Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Salah satu sektor sejak pemerintahan Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi yang tak pernah berhenti bahkan terus digiatkan adalah pembangunan infrastruktur, seperti jalan tol dan nontol, bandar udara, dan pelabuhan laut.

Siapa pun pemerintahnya, infrastruktur memang tidak bisa dipungkiri memiliki arti penting dan strategis untuk membuka keterisolasian suatu daerah atau wilayah hingga pada akhirnya memperlancar transportasi yang pada akhirnya mendorong perekonomian nasional.

Proyek pembangunan tol, misalnya, mulai pemerintahan Orde Baru hingga Reformasi sebagai pembangunan yang terus berlanjut dan nyaris tak pernah berhenti siapa pun pemerintahnya. Malah kalau boleh dikatakan, tol setiap tahun selalu bertambah panjangnya karena memang manfaatnya sangat luar biasa.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebagai salah satu kementerian yang bertanggung jawab terhadap pembangunan tol, siapa pun menterinya juga ikut menjaga agar pembangunan infrastruktur tersebut tak boleh berhenti, bahkan kalau bisa harus terus diperpanjang.

Pada musim mudik Lebaran setiap tahunnya, Kementerian PUPR terus membangun dan menyelesaikan pembangunan tol sehingga pengguna jalan bisa lebih efisien dan efektif saat menuju tempat tujuan. Dokumentasi- Pemudik Di Pelabuhan Tanjung Api APi Sejumlah pemudik kapal turun dari KMP Muria di Pelabuhan Tanjung Api Api (TAA). (ANTARA News Sumsel/Nova Wahyudi/dol)

Demikian pula, saat menghadapi arus mudik dan balik Lebaran 2018, Kementerian PUPR menyatakan optimistis infrastruktur jalan dalam melayani arus mudik pada tahun ini lebih baik daripada tahun 2017. Jalan nasional nontol yang menjadi jalur mudik kondisinya juga cukup baik dengan tingkat kemantapan 90 persen.

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto mengatakan bahwa tol fungsional dapat dilewati siang dan malam. Namun, untuk pengaturan di lapangan, sepenuhnya kewenangan pihak Korlantas.

Pemerintah mengimbau pemudik tidak euforia dengan makin panjangnya tol, misalnya, melaju dengan kecepatan tinggi di tol yang lurus. Pemudik diminta tetap berhati-hati dan beristirahat cukup, periksa kondisi kendaraan dengan baik, jangan sampai mogok, terutama di tol fungsional.

Meski disiapkan mobil derek, tentu akan menghambat kendaraan lainnya. Tol fungsional akan difungsikan satu arah dengan dua lajur Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR Herry Trisaputra Zuna mengatakan bahwa kesiapan pemerintah tahun ini didasarkan atas refleksi mudik pada tahun 2017. Pada musim mudik dan balik tahun 2018, transaksi tol sudah 100 persen nontunai sehingga upaya mengurangi antrean di gerbang tol dan pihak BUJT akan memaksimalkan seluruh gardu transaksi untuk beroperasi.

Ditambah lagi, adanya petugas dengan mesin pembaca kartu tol (mobile reader e-toll) dan menyiapkan lebih banyak fasilitas "top up" dan kartu baru yang tersebar di rest area dan gardu transaksi tol.

Pemudik pun diimbau untuk memastikan ketersediaan saldo sebelum memasuki tol guna menghindari terjadinya kemacetan di gardu transaksi.

Sebagai contoh, tarif Jakarta-Surabaya total menghabiskan Rp344 ribu. Pemudik dapat mengisi saldo kartu elektronik hingga maksimal Rp2 juta. Ada sekitar 250 mobile reader yang sudah siap dan 150.000 kartu baru untuk mengantisipasi pemudik yang belum mempunyai kartu elekrtonik tol.

Untuk fasilitas di tol, meskipun sebagian tol masih fungsional, akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti rambu, marka jalan yang dikengkapi dengan "spotlight", pembatas jalan, dan tempat istirahat sementara yang dilengkapi parkir, toilet, dan musala.

Kesiapan Lebih Baik Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono memastikan kesiapan infrastruktur jalan dalam menghadapi arus mudik pada tahun 2018 lebih baik daripada tahun 2017.

Pemerintah menjamin dengan adanya penambahan ruas tol dan preservasi pada ruas-ruas jalan nasional, para pemudik memiliki alternatif rute sehingga tidak hanya mengandalkan tol untuk ke kampung halaman.

Tol Jakarta hingga Surabaya, kata dia, tol yang operasional sepanjang 524 km dan fungsional sepanjang 234 km.

Tol Jakarta hingga Pemalang (324,55 km) sudah beroperasi, Pemalang-Semarang (108,2 km) bisa dilalui fungsional. Pada ruas ini terdapat Jembatan Kali Kuto yang ditargetkan selesai H-7.

Selanjutnya, ruas Semarang-Salatiga (40,40 km) statusnya sudah operasional, Salatiga-Solo (32,54 km) fungsional, Solo-Sragen (35,2 km) sudah siap diresmikan dan ruas Sragen-Ngawi (55,05 km) fungsional.

Untuk Tol Ngawi Kertosono ruas Ngawi-Wilangan (47,95 km) yang diresmikan 29 Maret 2018 oleh Presiden RI Joko Widodo saat ini sudah bisa digunakan. Sementara itu, ruas Wilangan-Kertosono (38,56 km) bisa digunakan fungsional.

Meskipun secara umum kondisi infrastruktur tol sudah siap dilalui, ada sejumlah lokasi yang belum selesai pembangunan sehingga diperkirakan menjadi titik kemacetan saat puncak mudik dan balik.

Titik kritis mudik pada tahun 2018, yakni pada lokasi pembangunan Jembatan Kenteng sepanjang 496 meter yang berada pada ruas tol Salatiga-Kartasura. Kementerian PUPR menyatakan Jembatan Kenteng masih belum terselesaikan untuk mudik Lebaran 2018 dan akan membangun jalan "rigid pavement" yang akan melintasi di bawah Jembatan Kenteng.

Selain itu, Kementerian PUPR tengah melakukan perbaikan Jembatan Cincin Lama yang berada di Jalur Pantura Jawa yang ditargetkan selesai H-10 dan bisa digunakan. Sementara itu, jalur pantai selatan Jawa kondisinya baik.

Untuk memberikan kenyamanan pemudik pada ruas tol fungsional, disediakan 27 tempat istirahat sementara setiap 10 s.d. 20 km yang dilengkapi fasilitas parkir kendaraan berkapasitas 250 mobil serta musala, dan tempat makan.

Di tol yang sudah operasional di Pulau Jawa, total terdapat 13 tempat istirahat dan 30 tempat istirahat dan Pelayanan (TIP) yang juga akan dilengkapi dengan fasilitas toilet tambahan.

Tol yang sudah operasional ditambah dengan adanya tempat parkir sementara (parking bay) sebagai antisipasi meluapnya jumlah kendaraan yang parkir di rest area.

Kementerian PUPR pada saat arus mudik akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, Korlantas, BMKG, Basarnas, dan kementerian/lembaga lainnya yang terkait dalam penanganan mudik Lebaran 2018. Tujuannya tentu agar dalam pelaksanaan arus mudik dan balik Lebaran tahun ini bisa berjalan lancar.

Pewarta : Ahmad Wijaya
Uploader : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2024