Akademisi dukung pemrograman dan "coding" komputer masuk kurikulum
Jumat, 25 Oktober 2019 16:21 WIB
Ilustrasi coding, data. (Pixabay/Pexels)
Semarang (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Doktor Pratama Persadha mendukung materi pemrograman dan coding komputer masuk kurikulum pendidikan.
Pratama kepada ANTARA di Semarang, Jumat, mengatakan, kebutuhan materi pelajaran itu sangat mendesak karena hampir semua sendi kehidupan membutuhkan sistem teknologi informasi (TI) yang dibangun salah satunya lewat coding.
Pratama mengemukakan hal itu ketika merespons beredarnya video Nadiem Anwar Makarim yang berpidato tentang pendidikan ideal untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang tangguh pada era digital.
Menyinggung soal video yang viral tersebut, menurut dia, itu video lama atau sebelum Nadiem Anwar Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Namun, pesannya jelas bahwa berkehidupan siber harus masuk dalam kurikulum pendidikan.
Nadim dalam video itu, kata Pratama, paling tidak menggarisbawahi empat hal penting, yakni pertama soal pentingnya bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Artinya, bahasa asing harus mendapat perhatian khusus oleh semua elemen pendidikan.
Menurut Pratama, efeknya jelas jika bahasa asing, terutama Inggris, dikuasai oleh sebagian besar siswa dan mahasiswa. Dengan demikian, kesempatan untuk belajar, bekerja, dan membuka usaha di luar negeri akan terbuka sangat lebar.
"Nadim sendiri mendapatkan banyak pengalaman luar biasa di luar negeri yang membuatnya berani mendirikan Gojek pada tahun 2010 ketika yang lain belum terpikirkan," kata Pratama.
Kedua, kata pakar keamanan siber dari Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), Nadiem memandang penting materi pemrograman dan coding komputer harus sedini mungkin diajarkan di sekolah, minimal sekolah menengah atas (SMA).
Pratama lantas mencontohkan India, salah satu negara yang sukses dengan fokus pada SDM teknologi sejak lama. Hasilnya para insinyur TI mereka dipakai di berbagai negara, Indonesia dan bahkan AS. Puncaknya saat CEO Google dijabat oleh orang India bernama Sundar Pichai.
Ketiga, coaching dan pengajar dari ekspertis dunia. Salah satu kesuksesan kota New York adalah berhasil menarik talenta terbaik seluruh dunia di berbagai bidang. Oleh karena itu, transfer ilmu dan teknologi terjadi secara terstruktur maupun kultural.
Indonesia dengan lebih membuka diri dan memberikan banyak kemudahan riset, Pratama yakin akan menarik banyak orang pintar untuk berbagai ilmu di dalam negeri.
"Jadi, kita tidak hanya akan menjadi negeri konsumen, tetapi negeri para inovator," kata Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC) ini.
Keempat, lanjut dia, terkait dengan persaingan teknologi informasi, aplikasi, dan membangun startup. Hal ini dibutuhkan kemampuan statistik dan psikologi yang mumpuni.
Statistik jelas dibutuhkan untuk membaca data dan meraba masa depan. Psikologi yang dimaksud adalah kemampuan meraba setiap user interface (UI) design, user experience (UX) design, dan kawan-kawannya apakah akan disukai oleh para pemakai.
"Ini membutuhkan kecakapan tersendiri. Oleh karena itu, memang sebaiknya diperkuat sejak dini atau SMA," kata Pratama Persadha menegaskan.
Pratama kepada ANTARA di Semarang, Jumat, mengatakan, kebutuhan materi pelajaran itu sangat mendesak karena hampir semua sendi kehidupan membutuhkan sistem teknologi informasi (TI) yang dibangun salah satunya lewat coding.
Pratama mengemukakan hal itu ketika merespons beredarnya video Nadiem Anwar Makarim yang berpidato tentang pendidikan ideal untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang tangguh pada era digital.
Menyinggung soal video yang viral tersebut, menurut dia, itu video lama atau sebelum Nadiem Anwar Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Namun, pesannya jelas bahwa berkehidupan siber harus masuk dalam kurikulum pendidikan.
Nadim dalam video itu, kata Pratama, paling tidak menggarisbawahi empat hal penting, yakni pertama soal pentingnya bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Artinya, bahasa asing harus mendapat perhatian khusus oleh semua elemen pendidikan.
Menurut Pratama, efeknya jelas jika bahasa asing, terutama Inggris, dikuasai oleh sebagian besar siswa dan mahasiswa. Dengan demikian, kesempatan untuk belajar, bekerja, dan membuka usaha di luar negeri akan terbuka sangat lebar.
"Nadim sendiri mendapatkan banyak pengalaman luar biasa di luar negeri yang membuatnya berani mendirikan Gojek pada tahun 2010 ketika yang lain belum terpikirkan," kata Pratama.
Kedua, kata pakar keamanan siber dari Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), Nadiem memandang penting materi pemrograman dan coding komputer harus sedini mungkin diajarkan di sekolah, minimal sekolah menengah atas (SMA).
Pratama lantas mencontohkan India, salah satu negara yang sukses dengan fokus pada SDM teknologi sejak lama. Hasilnya para insinyur TI mereka dipakai di berbagai negara, Indonesia dan bahkan AS. Puncaknya saat CEO Google dijabat oleh orang India bernama Sundar Pichai.
Ketiga, coaching dan pengajar dari ekspertis dunia. Salah satu kesuksesan kota New York adalah berhasil menarik talenta terbaik seluruh dunia di berbagai bidang. Oleh karena itu, transfer ilmu dan teknologi terjadi secara terstruktur maupun kultural.
Indonesia dengan lebih membuka diri dan memberikan banyak kemudahan riset, Pratama yakin akan menarik banyak orang pintar untuk berbagai ilmu di dalam negeri.
"Jadi, kita tidak hanya akan menjadi negeri konsumen, tetapi negeri para inovator," kata Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC) ini.
Keempat, lanjut dia, terkait dengan persaingan teknologi informasi, aplikasi, dan membangun startup. Hal ini dibutuhkan kemampuan statistik dan psikologi yang mumpuni.
Statistik jelas dibutuhkan untuk membaca data dan meraba masa depan. Psikologi yang dimaksud adalah kemampuan meraba setiap user interface (UI) design, user experience (UX) design, dan kawan-kawannya apakah akan disukai oleh para pemakai.
"Ini membutuhkan kecakapan tersendiri. Oleh karena itu, memang sebaiknya diperkuat sejak dini atau SMA," kata Pratama Persadha menegaskan.
Pewarta : D.Dj. Kliwantoro
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Belum daftar PSE, Google, Facebook, dan Twitter terancam diblokir di Indonesia
18 July 2022 11:41 WIB, 2022
Kebocoran data pribadi gegara peladen aplikasi lama tak di-"takedown"
02 September 2021 9:54 WIB, 2021
Pakar keamanan siber dukung Presiden dan DPR revisi pasal karet UU ITE
17 February 2021 12:27 WIB, 2021
Pakar: Jammer jangan sampai ganggu komunikasi masyarakat sekitar lapas
13 September 2020 11:58 WIB, 2020
Terpopuler - Pendidikan & Kesehatan
Lihat Juga
Dokter: Penggunaan insulin bantu kendalikan kadar gula darah dan cegah komplikasi
03 May 2026 7:51 WIB
Hari Pendidikan Nasional: Kilang Pertamina Plaju dorong literasi energi generasi muda
02 May 2026 20:46 WIB
Penerimaan siswa Sekolah Unggul Garuda Transformasi di kampus dunia naik 150 persen
02 May 2026 9:20 WIB