
Jumlah titik api di Sumsel berkurang

Palembang (ANTARA Sumsel) - Jumlah titik api di Sumatera Selatan berdasarkan pemantauan Stasiun Klimatologi Kenten Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) provinsi setempat turun drastis.
"Jumlah titik api di daerah ini terpantau melalui satelit berkisar 5--7 titik, padahal pada 2 Oktober lalu masih terdeteksi 35 titik api," kata Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten BMKG Sumsel, Indra Purnama, di Palembang, Jumat.
Kondisi tersebut diharapkan tidak kembali mengalami peningkatan sehingga beberapa hari ke depan kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau yang sekarang ini masih cukup pekat bisa berangsur hilang, kata dia.
Menurut dia, berkurangnya titik api (hotspot) tersebut karena curah hujan pada masa pancaroba atau peralihan musim kemarau ke musim hujan Oktober ini mulai cukup tinggi.
"Intensitas curah hujan di Kota Palembang dan sebagian besar wilayah Sumsel lainnya pada bulan ini diprakirakan cukup tinggi mencapai 150 mm," ujar dia.
Selain tingginya curah hujan, berkurangnya titik api secara drastis sekarang ini kemungkinan juga dipengaruhi adanya kegiatan teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau hujan buatan yang dilakukan pemerintah provinsi setempat bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak 7 Oktober lalu, kata pejabat Stasiun Klimatologi Kenten itu.
Sebelumnya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Yulizar Dinoto, menyatakan hujan buatan masih perlu dilakukan di wilayah tersebut walaupun hujan alami mulai banyak turun pada bulan Oktober ini.
Kabut asap cukup pekat dampak musim kemarau yang menyelimuti udara Kota Palembang dan beberapa wilayah Sumsel lainnya. Sekarang ini, kata dia, belum hilang sehingga perlu dilakukan hujan buatan agar gangguan terhadap aktivitas dan kesehatan masyarakat tidak semakin parah.
Hujan buatan mulai dilakukan Minggu (7/10) dan rutin dilakukan sampai benar aman menurut BNPB dan BPPT, ujar Yulizar. (ANT/Y009)
Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
