Warga India hirup udara beracun, sehari usai Festival Diwali
Dokumentasi--Pengunjung menyaksikan atraksi kembang api saat Festival Dev Diwali di Ahmedabad, India, Sabtu (24/11). Dev Diwali dirayakan pada hari ke-15 Diwali, saat bulan purnama di bulan Karthik (atau dikenal dengan nama Karthik Purnima), sebagai penghormatan untuk Sungai Gangga oleh umat Hindu yang tinggal di daerah Varanasi. Dev Diwali, atau yang juga dikenal dengan nama dev uthi aakadash, menandakan berakhirnya perayaan Diwali yang berlangsung selama dua minggu. (REUTERS/Amit Dave)
Di Kota New Delhi, misalnya, asap pekat melingkupi udara, dengan tingkat polusi rata-rata di area ini mencapai sembilan kali lipat dari ambang aman menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Kepala Menteri di wilayah Ibu Kota Delhi, Arvind Kejriwal, sebelumnya telah melarang penjualan dan penggunaan petasan menjelang hari perayaan tersebut, namun kebijakan tersebut sulit diberlakukan.
Masyarakat di ibu kota membakar petasan dalam jumlah besar demi merayakan festival ini dengan meriah, sejak Sabtu (14/11) hingga Minggu dini hari.
Polusi udara di New Delhi biasanya memburuk pada Oktober dan November karena dua bulan ini merupakan masa pembakaran limbah pertanian yang ditambah dengan asap buangan pembangkit listrik tenaga batu bara dari wilayah sekitar, gas buang kendaraan, serta kurangnya angin.
Belum lagi, wabah COVID-19 yang terus terjadi, dengan lebih dari 400.000 kasus terkonfirmasi di New Delhi saja, juga menambah risiko kesehatan yang disebabkan oleh asap polusi--dan dokter memperingatkan mengenai peningkatan tajam kasus gangguan pernapasan.
Menurut data pemerintah yang dianalisis oleh Reuters, kota-kota di sejumlah negara bagian di India, termasuk Punjab, Uttar Pradesh, Haryana, Bihar, serta New Delhi, mempunyai tingkat polusi udara yang lebih parah setelah Diwali tahun ini dibandingkan tahun lalu.
Indeks kualitas udara rata-rata yang diukur di lokasi berbeda di kota-kota utama beberapa negara bagian tersebut juga menunjukkan peningkatan, lebih tinggi dari pada tahun lalu, berdasarkan data Central Pollution Control Board.
Sejumlah tokoh Hindu, melalui cuitan di Twitter, mencela aktivis dan pesohor yang mempromosikan larangan penggunaan petasan dengan menyebut hal itu sebagai serangan terhadap kebebasan mereka dalam beragama.
"Apakah kalian menyadari bagaimana seluruh India, semuanya berdiri menentang pelarangan petasan? Hal ini layaknya wujud seruan perang bagi kebebasan Hindu," tulis Tarun Vijay, pemimpin senior di Partai Bharatiya Janata--yang menaungi Perdana Menteri Narendra Modi.
Sumber: Reuters
Pewarta : Suwanti
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bupati Muara Enim: Angkutan batu bara hanya diizinkan melintas di jalan khusus
08 July 2025 18:59 WIB
Kualitas udara sejumlah kota di Indonesia dalam kondisi baik usai libur Lebaran
08 April 2025 13:36 WIB, 2025
BMKG ingatkan sejumlah wilayah waspadai potensi hujan hingga karhutla
19 October 2023 7:59 WIB, 2023
Terpopuler - Pendidikan & Kesehatan
Lihat Juga
Dokter: Penggunaan insulin bantu kendalikan kadar gula darah dan cegah komplikasi
03 May 2026 7:51 WIB
Hari Pendidikan Nasional: Kilang Pertamina Plaju dorong literasi energi generasi muda
02 May 2026 20:46 WIB
Penerimaan siswa Sekolah Unggul Garuda Transformasi di kampus dunia naik 150 persen
02 May 2026 9:20 WIB
Perkuat potensi perempuan, Kilang Plaju gelar pelatihan personal branding "Kartini Masa Kini"
24 April 2026 10:52 WIB