Mahasiswa ciptakan SiPicow aplikasi pendeteksi penyakit sapi
Kamis, 20 Februari 2020 16:39 WIB
Tiga mahasiswa UMM penemu aplikasi pendeteksi penyakit sapi, siPicow (ANTARA/HO/UMM/End)
Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan alat pendeteksi penyakit sapi yang diberi nama "siPicow".
Minimnya pengetahuan para peternak terkait penyakit yang sering diderita oleh hewan ternak, khususnya sapi, penanganan yang mereka lakukan bisa dikatakan tidak benar dan kurang profesional.
"Penanganan yang tidak benar mengakibatkan kerugian secara bertahap, mulai dari borosnya penggunaan obat, biaya perawatan dan akomodasi yang tidak murah, serta terhentinya produksi dan penjualan. Masalah ini harus dipecahkan," kata salah seorang tim penggagas siPicow, Muhammad Nafi’ Maula Hakim di Malang, Jawa Timur, Kamis.
Berangkat dari permasalahan itu, lanjutnya, ia bersama dua rekannya, yakni Abdul Jabbar Nur Ihsan dan Muhamad Azhar Ridani mengembangkan perangkat lunak (software) bernama “siPicow”.
Tujuan dari pengembangan perangkat lunak ini adalah untuk merancang dan membangun sebuah aplikasi mobile sebagai media pendeteksi dan penanganan dini terhadap penyakit sapi dengan memanfaatkan sistem pakar, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari media dalam jaringan dan beberapa pakar yang ahli di bidangnya.
Selain itu, katanya, jika kerugian tersebut tidak segera ditangani kemungkinan besar akan terjadi penyebaran penyakit yang tidak terkontrol.
Sehingga, katanya, dapat menyebabkan timbulnya kemungkinan paling buruk, yaitu kematian pada sapi dan terjadinya kebangkrutan bagi peternak.
Ia menerangkan aplikasi yang mereka buat bisa diakses lewat platform android dan iOS ini.
Namun sebaliknya, sambung Nafi’, jika peternak mampu menguasai medan dan situasi, peternak dengan sigapnya mampu mengatasi permasalahan tersebut tanpa perlu ragu dan khawatir akan risiko yang dihadapinya.
“Oleh karena itu, perlunya dilakukan pengembangan perangkat lunak yang bisa digunakan sebagai referensi oleh peternak sekaligus menjadi media informasi dan pendampingan melalui sistem pakar dalam bentuk aplikasi siPicow yang ringan dan mudah digunakan,” kata Nafi’.
Berdasarkan hasil penggalian data melalui beberapa tahapan yang sebelumnya sudah dilakukan, terdapat beberapa fitur yang bermanfaat bagi peternak sapi.
Fitur-fitur itu, antara lain nama penyakit-penyakit yang sering diderita oleh sapi, ciri-ciri penyakit, penyebab penyakit, gejala penyakit, penanganan dini terhadap penyakit, metode-metode penanganan yang baik dan benar menurut pakar, sketsa kandang dan lingkungan yang baik bagi sapi, serta manajemen pakan dan pengelolaan sapi.
Studi literatur dilakukan untuk mengumpulkan data atau kebutuhan yang diperlukan melalui beberapa referensi.
“Referensi yang kami gunakan antara lain adalah jurnal ilmiah, media daring, serta beberapa sumber yang kredibel dari internet. Tidak hanya itu, kami juga melakukan tanya jawab kepada beberapa orang yang memang ahli di bidang peternakan melalui fitur media chatting,” kata mahasiswa program studi Teknik Informatika angkatan 2017 tersebut.
Minimnya pengetahuan para peternak terkait penyakit yang sering diderita oleh hewan ternak, khususnya sapi, penanganan yang mereka lakukan bisa dikatakan tidak benar dan kurang profesional.
