
Hatta : konsep konversi energi atasi defisit perdagangan

...Untuk konversi, saya masih ragu kalau realisasinya terus terhambat seperti sekarang, kalau konversi ke gas cepat, itu bisa mengurangi impor, namun, saat ini masih jauh dari harapan...
Jakarta (ANTARA Sumsel) - Menteri Perekonomian Hatta Rajasa menilai konsep konversi energi alternatif seperti gas dapat mengurangi tekanan impor migas yang menyebabkan defisit neraca perdagangan.
"Untuk konversi, saya masih ragu kalau realisasinya terus terhambat seperti sekarang, kalau konversi ke gas cepat, itu bisa mengurangi impor, namun, saat ini masih jauh dari harapan," kata Hatta Rajasa di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa.
Menurut dia, tahun ini pemerintah akan mengendalikan impor migas agar tidak menyebabkan defisit perdagangan. Jika sektor migas bisa dikendalikan kemungkinan antara sektor migas dan non migas akan seimbang.
Ia mengatakan jika sektor migas bisa surplus maka pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi sangat besar. Neraca pembayaran masih surplus karena didorong oleh transaksi modal dan keuangan yang semakin naik.
Dia menilai terjadinya peningkatan impor karena peningkatan investasi.
"Jadi ada transaksi modal, investasi itu perlu impor modal dan barang-barang modal dan itu tentu memacu investasi,"katanya.
Menurut dia transaksi neraca perdagangan ekspor non migas positif ditambah lagi dengan harga komoditas dunia yang membaik.
Namun katanya Indonesia perlu mencermati jurang fiskal atau 'fiscal cliff' yang terjadi di AS yakni kondisi dimana pemerintah AS menghadapi dua masalah besar yaitu utang yang besar dan defisit anggaran yang melebar.
"Dengan kondisi fiscal cliff itu mungkin nanti pertumbuhan disana (AS) akan menurun. Ini akan memberikan dampak di global, jadi perlu melihat kehati-hatian,"kata dia.
Selain itu, lanjutnya, konsumsi elpiji telah mencapai di atas 5 juta ton per tahun untuk tabung ukuran 3 kilogram (kg), 12 kg, dan 50 kg.
Padahal, produksi domestik hanya berkisar 2 juta ton per tahun. Dengan demikian, lebih dari separuh kebutuhan gas domestik masih diimpor.
"Sekarang harga meningkat sampai 917 dolar AS per metrik ton. Atau dirupiahkan ongkosnya Rp10.064 rupiah per kg. Itu dijual hanya 12 kg sekitar Rp5 ribu. Defisit itu 12 kg pertamina sudah diatas 5 juta ton.
Artinya, kata dia, peluang defisit migas tahun 2013 semakin lebar. Kalau tidak diimbangi dengan peningkatan ekspor nonmigas, neraca perdagangan akan terus tertekan, jadi tak boleh lengah.
Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin mengatakan impor minyak dan gas bumi masih menjadi tekanan terbesar dalam neraca perdagangan. Defisit neraca minyak dan gas bumi yang mencapai 1,425 juta dolar AS yang terjadi pada Januari 2013 masih berpeluang berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.
"Neraca perdagangan Indonesia defisit 171 juta dolar AS pada Januari lalu. Ekspor Januari tercatat 15,38 juta dolar AS, sedangkan impor 15,55 juta dolar AS," kata Suryamin dalam keterangan pers, pekan lalu di Jakarta.
Impor nonmigas Januari 2013 sebesar 11,51 juta dolar AS atau turun 3,11 persen dibandingkan Desember 2012.
Sementara impor migas Januari 2013 sebesar 4,04 juta dolar AS atau naik 9,04 persen dibandingkan Desember 2012. Defisit migas tercatat 1,425 juta dolar AS.
Pewarta: Oleh Azis Kurmala
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
