Logo Header Antaranews Sumsel

Kampung iklim upaya turunkan emisi

Minggu, 12 Agustus 2012 08:28 WIB
Image Print
Ilustrasi - Salah satu kawasan pemukiman penduduk di Palembang. (Foto Antarasumsel.com/Yudi Abdullah)
....Dalam kampung iklim akan dilakukan penanaman beraneka jenis pohon pelindung dan buah-buahan serta kegiatan pengolahan sampah....

Palembang (ANTARA Sumsel) - Musim kemarau tahun 2012 ini terasa semakin panas, berdasarkan prakiraan cuaca Stasiun Klimatologi Kenten Palembang, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan.

Temperatur suhu rata-rata 26 - 27,5 derajat celcius dan temperatur maksimal 32 - 35 derajat celcius.

Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten BMKG Sumsel Indra Purnama mengatakan, suhu udara sekarang ini cenderung panas karena intensitas curah hujan rendah berkisar 20 - 50 mm.

Kondisi bumi sekarang ini terasa semakin panas salah satu penyebabnya meningkatnya emisi Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfir.

Perubahan iklim sekarang ini seperti kenaikan suhu dan permukaan air laut serta perubahan curah hujan merupakan suatu masalah dan tantangan bagi kehidupan manusia saat ini dan masa mendatang.

Masalah tersebut tidak boleh dibiarkan terus ke arah semakin parah, karena bisa mengancam keberlangsungan hidup mahluk di bumi ini.

Melihat perubahan iklim yang semakin tidak menentu, mendorong Kementerian Lingkungan Hidup berupaya membuat program yang bisa mencegah terjadinya masalah kerusakan llingkungan yang buruk.

Emisi Gas Rumah Kaca di Indonesia diperdiksi pada 2020 mencapai 2,95 Gt CO2e atau 40 persen lebih tinggi dari tahun 2005, untuk itu perlu dilakukan berbagai upaya menekan angka peningkatan emisi tersebut.

Bentuk Kampung Iklim
Menteri Negara Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya ketika menghadiri acara seminar lingkungan di Palembang, Kamis (9/8) mengatakan, prediksi peningkatan emisi GRK pada 2020 yang cukup tinggi perlu diantispasi.

Untuk mengurangi emisi GRK dan mengatasi isu perubahan iklim, Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2012 ini akan membentuk 1.000 kampung iklim di seluruh Indonesia, khusus di Palembang rencananya program itu akan dilaksanakan pada September mendatang.

Kampung iklim ini modelnya hampir sama dengan kampung ramah lingkungan yang pernah dibentuk pada tahun sebelumnya.

Dalam kampung iklim akan dilakukan penanaman beraneka jenis pohon pelindung dan buah-buahan serta ada kegiatan pengolahan sampah yang diarahkan bisa menghasilkan pupuk organik untuk mendukung kegiatan penghijauan itu, kata Meneg LH itu.

Untuk membentuk kampung iklim tersebut, pihaknya akan menjadi motor penggerak saja, sedangkan pengelolaannya dilakukan secara swadaya masyarakat.

Dengan dilibatkannya secara penuh masyarakat di sekitar lokasi dibentuknya kampung iklim, diharapkan program pelestarian lingkungan itu bisa berjalan sesuai harapan pemerintah dan masyarakat.

Menteri LH menjelaskan, tren indeks kualitas lingkungan di sejumlah daerah dan Indonesia secara umum mengalami peningkatan.

"Tahun 2009 indeks kualitas lingkungan di Indonesia kurang begitu baik berada pada poin 57, kini mengalami peningkatan pada poin 61 dari skala 100," ujar menteri.

Peningkatan poin indeks kualitas lingkungan tersebut menunjukkan bangsa Indonesia sangat peduli terhadap pelestarian lingkungan, dan memahami betapa besarnya kerugian yang ditimbulkan dari dampak kerusakan lingkungan, kata Balthasar Kambuaya.

Pemerintah Sumatera Selatan dan jajaran pemerintah kabupaten/kota menyiapkan kebijakan prioritas bidang kehutanan sebagai wujud partisipasi dalam menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) secara nasional.

Emisi GRK di Indonesia diprediksi pada 2020 mencapai 2,95 Gt CO2e atau 40 persen lebih tinggi dari tahun 2005, kondisi ini perlu diantispasi dan jangan dibiarkan terus meningkat , kata Staf Khusus Gubernur Sumsel Bidang Perubahan Iklim Dr Najib Asmani pada Workshop ITTO Project REDD Spd di Palembang, 17 Juli 2012 lalu

Menurut dia, kebijakan prioritas bidang kehutanan untuk menurunkan emisi GRK antara lain merehabilitasi, melindungi dan mengamankan hutan yang ada di Sumsel yang kini luasnya mencapai 3,7 hektare.

Kemudian merehabilitasi dan merestorasi lahan gambut, integrasi tata ruang, serta menyiapkan Rencana Aksi Daerah penurunan emisi Gas Rumah Kaca (RAD GRK) yang diperkirakan selesai September 2012.

Upaya tersebut dikenal dengan kegiatan pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan atau Reducing Emission from Deforestation and Degradation (REDD+), kata Staf Khusus Gubernur Sumsel Bidang Perubahan Iklim itu

Melalui kebijakan prioritas bidang kehutanan dan RAD GRK Sumsel atau REDD+ itu, diharapkan dapat menurunkan laju deforestasi dan degradasi hutan sesuai target.

Selain itu juga diharapkan dapat meningkatkan konservasi dan cadangan karbon yang pada akhirnya mampu menurunkan emisi GRK sesuai komitmen pemerintah secara bertahap sebesar 26 persen hingga 41 persen pada 2020, kata Staf Khusus Gubernur Sumsel Bidang Perubahan Iklim itu menambahkan. (ANT/Y009)



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026