Jakarta (ANTARA) - Memulai usaha rintisan (start-up) di kala pandemi bukanlah hal yang tidak mungkin, asalkan mampu memproyeksikan bisnis yang dirintis dapat berlangsung lama (sustainable), menurut Executive Director UBS Riaz Hyder.

"Saat ini memang periode yang menantang. Namun, investor akan lebih mempertimbangkan soal keberlangsungan (sustainability) dari start-up tersebut," kata Hyder dalam webinar "Gojek Xcelerate Batch 4 Demo Day", Rabu.

Selain itu, baik bagi start-up yang akan maupun telah menjalankan bisnisnya, perlu memperhatikan dan mengatur aliran dana (cashflow) perusahaan dengan bijak setidaknya untuk kurun waktu 3-6 bulan mendatang.

"Cashflow sangatlah penting. Bagaimana kita mampu me-manage setidaknya 3-6 bulan ke depan dengan asumsi bahwa situasi pandemi belum pulih secepatnya," lanjut Hyder.

Sementara VP of Creative Labs Gojek, Bahari CK, menambahkan, start-up juga harus mampu kreatif dan inovatif dalam beradaptasi di situasi pandemi maupun normal baru (new normal).

Langkah pertama adalah dengan berempati dan mendengarkan kebutuhan konsumen. Cara ini dapat dilakukan dengan berinteraksi dengan konsumen baik secara langsung maupun lewat media sosial.

"Reach out lewat social media atau interview personal tentang kebutuhan mereka di tengah pandemi," kata Bahari.

Dengan mengerti kebutuhan dan kemauan konsumen, lanjut dia, perusahaan bisa menggali ide dan inovasi apa yang dapat ditawarkan kepada pelanggan.

Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan nilai (value) lebih kepada produk dari brand atau bisnis yang tengah dirintis.

"Tambah value produk dan brand kita, apa yang membedakan kita dengan kompetitor. Melakukan kolaborasi juga penting," ujar Bahari.
 

Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor : Dolly Rosana
Copyright © ANTARA 2024