Logo Header Antaranews Sumsel

Warga bantaran sungai mengharap air gratis

Minggu, 20 Mei 2012 21:26 WIB
Image Print
Salah satu potret kawasan kumuh di Palembang (foto antarasumsel.com/Nila Fua'di)
....Untuk merealisasikan "Palembang without slum" pihaknya tentu tidak bisa berjalan sendiri sehingga perlu bantuan pemerintah pusat maupun pihak lain....

Palembang (ANTARA Sumsel) - Menyusuri Sungai Kedukan Bukit di kawasan 35 Ilir Kecamatan Ilir Barat II Palembang saat ini debit air mulai menurun dan dipenuhi sampah, tetapi sejumlah warga masih memanfaatkan untuk mandi dan buang air besar.

Air yang berwarna hijau kecoklatan tersebut dimanfaatkan warga bantaran sungai karena tidak ada alternatif air gratis terdekat untuk mereka gunakan mandi, cuci dan kakus (MCK).

Sebagian besar pengguna air sungai itu warga yang mengontrak di bawah rumah panggung jumlahnya mencapai puluhan kepala keluarga.

Bukan hanya menggunakan air sungai yang kotor untuk mandi, bahkan berwudhu pun warga di sana memanfaatkan air drainase itu.

Wati (27) warga di bataran Sungai Kedukan Bukit Palembang, Minggu ketika ditemui mengaku terpaksa memanfaatkan air kotor karena memang mereka tidak memiliki sumber lain yang dapat diperoleh secara gratis.

"Kami ini mengontrak di bawah rumah dan kalau harus beli air untuk MCK terasa agak berat mampu, karena belum sebanding dengan penghasilan sehari-hari," kata dia.

Ia menjelaskan kalau musim kemarau sungai itu kering sehingga mereka terpaksa ke Sungai Musi untuk mandi cuci dan kakus.

Meskipun jarak dari tempat tinggal mereka ke Sungai Musi cukup jauh sekitar 300 meter, tetapi saat kemarau hanya sungai yang membelah kota pempek itu sumber air utama.

Ia mengatakan air untuk konsumsi mereka beli Rp2.500 per galon. Satu galon air biasanya diirit agar tahan beberapa hari untuk minum dan memasak.

Lain lagi dengan Marhamah (40) warga RT 42 Kelurahan 5 Ulu Kecamatan Seberang Ulu I mengaku sejak puluhan tahun bermukim di kawasan tersebut, sampai kini belum mendapat aliran air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Musi setempat.

Puluhan tahun pula kami memanfaatkan air rawa dan Sungai Kedukan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bukan hanya MCK.

Air rawa yang berwarna coklat itu diangkut langsung ke penampungan, kemudian dicampur tawas semacam pemutih berbentuk bongkahan bening agar menjadi jernih.

Dia menjelaskan, meskipun telah dijernihkan dengan tawas dan saringan khusus, tetapi karena berasal dari air rawa tetap tidak bisa bening.

Mengambil air rawa itu bisa dilakukan saat musim hujan, ketika kering biasanya warga mencari air ke sungai-sungai atau danau buatan yang debit airnya masih tinggi, seperti Sungai Musi dan Danau OPI.

Selain memanfaatkan air rawa warga RT 41, 42, 43, 45, 46 dan 47 hingga kini belum menikmati air bersih mandi cuci dan kakus di anak sungai yang melintas tak jauh dari pemukiman padat serta kumuh itu.

Untuk sampai ke kawasan itu, bisa melalui perkampungan padat dengan berjalan kaki.

Jalan setapak yang lebarnya satu meter menjadi fasilitas untuk tiba di Lorong Terusan I itu.

Tapi, ketika musim hujan biasanya warga memanfaatkan perahu kayu sebagai sarana transportasi andalan.

Prilaku Urban
Sebagian orang menilai masyarakat menggunakan air kotor untuk MCK merupakan prilaku urban yang memang sulit dihilangkan di kota besar.

Direktur Teknik PDAM Tirta Musi Palembang, Stephanus mengatakan memang masih ada warga yang enggan menggunakan air bersih untuk kegiatan MCK mereka.

