senin.
Menurut dia, beras tersebut diperkirakan mencukupi untuk konsumsi sebulan, kemudian masih bisa pula digunakan untuk membayar zakat fitrah bagi umat Islam.
"Kami masih melihat perkembangan harga beras di pasaran dulu, mengingat harga operasi pasar masih mendekati harga pasaran," ujar dia lagi.
Susana menyatakan, bila harga beras dalam kondisi stabil, maka pihaknya tidak melaksanakan operasi pasar karena kurang efektif.
Namun, dia menegaskan, Bulog juga berperan aktif memasok beras untuk pelaksanaan pasar murah yang digelar oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota se-Lampung pada Ramadhan dan menjelang Lebaran ini.
Sementara itu, kalangan ibu rumah tangga di Bandarlampung mengeluhkan kenaikan harga bahan pokok, seperti daging sapi, daging ayam, telur, dan bumbu dapur lainnya.
"Sekarang ke pasar pegang uang Rp100 ribu tidak mendapat belanjaan yang mencukupi," kata salah satu ibu rumah tangga di Bandarlampung, Nuraini.
Menurut dia, saat ini harga bawang putih Rp20 ribu/kg, bawang merah Rp60 ribu/kg, cabai rawit Rp100 ribu/kg, ayam potong berkisar antara Rp35 ribu hingga Rp45 ribu per ekor tergantung besar dan kecil ukurannya, sedangkan daging sapi Rp85 ribu hingga Rp100 ribu per kg.
"Saya bawa uang ke pasar Rp100 ribu hanya dapat daging setengah kilogram, beserta cabai merah, bawang merah, minyak goreng dan bumbu jadi lainnya," ujar Ani.
Padahal, katanya, untuk mendapatkan uang Rp100 ribu, ia harus menjual paling tidak lima sampai tujuh potong pakaian hasil dagangan online yang dia geluti selama ini.
Ia berharap pemerintah lebih serius berupaya mengatasi kenaikan harga sembako yang terus merangkak naik.
"Pemerintah berjanji akan mengatasi persoalan kenaikan harga sembako itu, tapi sampai saat ini belum ada langkah konkret yang bisa dirasakan masyarakat ekonomi menengah ke bawah," kata dia lagi.
Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
