PLN berkomitmen ikut percepatan transisi energi
Kamis, 8 Agustus 2024 16:59 WIB
Executive Vice President (EVP) Perencanaan Sistem Ketenagalistrikan PLN Warsono (kanan) dalam Katadata Sustainability for The Future Economy (SAFE) 2024 di Jakarta, Kamis (8/8/2024). ANTARA/HO-Katadata
Jakarta (ANTARA) - PT PLN (Persero) berkomitmen untuk senantiasa ikut dalam upaya percepatan transisi energi di Indonesia dan saat ini tengah menyusun rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) terbaru.
Executive Vice President (EVP) Perencanaan Sistem Ketenagalistrikan PLN Warsono dalam Katadata Sustainability for The Future Economy (SAFE) 2024 di Jakarta, Kamis, menyatakan draf terbaru akan merevisi RUPTL 2021-2030.
"Tentu, ini berangkat dari komitmen PLN untuk mempercepat transisi energi demi mencapai nol emisi bersih," kata Warsono dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Dalam RUPTL teranyar, PLN membidik penambahan porsi pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi 75 persen dari sebelumnya 51 persen. Adapun, sekitar 25 persen lainnya berasal dari pembangkit berbasis gas.
Dia menyebut RUPL terbaru ini akan menjadi yang terhijau sepanjang sejarah perseroan. Menurut dia, PLN pun tengah menyiapkan strategi transisi energi dengan mengidentifikasi berbagai potensi EBT di dalam negeri.
Misalnya, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang dapat menjadi base load renewable energy. Rencananya, PLN akan membangun PLTA dengan kapasitas sebesar 13-14 gigawatt (GW).
PLN akan membangun pula pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), serta pembangkit listrik tenaga bayu atau angin dengan potensi kapasitas masing-masing sebesar 5 GW.
"Ke depan, kami membangun EBT itu sesuai dengan resources yang ada di Indonesia. Semua EBT kami optimalkan dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan," ujar Warsono.
Meski begitu, Warsono menyatakan bahwa PLN telah mengidentifikasi sejumlah tantangan untuk menyediakan energi hijau. Tantangan mismatch antara lokasi suplai EBT dengan wilayah permintaan pun bisa jadi contoh.
Misalnya, PLN telah memetakan potensi suplai energi dari pembangkit geothermal mayoritas berasal dari Sumatera dan Kalimantan. Adapun, permintaan energi terbesar datang dari Jawa.
"Karena itu, kami akan membangun teknologi green enabler untuk sistem transmisi yang besar dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Batam, Bali, dan seterusnya, sehingga nanti renewable energy itu bisa kita maksimalkan,"kata Warsono.
Selain itu, tantangan lain datang dari pendanaan untuk mendukung pembangunan pembangkit hijau. Menurut Warsono, ke depan PLN akan lebih banyak memanfaatkan pendanaan dari swasta.
Dia menambahkan PLN akan memanfaatkan pula pendanaan dari global, salah satunya melalui skema Just Energy Transition Partnership (JETP).
Menurut dia, PLN bersama pemerintah siap bekerja sama untuk segera melaksanakan proyek transisi energi yang masuk dalam skema tersebut.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: PLN berkomitmen ikut percepatan transisi energi
Executive Vice President (EVP) Perencanaan Sistem Ketenagalistrikan PLN Warsono dalam Katadata Sustainability for The Future Economy (SAFE) 2024 di Jakarta, Kamis, menyatakan draf terbaru akan merevisi RUPTL 2021-2030.
"Tentu, ini berangkat dari komitmen PLN untuk mempercepat transisi energi demi mencapai nol emisi bersih," kata Warsono dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Dalam RUPTL teranyar, PLN membidik penambahan porsi pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi 75 persen dari sebelumnya 51 persen. Adapun, sekitar 25 persen lainnya berasal dari pembangkit berbasis gas.
Dia menyebut RUPL terbaru ini akan menjadi yang terhijau sepanjang sejarah perseroan. Menurut dia, PLN pun tengah menyiapkan strategi transisi energi dengan mengidentifikasi berbagai potensi EBT di dalam negeri.
Misalnya, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang dapat menjadi base load renewable energy. Rencananya, PLN akan membangun PLTA dengan kapasitas sebesar 13-14 gigawatt (GW).
PLN akan membangun pula pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), serta pembangkit listrik tenaga bayu atau angin dengan potensi kapasitas masing-masing sebesar 5 GW.
"Ke depan, kami membangun EBT itu sesuai dengan resources yang ada di Indonesia. Semua EBT kami optimalkan dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan," ujar Warsono.
Meski begitu, Warsono menyatakan bahwa PLN telah mengidentifikasi sejumlah tantangan untuk menyediakan energi hijau. Tantangan mismatch antara lokasi suplai EBT dengan wilayah permintaan pun bisa jadi contoh.
Misalnya, PLN telah memetakan potensi suplai energi dari pembangkit geothermal mayoritas berasal dari Sumatera dan Kalimantan. Adapun, permintaan energi terbesar datang dari Jawa.
"Karena itu, kami akan membangun teknologi green enabler untuk sistem transmisi yang besar dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Batam, Bali, dan seterusnya, sehingga nanti renewable energy itu bisa kita maksimalkan,"kata Warsono.
Selain itu, tantangan lain datang dari pendanaan untuk mendukung pembangunan pembangkit hijau. Menurut Warsono, ke depan PLN akan lebih banyak memanfaatkan pendanaan dari swasta.
Dia menambahkan PLN akan memanfaatkan pula pendanaan dari global, salah satunya melalui skema Just Energy Transition Partnership (JETP).
Menurut dia, PLN bersama pemerintah siap bekerja sama untuk segera melaksanakan proyek transisi energi yang masuk dalam skema tersebut.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: PLN berkomitmen ikut percepatan transisi energi
Pewarta : Ahmad Wijaya
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Produksi Minyak PEP Limau Field melejit 5.102 BOPD, perkuat pasokan energi nasional
06 March 2026 11:33 WIB
Pertamina Patra Niaga salurkan Biosolar B40 Performance ke industri Sumbagsel
26 January 2026 20:39 WIB
PHR bersinergi dengan Pemprov dan Polda Sumsel dukung ketahanan energi nasional
12 January 2026 10:39 WIB
PHE Ogan Komering Sumsel edukasi mahasiswa Universitas Baturaja tentang industri migas
10 January 2026 15:11 WIB
Produksi migas Pertamina EP Prabumulih Field lampaui target 124 persen, dorong kemandirian energi nasional
03 January 2026 10:57 WIB
Pertamina ajak masyarakat jaga objek vital nasional demi kemandirian energi Indonesia
29 December 2025 11:42 WIB