Hal itu, bisa jadi telah membudidaya bagi warga yang berprilaku urban.

Dia mencontohkan, Kecamatan Ilir Barat II merupakan salah satu dari 16 kecamatan di Palembang yang setiap jengkal daerahnya telah tersedia jaringan air bersih.

Namun, sebagian warga yang bermukim dekat Sungai Kedukan Bukit memilih air sungai untuk MCK.

Berbeda kondisinya dengan warga yang bermukim di Lorong Terusan I Kelurahan 5 Ulu Kecamatan Seberang Ulu I memang saat ini masih dalam proses penyelesaian jaringan air bersih.

Pemasangan jaringan saluran air bersih ke rumah penduduk tahun ini ditargetkan selesai sehingga warga dapat menikmati air dari PDAM, kata dia.

Ia menambahkan, untuk meringankan beban masyarakat tidak mampu pemkot setempat telah bekerja sama dengan Ausaid memberikan subsidi kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), dimana pemasangan saluran air bersih hanya dibebankan Rp350 ribu dari normalnya Rp1,100 juta.

Sebanyak 6.000 warga MBR telah menikmati subsidi pemasangan baru saluran air bersih itu.

Program tersebut diharapkan segera berlanjut yang ditargetkan sampai akhir tahun 2014 terjadi penambahan 12 ribu pasang baru MBR.

Menurut dia, subsidi pemasangan baru itu menjadi salah satu langkah memberikan kemudahan bagi MBR menikmati air bersih sama seperti warga lain.

Dengan demikian tidak ada alasan lagi bagi warga tidak menikmati air bersih karena mahalnya tarif pemasangan saluran air PDAM, katanya.

Pembangunan kawasan kumuh
Wali Kota Palembang, H Eddy Santana Putra, sebelumnya mengatakan bahwa pembangunan kawasan kumuh menjadi pemukiman dengan lingkungan sehat telah dilaksanakan Pemkot setempat secara bertahap.

Menurut dia, kawasan 3-4 Ulu sebelumnya yang tidak jauh dari bantaran Sungai Musi adalah salah satu dari tujuh lokasi kumuh di Kota bekas kerajaan Sriwijaya ini.

Sejak beberapa tahun ini, perkampungan kumuh yang masuk wilayah Kecamatan Seberang Ulu I itu mulai tampak menjadi pemukiman layak dengan lingkungan sehat.

Menurut dia, Pemkot bekerja sama dengan pemerintah pusat membangun 140 unit rumah bagi MBR tipe 36 di Lorong Prajurit Nangyu dan Jaya Laksana.

Program pembangunan rumah dengan lingkungan sehat dan fasilitas pendukung cukup itu dilaksanakan di tengah perkampungan sebagai bagian dari revitalisasi kawasan kumuh.

Proyek menyediakan rumah dan lingkungan sehat bagi MBR juga dilaksanakan dengan membangun rumah susun sewa dan pengembangan kawasan baru yang didedikasikan untuk warga kota setempat.

Wali Kota mengatakan, pihaknya menargetkan tahun 2018 Palembang menjadi kota "without slum" atau tanpa kawasan kumuh.

Sampai kini proyek revitalisasi kawasan kumuh terus digalakan.

Ia menjelaskan, untuk merealisasikan "Palembang without slum" pihaknya tentu tidak bisa berjalan sendiri sehingga perlu bantuan pemerintah pusat maupun pihak lain.

Satu hal yang paling penting adalah partisipasi masyarakat mendukung Palembang bebas kawasan kumuh.

Eddy menegaskan, program tanpa kawasan kumuh itu akan terealisasi tahun 2018 seiring terus meningkatnya progres revitalisasi.

Bukan hanya perkampungan kumuh tetapi revitalisasi Sungai Musi dan anak sungai juga menjadi kegiatan yang secara konsisten mereka laksanakan, dengan harapan warganya dapat menikmati air bersih dari fasilitas PDAM, suasana kota akan semakin nyaman, sehat, menarik dan menjadi daya tarik bagi para wisatawan berkunjung ke kota tersebut. (Nila*M033)



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026