
Harga karet ekspor Sumsel naik tipis

Palembang, (ANTARA News) - Harga karet ekspor kualitas 90 persen di Sumatera Selatan hingga Senin tercatat Rp26.100 per kilogram, atau naik tipis dibandingkan sebelumnya kisaran Rp26.013 per kg.
Sekretaris Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, H Awie Aman, di Palembang, mengatakan bahwa harga karet ekspor dalam beberapa hari terakhir ini cenderung terus bergerak turun, padahal awal pekan lalu masih kisaran Rp28.849 per kg.
Dikatakannya, harga karet tersebut pada 7 November lalu kisaran Rp28.916 per kg, sehari kemudian turun menjadi Rp28.849, selanjutnya turun Rp27.250, bergerak lagi Rp26.013 dan hingga Senin naik tipis menjadi Rp16.100 per kg.
Menurut dia, harga jual karet di Sumsel dalam sepekan terakhir cenderung bergerak turun, tentunya akan berpengaruh terhadap pendapatan para petani, karena para pedagang pengumpul membeli akan menyesuaikan pula.
Pergerakan harga karet kualitas ekspor di tingkat pengusaha industri pengolahan komoditas tersebut di Sumsel, akan sangat berpengaruh terhadap harga di tingkat petani, katanya lagi.
Mengenai volume ekspor karet Sumsel, menurut dia, rata-rata kisaran antara 65 ribu ton hingga 70 ribu ton per bulan.
Sementara data dihimpun melalui Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan menyebutkan, hasil karet hingga saat ini merupakan salah satu komoditas penyumbang devisa ekspor nonmigas terbesar provinsi tersebut, selain batu bara dan minyak sawit mentah (CPO).
Nilai ekspor karet provinsi tersebut berdasarkan data BPS Sumatera Selatan, periode Januari-Agustus 2011 tercatat menghasilkan devisa 2,787 miliar dolar Amerika Serikat, atau naik dibandingkan kondisi periode bulan yang sama tahun 2010 hanya 1,510 miliar dolar AS.
Masih menurut data, dari total 3,210 miliar dolar AS nilai ekspor nonmigas Sumsel periode Januari-Agustus 2011 itu, karet menjadi komoditas penyumbang terbesar mencapai 2,787 miliar dolar, disusul batu bara 89,877 juta dolar, CPO menempati peringkat ketiga tercatat 53,737 juta dolar.
Mengenai hasil karet di Sumsel, berdasarkan data Dinas Perkebunan provinsi tersebut, hingga saat ini diperoleh dari luas total hampir mencapai satu juta hektare tersebar pada sejumlah daerah penghasil, seperti di Kabupaten Banyuasin, Musibanyuasin, Muaraenim, Ogan Komering Ulu Timur, Lahat, Pagaralam, Ogan Komering Ilir dan termasuk di wilayah Kota Prabumulih.
Berdasarkan data tersebut, perkebunan karet di Sumsel memang jauh lebih luas dibandingkan dengan areal tanaman komoditas lain seperti kelapa sawit yang hanya total kisaran kurang dari 600 ribu hektare.
Sejumlah daerah sentra penghasil karet termasuk komoditas kelapa sawit, dalam beberapa tahun terakhir petani bergairah membudidayakan kedua jenis tanaman itu, karena harga jualnya di pasaran lebih menguntungkan dibanding jenis tanaman lain seperti padi dan jagung.
Bahkan menurut pengakuan sejumlah petani, sejak beberapa tahun terakhir sejumlah warga yang selama ini bekerja di Palembang, setelah pensiun kembali ke desa menggarap lahan dengan menanam karet atau kelapa sawit.
"Sejumlah mantan PNS tersebut setelah pensiun kembali lagi ke desa menggarap lahan peninggalan orang tuanya," kata Robin (47) warga Desa Pagargunung Lubai, Kabupaten Muaraenim, ketika ditemui saat berkunnjung ke rumah keluarganya di Palembang, Senin.
Bahkan, kata dia, beberapa keluarga dekatnya yang sekarang ini masih bekerja di Palembang, sejak beberapa tahun lalu mulai menggarap lahan di desa tersebut.
Sementara ini, lahan yang sudah ditanami komoditas karet itu dikelola oleh keluarganya sendiri di desa, sedangkan pemiliknya hanya sekali- sekali saja pulang kampung melihat perkembangan tanaman tersebut. (M033)
Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
