
Menggugah investor pulau perbatasan

Manado (ANTARA Sumsel) - Investasi di pulau perbatasan, masih menjadi barang mahal bagi investor, betapa tidak hampir tidak terdengar adanya realisasi penanaman modal di kawasan terpencil tersebut dalam beberapa tahun terakhir ini.
Padahal penanaman modal sangat dibutuhkan guna mendorong kawasan perbatasan tersebut dapat berdiri sejajar dengan daerah lainnya dimana investor telah menaruh minatnya.
Di tengah sepinya penanam modal melirik kawasan pulau perbatasan, maka Bank Indonesia Sulut menancapkan perannya dengan bantuan benih dan perluasan pisang abaka di Talaud.
"Kami datang ke Talaud dengan dana Corporate Social Responsibilty (CSR) yang serba terbatas, karena itu jangan dilihat dari nilai investasinya, tetapi yang paling penting kepedulian terhadap pengembangan daerah perbatasan," kata Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulut, Suhaedi.
Suhaedi mengaku, dana CSR tidak bisa dikategorikan sebagai investasi, selain nilainya yang relatif kecil, juga karena tujuan utamanya sebagai pendorong saja.
"Peran BI yang diperlihatkan di Talaud lebih sebagai perangsang saja, artinya siapa tahu dapat menggugah investor untuk mau tanamkan modalnya di pulau perbatasan dengan negara tetangga, Filipina," kata Suhaedi.
Bantuan BI untuk pemberdayaan perkebunan pisang abaka, berupa bantuan pengadaan benih komoditas yang sangat dibutuhkan sebagai bahan baku pembuatan uang kertas.
Dalam rancangan BI, kepedulian ini hanya untuk membantu pemerintah daerah setempat agar dapat mendorong perluasan pisang abaka hingga mampu mencapai target perluasan 5.000 hektare (Ha).
Dengan perluasan hingga 5.000 Ha, maka diharapkan komoditas tersebut dapat memenuhi kebutuhan pasar termasuk Amerika Serikat dan negara lainnya sebagai bahan baku pembuatan uang kertas dolar.
Dari 5.000 Ha tersebut, yang direncanakan dikembangkan melalui fasilitas pembiayaan BI yakni hanya sekitar 400 Ha, selebihnya diharapkan dapat diupayakan oleh pemerintah daerah setempat.
"Pembiayaan hanya 400 Ha, karena BI melalui dana CSR tersebut juga memfasilitasi pemberdayaan sektor pertanian lain diantaranya pengembangan tanaman kentang di kawasan Modoinding, Modayag dan Passi di tiga kabupaten yakni Minahasa Selatan, Bolaang Mongondow Timur dan Bolaang Mongondow.
Bila ditelisik, apa yang dilakukan BI tersebut hanya sebatas peningkatan kapasitas produksi pisang abaka sehingga mampu penuhi kebutuhan bahan baku.
Bahan baku pisang abaka tersebut, tidak akan ada artinya bila tidak ada perusahaan yang menjadi penanam modal guna membangun industri pengolahan bahan baku menjadi kertas uang.
Proses Industrialisasi
Asisten Direktur Kantor Perwakilan BI Sulut, Eko Siswantoro mengatakan, bahan baku pisang tersebut harus diolah lebih lanjut melalui proses industrialisasi, karena itu diharapkan ada investor yang tertarik membangun industri pemintalan kertas uang.
"BI pada dasarnya hanya mendorong pemberdayaan sehingga nantinya tersedia lahan komoditas abaka yang cukup luas, yang akan menjadi penyuplai industri pengolahan uang kertas," kata Eko.
Pihaknya, kata Eko sudah melakukan lobi dengan beberapa investor, mereka pada umumnya merasa tertarik untuk turut serta dalam pengembangan pisang abaka.
"Namun janji mereka belum bisa diharapkan, karena belum satupun diantara mereka yang telah mewujudkan keinginan mereka menjadi kenyataan," katanya.
Tetapi ada secerah harapan, bila pemerintah daerah setempat menunjukkan kepedulian yang besar terhadap pengembangan pisang abaka, bukan tidak mungkin, investasi tersebut jadi kenyataan.
Niat tersebut bukan tanpa alasan, sebab ternyata berdasarkan data yang ada kebutuhan uang kertas oleh sejumlah negara sangat tinggi, sementara pasokannya belum sebanyak yang diharapkan.
Kebutuhan kertas uang di dunia, kata Eko sangat tinggi sementara yang mampu disiapkan oleh sejumlah negara penghasil bahan baku kertas tidak mencapai separuh dari jumlah tersebut, karena itu BI tertantang untuk membantu pembiayaannya.
BI tidak sendirian, tetapi bersama dengan perbankan yang ada di daerah ini yang merasa terpanggil membangun daerah ini, guna membantu pembiayaannya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan(Disperindag) Sulut, Sanny Parengkuan mengatakan, investor yang akan masuk ke suatu kawasan akan mempertimbangkan berbagai faktor, salah satunya ketersediaan bahan baku.
"Bahan baku yang cukup tersedia untuk jangka waktu yang lama, apalagi bisa diperbaharui secara terus menerus, bisa menarik investor untuk mau tanamkan modalnya," kata Sanny.
Tetapi ketersediaan bahan baku, hanyalah salah satu dari banyak faktor yang bisa mendorong pertumbuhan investasi.
Masih ada faktor lain yang cukup penting lainnya, diantaranya kenyamanan berinvestasi, dan untuk soal ini maka peran pemerintah daerah dengan menciptakan suasana yang kondusif sangat ditunggu investor.
Lepas dari hal tersebut, apa yang diperlihatkan BI dengan ikut serta mendorong dan memfasilitasi pemberdayaan sektor yang menjadi unggulan di suatu daerah perlu mendapat respon positif.
Sebab fungsi BI yang sebenarnya, lebih terarah pada stabilisasi moneter, inflasi serta perbankan, tetapi pada kenyataannya meluas dengan ikut serta secara aktif memberdayakan sisi produksi.
Apa yang dilakukan BI ini diharapkan dapat menggugah investor untuk mau tanamkan modalnya membangun industri pengolahan pisang abaka menjadi bahan baku kertas, serta investasi sektor lainnya yang potensial di kawasan perbatasan, yang sebenarnya kaya sumber daya alam.
Kawasan perbatasan selain penting untuk dikembangkan karena ada potensi di sana, tetapi juga yang teramat penting, daerah perbatasan merupakan potret Indonesia di mata negara tetangga.
Karena itu, kepedulian yang ditunjukkan oleh BI, diharapkan bisa memicu semangat kebangsaan anak bangsa terutama mereka yang memiliki kapital cukup untuk turut membangun daerah perbatasan.
(ANT-G004/Z003)
Pewarta: Guido Merung
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
