Wika Realty tawarkan saham
Selasa, 13 Maret 2018 20:15 WIB
Arsip - Pergerakan IHSG BEI . (ANTARA News/Akbar Nugroho Gumay/Ag)
Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengemukakan bahwa anak badan usaha milik negara (BUMN), Wijaya Karya Realty (Wika Realty) akan melaksanakan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) pada 2018 ini.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat di Jakarta, Selasa mengatakan bahwa anak usaha BUMN itu bakal melepas sekitar 25 persen sahamnya ke publik melalui mekanisme IPO.
"IPO menjadi opsi sebagai sarana bagi perusahaan properti untuk menggalang dana jangka panjang," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi pasar modal saat ini yang kondusif menjadi salah satu faktor yang menjadi pertimbangan bagi perusahaan melakukan IPO. Di sisi lain, ketersediaan dana di pasar yang masih baik juga turut menjadi perhatian bagi perusahaan dan penjamin pelaksana emisi.
"Jika market sedang dalam kondisi bagus saat ini, sebagian perusahaan berencana melepas saham ke publik," ujarnya.
Direktur Keuangan dan Human Capital Wika Realty, Adang Hamdani mengatakan bahwa perseroan akan menggunakan dana hasil dari aksi korporasi itu untuk ekspansi bisnis agar kinerja tetap positif.
"Kita akan lepas 25 persen," katanya usai melakukan paparan kepada BEI.
Sebelumnya, Executive Vice President Head of Privatization BEI, Saptono Adi Junarso mengatakan selain anak BUMN, terdapat juga tiga perusahaan rintisan (startup) yang menyandang status unicorn sedang mempertimbangkan untuk melaksanakan IPO pada tahun ini. Ketiga perusahaan tersebut adalah Bukalapak, Go-Jek dan Tokopedia.
Ia mengemukakan bahwa pihaknya telah melakukan pertemuan dengan manajemen perusahaan rintisan itu. Namun, masih terdapat beberapa kendala, diantaranya mengenai valuasi aset tak berwujud (intangible asset).
"Kita sedang berdiskusi dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) agar intangible asset itu bisa divaluasi. Semoga bisa sehingga mempermudah IPO. Aset perusahaan itu bentuknya seperti aplikasi dan software, kita berharap aturannya keluar tahun ini," katanya.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat di Jakarta, Selasa mengatakan bahwa anak usaha BUMN itu bakal melepas sekitar 25 persen sahamnya ke publik melalui mekanisme IPO.
"IPO menjadi opsi sebagai sarana bagi perusahaan properti untuk menggalang dana jangka panjang," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi pasar modal saat ini yang kondusif menjadi salah satu faktor yang menjadi pertimbangan bagi perusahaan melakukan IPO. Di sisi lain, ketersediaan dana di pasar yang masih baik juga turut menjadi perhatian bagi perusahaan dan penjamin pelaksana emisi.
"Jika market sedang dalam kondisi bagus saat ini, sebagian perusahaan berencana melepas saham ke publik," ujarnya.
Direktur Keuangan dan Human Capital Wika Realty, Adang Hamdani mengatakan bahwa perseroan akan menggunakan dana hasil dari aksi korporasi itu untuk ekspansi bisnis agar kinerja tetap positif.
"Kita akan lepas 25 persen," katanya usai melakukan paparan kepada BEI.
Sebelumnya, Executive Vice President Head of Privatization BEI, Saptono Adi Junarso mengatakan selain anak BUMN, terdapat juga tiga perusahaan rintisan (startup) yang menyandang status unicorn sedang mempertimbangkan untuk melaksanakan IPO pada tahun ini. Ketiga perusahaan tersebut adalah Bukalapak, Go-Jek dan Tokopedia.
Ia mengemukakan bahwa pihaknya telah melakukan pertemuan dengan manajemen perusahaan rintisan itu. Namun, masih terdapat beberapa kendala, diantaranya mengenai valuasi aset tak berwujud (intangible asset).
"Kita sedang berdiskusi dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) agar intangible asset itu bisa divaluasi. Semoga bisa sehingga mempermudah IPO. Aset perusahaan itu bentuknya seperti aplikasi dan software, kita berharap aturannya keluar tahun ini," katanya.
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor : Yudi Abdullah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Vaksin dan stimulus ekonomi dorong kinerja BUMN karya pada semester II
30 October 2020 9:03 WIB, 2020
Terpopuler - Info Bisnis
Lihat Juga
KAI Palembang catat 29.253 tiket Lebaran 2026 terjual, 50 persen dari kapasitas
10 February 2026 19:44 WIB