Logo Header Antaranews Sumsel

Pedagang naikkan harga lada

Minggu, 19 Mei 2013 16:25 WIB
Image Print
ilustrasi - produksi komoditas lada (FOTO ANTARA) (FOTO ANTARA)

Pangkalpinang (ANTARA Sumsel) - Sejumlah pedagang pengumpul lada putih di Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung menaikkan harga komoditas tersebut untuk memancing minat petani menjual hasil perkebunannya.

"Kami menaikan harga lada menjadi Rp85 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp84 ribu agar petani kembali bergairah menjual hasil lada mereka," ujar Ellan pedagang pengumpul lada di Pasar Pembangunan Pangkalpinang, Minggu.

Ia mengatakan, transaksi lada dalam sepekan terakhir sepi terkait harga masih rendah dan hasil panen petani juga mengalami penurunan karena kondisi cuaca yang tidak menentu.

"Petani enggan menjual lada karena biaya perawatan perkebunan yang tinggi sehingga petani rugi dengan harga yang rendah itu," ujarnya.

Ia menjelaskan, rata-rata transaksi lada hanya 6 kilogram per hari dan terkadang tidak ada transaksi sama sekali. Sementara pada bulan sebelumnya rata-rata mencapai 50 kilogram hingga 100 kilogram per hari.

"Petani lada enggan menjual ladanya karena harga masih rendah, sementara biaya perawatan dan harga bibit tinggi," ujarnya.

Ia mengatakan, harga lada di pasaran tergantung dari harga pasaran dunia karena lada merupakan komoditas ekspor andalan Bangka Belitung.

"Kualitas lada putih Babel cukup bagus dan mampu bersaing dengan lada dari Vietnam, namun belakangan produksi lada putih semakin berkurang karena banyak warga mengalihfungsikan lahan menjadi areal tambang timah," katanya.

Ia mengatakan, dalam beberapa tahun belakangan produksi lada putih terus merosot seiring minat petani mengembangkan komoditas ekspor tersebut menurun akibat tingginya biaya produksi dan sulitnya mengantisipasi berbagai hama penyakit.

"Masyarakat yang masih bertani lada hanya sekitar 40 persen yang terdapat di Bulu Ijuk, Pagarawan, Tempilang, sementara pertanian lada di daerah lainnya sudah dijadikan lahan perkebunan sawit dan areal penambangan timah," ujarnya.



Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026