
Fuad Baradja dalami metode totok rokok

Surabaya (ANTARA Sumsel) - Mantan artis sinetron Fuad Baradja mendalami metode totok rokok, yaitu terapi untuk menghentikan seseorang berhenti kecanduan merokok.
"Terapi ini hanya bagi mereka para perokok yang sangat ingin berhenti. Kalau tidak mau berhenti namun dipaksakan, hasilnya akan sia-sia karena bukan dari dalam hati," ujarnya di sela menjadi pembicara dalam diskusi anti rokok di Surabaya, Selasa.
Ia menjelaskan, pada prinsipnya metode ini menggunakan "Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT)". Metode merupakan gabungan antara aspek kerohanian dengan "acupoint".
Dalam praktiknya, pasien tidak dipijat seperti pada umumnya, namun hanya diketuk beberapa kali di sembilan bagian totok. Selain itu juga ada doa yang diucapkan pasien dan meminta kepada Allah SWT untuk disembuhkan.
"Ini hanya doa lho, bukan mantera atau kalimat seperti sulap. Intinya harus ada niat dan ikhlas meminta supaya disembuhkan," jelas pemeran Sang Papa Jun dalam Sinetron Jin dan Jun tersebut.
Menurut dia, pasien akan merasakan efeknya setelah menjalani terapi 1-2 kali. Hanya saja, jika hanya dalam sekali saja sudah sembuh maka tidak perlu ada terapi lagi.
"Saya rajin menghubungi pasien dan menanyakan perkembangannya. Tidak sedikit yang mengaku cukup hanya sekali saja terapi dan sudah berhenti dari rokok," kata pria kelahiran Surabaya tersebut.
Sementara itu, dalam diskusi, Fuad yang juga aktivis Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3) mengingatkan dan meminta agar mulai anak-anak, remaja dan wanita atau bahkan pria dewasa untuk mencoba rokok.
Bahkan ia melihat saat ini tidak sedikit produsen rokok memilih segmen remaja. Alasannya, remaja dipilih karena menginginkan ada regenerasi dari perokok lama, sehingga membutuhkan konsumen baru untuk memperluas pasar.
Berdasarkan catatannya, jumlah perokok di Indonesia mencapai 65 juta orang dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia. Negeri ini berada urutan ketiga perokok terbesar dunia di bawah China dan India.
"Namun jika dilihat dari rasio jumlah perokok terhadap keseluruhan jumlah penduduk, Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia," ucap pria yang dibesarkan di kawasan Masjid Sunan Ampel tersebut.
Pihaknya berharap untuk menanggulangi peningkatan jumlah perokok, dibutuhkan komitmen dari pemerintah. Diantaranya dengan peningkatan cukai rokok, pelarangan iklan rokok, pemberlakuan aturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) serta peringatan kesehatan bergambar di kemasan rokok.
(ANT-pso-165/E001)
Pewarta:
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026
