Logo Header Antaranews Sumsel

Harga karet membaik setelah pembatasan ekspor

Selasa, 9 Oktober 2012 17:30 WIB
Image Print
Transaksi karet petani (FOTO ANTARA)
Harga karet di Sumatera Selatan membaik setelah perjanjian pembatasan volume ekspor oleh tiga negara meski belum setinggi tahun 2011, kata Sekretaris Gabungan Pengusaha Karet Indonesia Sumsel H Awie Aman.

Palembang, 9/10 (ANTARA) - Harga karet di Sumatera Selatan membaik setelah perjanjian pembatasan volume ekspor oleh tiga negara meski belum setinggi tahun 2011, kata Sekretaris Gabungan Pengusaha Karet Indonesia Sumsel H Awie Aman.

"Memang terjadi perbaikan harga setelah perjanjian tiga negara yakni Indonesia, Thailand dan Malaysia, tapi belum sepenuhnya berpengaruh karena pada hari ini kembali bergerak turun," kata Sekretaris Gabungan Pengusaha Karet Indonesia Sumsel Awie Aman ketika ditanya dampak perjanjian pembatasan volume ekspor, di Palembang, Selasa.

Harga karet bongkar pada tingkat petani untuk kadar 70 persen perkilogram dalam satu pekan terakhir mengalami fluktuasi yakni Rp19.777 (1/10), Rp20.325 (2/10), Rp21.203 (3/10), Rp21.004 (4/10), Rp21.042 (5/10), Rp20.882 (8/10), dan Rp19.933 per kilogram (9/10).

Menurutnya, perbaikan harga karet sejak awal Oktober ini tidak sepenuhnya oleh pembatasan ekspor di tiga negara itu.

"Sumber lain mengatakan sebagai akibat pelonggaran moneter di Amerika Serikat sehingga industri yang sempat stagnasi akibat krisis ekonomi di Eropa kembali bergerak, karena menerima kucuran kredit," ujarnya.

Kebijakan itu berdampak positif bagi Indonesia mengingat Amerika Serikat sebagai tujuan utama ekspor komoditas karet.

"Sumsel sendiri melakukan pembatasan ekspor dengan hanya mengirimkan 20 ribu ton perbulan terhitung Oktober 2012. Kebijakan ini berlaku hingga Desember dan akan ditinjau kembali Gapkindo Pusat untuk tiga bulan berikutnya," ujarnya.

Target ekspor Sumsel pada tahun 2012 sebesar 950.000 ton, namun dengan perjanjian tiga negara itu diperkirakan hanya mencapai 900.000 ton.

"Sebenarnya pembatasan ekspor karet itu seiring dengan kondisi cuaca di Sumsel yang sedang dilanda musim kemarau. Produksi karet memang menurun dengan kisaran 20-30 persen," katanya.

Sementara, Ketua Koperasi Unit Desa Serasan Jaya, Gelumbang, Muara Enim, Ahmad Mantap, mengatakan harga karet pada tingkat petani mengalami kenaikan pada lelang per 1 Oktober 2012.

"Saat ini harga Rp15.000 perkilogram untuk pengeringan selama dua pekan, sementara pada lelang di pertengahan bulan September hanya berkisar Rp13.000 perkilogram," katanya.

Ia menyatakan, produksi karet mengalami penurunan akibat musim kemarau.

"Saat ini berkurang hingga 40 persen karena getah karet sedikit akibat kemarau. Karena barang sedikit jadi harga bergerak naik kembali," katanya.(Doly)



Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026