Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Produsen Air Minum Kemasan Nasional (Asparminas) memproyeksi penjualan galon air minum berbahan Polietilena Tereftalat (PET) akan meningkat menyusul rencana peralihan galon air minum berbahan polikarbonat yang berisiko Bisfenol A (BPA).

Sekretaris Jenderal Asparminas Eko Susilo dalam keterangan di Jakarta, Jumat, mengungkapkan pengenalan dan penggantian galon guna ulang PET yang disebut lebih aman dan bebas senyawa kimia itu sudah sukses dilakukan di Manado (Sulawesi Utara) dan Bali, dan diharapkan bisa meluas ke wilayah lain di seluruh Indonesia.

“Kami mendengar market leader (pemimpin pasar) industri telah meminta sejumlah supplier (pemasok) untuk menyiapkan instalasi mesin produksi galon yang bisa mendukung rencana shifting (peralihan) dari galon polikarbonat yang berisiko BPA ke galon PET yang lebih aman, sehat dan bebas senyawa kimia berbahaya tersebut,” ungkapnya.

Eko menilai rencana peralihan oleh pemimpin pasar dipastikan akan mengubah lanskap bisnis air minum dalam kemasan (AMDK) di dalam negeri yang mayoritas mengedarkan galon guna ulang polikarbonat di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Bisfenol A atau BPA adalah senyawa kimia yang dapat memicu kanker, gangguan hormonal dan kesuburan pada pria dan wanita, serta gangguan tumbuh kembang janin dan anak.

Kendati jamak digunakan sebagai bahan baku produksi galon guna ulang, senyawa tersebut diketahui mudah luruh dari kemasan galon dan rawan terminum oleh konsumen hingga ke level yang melebihi ambang batas aman.


Lebih lanjut, Eko mengemukakan pemimpin pasar industri AMDK awalnya memperkenalkan galon guna ulang berbahan PET di Manado sekitar empat atau tahun yang lalu.Kehadiran produk tersebut di Manado, mudah dikenali dari fisik galon yang terlihat lebih bening dan segar, berbarengan dengan penarikan (recall) diam-diam galon berbahan polikarbonat yang merajai pasar setempat. Kemasan galon polikarbonat mudah dikenali dari tampilan fisiknya yang terlihat keruh dan buram.

"Saat ini, sekitar 80 persen galon yang beredar di area Manado adalah galon dengan kemasan PET," katanya.

Sementara itu, penggantian galon polikarbonat oleh pemimpin pasar di wilayah Bali mulai berlangsung sekitar tahun 2018.

“Saat ini, peredaran galon guna ulang berbahan PET oleh market leader di wilayah Bali telah mencapai lebih dari 80 persen,” kata Eko.

Menariknya, lanjut Eko, penarikan galon polikarbonat di Manado dan Bali berlangsung mulus, tanpa ada pengumuman apapun dari produsen sehingga toko, jaringan distributor dan konsumen di dua wilayah tersebut tak mengetahui adanya penggantian produk tersebut.

Keberhasilan penggantian produk polikarbonat tersebut juga didukung fakta produk pengganti galon PET memiliki tampilan mirip dengan galon lama, begitu pula distribusinya yang masih dengan model isi ulang dengan harga jual yang sama.


"Dari sisi bisnis, penggantian produk diam-diam seperti itu tentu suatu pencapaian yang positif untuk market leader yang menguasai mayoritas pangsa pasar galon guna ulang," katanya.

Data BPOM menyebutkan sekitar 50 juta orang Indonesia rutin mengkonsumsi galon guna ulang dari kemasan polikarbonat. Data lembaga riset konsumen, AC Nielsen, menunjukkan volume penjualan galon bermerek mencapai 10,7 miliar liter pada 2022, atau naik 3,4 persen dari setahun sebelumnya, dengan total penjualan Rp9,7 triliun.

Adapun penjualan galon polikarbonat mencakup 92 persen dari pangsa pasar galon bermerek. Selebihnya adalah pasar galon PET yang saat ini hanya dibagi oleh dua perusahaan, yakni Cleo (5 persen) dan Le Minerale (3 persen).

Eko juga menyebut pasar galon PET diperkirakan bakal bertumbuh seiring upaya sejumlah produsen memperkenalkan produk “baby galon” atau galon berukuran mini dengan desain menarik dan kemasan yang bebas BPA.

Di sejumlah kota, utamanya Jakarta, sejumlah jenama lokal, termasuk Aminis, Chrystaline dan Cleo, membanjiri pasar dengan galon mini ukuran 5 liter dan 6 liter.

“Galon mini hadir untuk menjawab permintaan masyarakat atas air galon yang pas untuk acara atau kegiatan tertentu di luar rumah. Dari sisi lingkungan, lanjutnya, galon PET dalam beragam ukuran tersebut lebih ramah lingkungan karena plastik PET lebih mudah didaur ulang dan bernilai ekonomis tinggi,” imbuh Eko.


Pewarta : Ade irma Junida
Uploader : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2024