Pemuda Desa Adat Tuban lakukan tradisi Perang Api
Senin, 14 Oktober 2019 12:03 WIB
Sejumlah pemuda saling memukulkan api dari sabut kelapa saat mengikuti tradisi "Mesiat Geni" atau perang api di Desa Tuban, Kecamatan Kuta, Badung, Bali, Minggu (13/10/2019). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
Badung (ANTARA) - Sejumlah pemuda warga Desa Adat Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, mengikuti tradisi Mesiat Geni atau Perang Api yang dilakukan sebagai rangkaian ritual persembahyangan bulan purnama keempat dalam penanggalan Bali.
"Tradisi ini harus dan wajib kami lakukan untuk menyambut kedatangan dewa-dewi yang hadir dalam upacara Piodalan atau hari jadi pura dengan diiringi oleh para pengawalnya yang salah satunya adalah Butha Kala Geni Rudra," ujar Bendesa atau Kepala Desa Adat Tuban, I Wayan Mendra, di Mangupura, Minggu malam.
Ia mengatakan, upacara tersebut menjadi suatu penyambutan untuk kedatangan Kala Geni Rudra yang dipercayai memiliki kesenangan bermain api.
"Harapannya, setelah disambut dengan perang api ini beliau dengan senang hati akan memberikan kemakmuran menghilangkan dosa dan kejahatan agar masyarakat desa kami bisa sejahtera dan aman dalam melaksanakan kehidupan di dunia," katanya.
Dalam tradisi tersebut, para pemuda desa terlebih dahulu melaksanakan persembahyangan dan diberi percikan air suci agar dalam melaksanakan ritual berada dalam kondisi yang suci lahir dan batin.
Persembahyangan tersebut juga dilakukan untuk memohon kepada Tuhan agar mereka selama mengikuti prosesi tradisi perang api berada dalam niatan yang tulus serta ikhlas.
Kemudian, mereka membakar tumpukan sabut kelapa kering yang selanjutnya dipukulkan ke pemuda yang berada di kelompok lain.
I Wayan Mendra menambahkan, meskipun kedua kelompok pemuda saling memukulkan sabut kelapa yang dibakar, namun tradisi itu dilakukan untuk meningkatkan rasa persaudaraan antarpemuda di kawasan desa adat.
"Kami juga berharap tradisi ini dapat membersihkan kekotoran dan aura negatif di wilayah desa dan tentunya akan memberikan kesenangan kepada Kala Geni Rudra," ujarnya.
Eka Wirya, seorang pemuda desa yang mengikuti tradisi tersebut, mengaku dirinya sangat senang bisa ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan tradisi tahunan itu.
"Memang namanya api pasti terasa panas jika terkena tubuh. Tapi saya tidak merasakan sakit dan senang bisa ikut melestarikan tradisi ini," katanya.
"Tradisi ini harus dan wajib kami lakukan untuk menyambut kedatangan dewa-dewi yang hadir dalam upacara Piodalan atau hari jadi pura dengan diiringi oleh para pengawalnya yang salah satunya adalah Butha Kala Geni Rudra," ujar Bendesa atau Kepala Desa Adat Tuban, I Wayan Mendra, di Mangupura, Minggu malam.
Ia mengatakan, upacara tersebut menjadi suatu penyambutan untuk kedatangan Kala Geni Rudra yang dipercayai memiliki kesenangan bermain api.
"Harapannya, setelah disambut dengan perang api ini beliau dengan senang hati akan memberikan kemakmuran menghilangkan dosa dan kejahatan agar masyarakat desa kami bisa sejahtera dan aman dalam melaksanakan kehidupan di dunia," katanya.
Dalam tradisi tersebut, para pemuda desa terlebih dahulu melaksanakan persembahyangan dan diberi percikan air suci agar dalam melaksanakan ritual berada dalam kondisi yang suci lahir dan batin.
Persembahyangan tersebut juga dilakukan untuk memohon kepada Tuhan agar mereka selama mengikuti prosesi tradisi perang api berada dalam niatan yang tulus serta ikhlas.
Kemudian, mereka membakar tumpukan sabut kelapa kering yang selanjutnya dipukulkan ke pemuda yang berada di kelompok lain.
I Wayan Mendra menambahkan, meskipun kedua kelompok pemuda saling memukulkan sabut kelapa yang dibakar, namun tradisi itu dilakukan untuk meningkatkan rasa persaudaraan antarpemuda di kawasan desa adat.
"Kami juga berharap tradisi ini dapat membersihkan kekotoran dan aura negatif di wilayah desa dan tentunya akan memberikan kesenangan kepada Kala Geni Rudra," ujarnya.
Eka Wirya, seorang pemuda desa yang mengikuti tradisi tersebut, mengaku dirinya sangat senang bisa ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan tradisi tahunan itu.
"Memang namanya api pasti terasa panas jika terkena tubuh. Tapi saya tidak merasakan sakit dan senang bisa ikut melestarikan tradisi ini," katanya.
Pewarta : Naufal Fikri Yusuf
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KAI Palembang sediakan 10.672 tiket untuk libur panjang Isra Miraj pada 15-18 Januari
12 January 2026 22:10 WIB
LRT Sumsel tambah perjalanan kereta api saat libur Natal jadi 102 perjalanan
25 December 2025 17:54 WIB
KAI Palembang siapkan 42 unit kereta api selama libur Natal dan Tahun Baru
17 December 2025 21:04 WIB
Terpopuler - Seni & Budaya
Lihat Juga
Dinas Pariwisata Palembang promosikan Ziarah Kubro menjelang 10 hari Ramadhan
17 February 2025 19:57 WIB