KPA: Ada seribuan gay di Sukabumi
Minggu, 14 Oktober 2018 8:51 WIB
ilustrasi LGBT. (ANTARA/Handry Musa)
Sukabumi (ANTARA News Sumsel) - Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Sukabumi menyatakan, ada lebih dari seribu gay atau lelaki seks lelaki (LSL) di Sukabumi, Jawa Barat, dari hasil pemetaan sekaligus pendataan yang dilakukan pihaknya sepanjang 2018.
"Gay pada 2015 sebanyak 1.320 orang, namun 2017 menurun menjadi 1.080 orang dan untuk 2018 ini jumlahnya masih di angka seribuan, namun masih dalam pendataan dan pemetaan," kata Ketua KPA Kota Sukabumi, Achmad Fahmi, di Sukabumi, Sabtu.
Mayoritas gay yang ada di Kota Sukabumi berusia produktif yakni dari 15 hingga 40 tahun.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan masih banyaknya gay, antara lain pergaulan bebas, kondisi keluarga yang tidak harmonis, kurangnya pemahaman agama dan lain-lain.
Keberadaan gay ini makin menjadi sorotan. Karena itulah, KPA berupaya memberikan pemahaman kepada kaum gay yang ada di Kota Sukabumi agar kembali hidup sehat.
Kepada kaum penyuka sesama jenis yang sudah bisa dijangkau, pihaknya selalu memberikan penyuluhan agar bisa lebih dekat dengan agama. "Tapi yang sangat penting jika ingin sembuh, mereka harus keluar dari kelompoknya."
Menurut dia, menyembuhkan gay ini sangat tergantung dari keinginan si gay itu sendiri, karena kelainan seksual itu bukan disebabkan oleh sakit jiwanya, tetapi orientasi seksualnya yang sebelumnya normal jadi menyimpang karena sejumlah faktor.
Kepada masyarakat pihaknya juga menyadarkan tentang pentingnya ketahanan keluarga. "Biasanya seseorang yang mengalami kelainan seksual karena faktor ketahanan keluarga sehingga tidak betah di rumah dan mencari pengakuan di luar rumah, akibatnya terjerumus," ujar Fahmi.
Dia mengatakan KPA sebagai lembaga kemanusiaan juga terus berupaya memberikan berbagai pemahaman kepada kaum gay yang merupakan kelompok paling rawan penyebaran HIV/AIDS.
Pihaknya juga sudah memberikan imbauan kepada gay agar meredam aktivitasnya yang bisa menularkan atau tertular HIV/AIDS itu.
Mereka, ujar dia meyakinkan, harus bisa disembuhkan sebab orang sakit pasti bisa disembuhkan.
"Sudah ada beberapa gay yang menikah dengan lawan jenis, tetapi memang ada juga yang menikah dengan wanita tetapi masih suka berhubungan seksual dengan sesama jenis. Kami pun menyiapkan berbagai progam untuk penanggulangannya setelah hasil pendataan dan pemetaan selesai," katanya.
"Gay pada 2015 sebanyak 1.320 orang, namun 2017 menurun menjadi 1.080 orang dan untuk 2018 ini jumlahnya masih di angka seribuan, namun masih dalam pendataan dan pemetaan," kata Ketua KPA Kota Sukabumi, Achmad Fahmi, di Sukabumi, Sabtu.
Mayoritas gay yang ada di Kota Sukabumi berusia produktif yakni dari 15 hingga 40 tahun.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan masih banyaknya gay, antara lain pergaulan bebas, kondisi keluarga yang tidak harmonis, kurangnya pemahaman agama dan lain-lain.
Keberadaan gay ini makin menjadi sorotan. Karena itulah, KPA berupaya memberikan pemahaman kepada kaum gay yang ada di Kota Sukabumi agar kembali hidup sehat.
Kepada kaum penyuka sesama jenis yang sudah bisa dijangkau, pihaknya selalu memberikan penyuluhan agar bisa lebih dekat dengan agama. "Tapi yang sangat penting jika ingin sembuh, mereka harus keluar dari kelompoknya."
Menurut dia, menyembuhkan gay ini sangat tergantung dari keinginan si gay itu sendiri, karena kelainan seksual itu bukan disebabkan oleh sakit jiwanya, tetapi orientasi seksualnya yang sebelumnya normal jadi menyimpang karena sejumlah faktor.
Kepada masyarakat pihaknya juga menyadarkan tentang pentingnya ketahanan keluarga. "Biasanya seseorang yang mengalami kelainan seksual karena faktor ketahanan keluarga sehingga tidak betah di rumah dan mencari pengakuan di luar rumah, akibatnya terjerumus," ujar Fahmi.
Dia mengatakan KPA sebagai lembaga kemanusiaan juga terus berupaya memberikan berbagai pemahaman kepada kaum gay yang merupakan kelompok paling rawan penyebaran HIV/AIDS.
Pihaknya juga sudah memberikan imbauan kepada gay agar meredam aktivitasnya yang bisa menularkan atau tertular HIV/AIDS itu.
Mereka, ujar dia meyakinkan, harus bisa disembuhkan sebab orang sakit pasti bisa disembuhkan.
"Sudah ada beberapa gay yang menikah dengan lawan jenis, tetapi memang ada juga yang menikah dengan wanita tetapi masih suka berhubungan seksual dengan sesama jenis. Kami pun menyiapkan berbagai progam untuk penanggulangannya setelah hasil pendataan dan pemetaan selesai," katanya.
Pewarta : Aditia Aulia Rohman
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Muhadjir sebut konten "podcast" Deddy Corbuzer hadirkan LGBT bukan urusan Kemenko PMK
11 May 2022 20:07 WIB, 2022
Pesepak bola "gay" Australia takut bermain pada Piala Dunia 2022 di Qatar
08 November 2021 23:59 WIB, 2021
Cara Muhammad Khan hidupkan jiwa feminim di film "Kucumbu Tubuh Indahku"
16 April 2019 22:14 WIB, 2019
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Sebanyak 17 penumpang longboat selamat, kapal mati mesin di Perairan Maluku Tenggara
27 January 2026 7:34 WIB