"Penanganan yang tidak benar mengakibatkan kerugian secara bertahap, mulai dari borosnya penggunaan obat, biaya perawatan dan akomodasi yang tidak murah, serta terhentinya produksi dan penjualan. Masalah ini harus dipecahkan," kata salah seorang tim penggagas siPicow, Muhammad Nafi’ Maula Hakim di Malang, Jawa Timur, Kamis.
Berangkat dari permasalahan itu, lanjutnya, ia bersama dua rekannya, yakni Abdul Jabbar Nur Ihsan dan Muhamad Azhar Ridani mengembangkan perangkat lunak (software) bernama “siPicow”.
Tujuan dari pengembangan perangkat lunak ini adalah untuk merancang dan membangun sebuah aplikasi mobile sebagai media pendeteksi dan penanganan dini terhadap penyakit sapi dengan memanfaatkan sistem pakar, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari media dalam jaringan dan beberapa pakar yang ahli di bidangnya.
Selain itu, katanya, jika kerugian tersebut tidak segera ditangani kemungkinan besar akan terjadi penyebaran penyakit yang tidak terkontrol.
Sehingga, katanya, dapat menyebabkan timbulnya kemungkinan paling buruk, yaitu kematian pada sapi dan terjadinya kebangkrutan bagi peternak.
Ia menerangkan aplikasi yang mereka buat bisa diakses lewat platform android dan iOS ini.
Namun sebaliknya, sambung Nafi’, jika peternak mampu menguasai medan dan situasi, peternak dengan sigapnya mampu mengatasi permasalahan tersebut tanpa perlu ragu dan khawatir akan risiko yang dihadapinya.
“Oleh karena itu, perlunya dilakukan pengembangan perangkat lunak yang bisa digunakan sebagai referensi oleh peternak sekaligus menjadi media informasi dan pendampingan melalui sistem pakar dalam bentuk aplikasi siPicow yang ringan dan mudah digunakan,” kata Nafi’.
Berdasarkan hasil penggalian data melalui beberapa tahapan yang sebelumnya sudah dilakukan, terdapat beberapa fitur yang bermanfaat bagi peternak sapi.
Fitur-fitur itu, antara lain nama penyakit-penyakit yang sering diderita oleh sapi, ciri-ciri penyakit, penyebab penyakit, gejala penyakit, penanganan dini terhadap penyakit, metode-metode penanganan yang baik dan benar menurut pakar, sketsa kandang dan lingkungan yang baik bagi sapi, serta manajemen pakan dan pengelolaan sapi.
Studi literatur dilakukan untuk mengumpulkan data atau kebutuhan yang diperlukan melalui beberapa referensi.
“Referensi yang kami gunakan antara lain adalah jurnal ilmiah, media daring, serta beberapa sumber yang kredibel dari internet. Tidak hanya itu, kami juga melakukan tanya jawab kepada beberapa orang yang memang ahli di bidang peternakan melalui fitur media chatting,” kata mahasiswa program studi Teknik Informatika angkatan 2017 tersebut.
Pewarta : Endang Sukarelawati
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mahasiswa UMM ciptakan roti berbahan okra bagi penderita diabetes mellitus
26 May 2019 21:31 WIB, 2019
Dukung Apel Akbar Satlinmas, Bank Sumsel Babel raih penghargaan khusus Pemprov Sumsel
30 August 2026 16:58 WIB
Rayakan HUT ke-81 RI, Pertamina PHR Zona 4 salurkan 4.000 paket sembako murah di Sumsel
17 August 2026 20:19 WIB
Bank Sumsel Babel dukung Pemprov Sumsel wujudkan "Health Tourism" berkelas nasional
06 July 2026 8:14 WIB
FEB Universitas Tridinanti dan ANTARA edukasi mahasiswa cara bijak manfaatkan AI
11 June 2026 16:06 WIB
Terpopuler - Pendidikan & Kesehatan
Lihat Juga
Pertamina EP periksa kesehatan mata gratis 140 siswa SD di PALI dan Muara Enim
26 August 2026 15:45 WIB
Unsri dan KKP terapkan teknologi IoT untuk pembenihan ikan betok di Palembang
15 August 2026 21:00 WIB