Jangan stigmakan teroris dengan agama tertentu, kata BNPT
Sabtu, 3 Februari 2018 9:41 WIB
Komjen Pol Suhardi Alius (ANTARA)
Padang (ANTARA News Sumsel) - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengingatkan publik untuk tidak memberikan stigma bahwa teroris identik dengan agama tertentu.
"Jangan stigmakan teroris kepada agama apapun yang bertujuan menciptakan ketakutan adalah terorisme," kata Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius di Padang, Jumat usai memberikan kuliah umum di Universitas Andalas.
Ia menyampaikan memang secara kebetulan pelaku teror adalah mereka yang menyimpang dalam menafsirkan ajaran agama.
"Tapi dalam Islam sekali pun tidak ada mengajarkan kekerasan," kata dia.
Menurutnya kalau ada yang mencap orang bertakbir adalah radikal harus melihat kontennya dulu.
"Takbir untuk kebaikan itu boleh, tapi kalau untuk berbuat tidak benar itu yang tidak boleh," katanya.
Ia menyatakan tidak sependapat dengan pihak yang menyatakan takbir adalah radikal.
"Lain halnya membunuh orang lalu bertakbir itu namanya penyimpangan," lanjutnya.
Ia mengatakan Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan dan stigma yang ada juga akan membuat sulit dalam melakukan pemberantasan teroris.
Pada sisi lain ia berpesan kepada para mahasiswa di Tanah Air agar senantiasa menjaga idealisme dan tidak mudah terpengaruh radikalisme.
Para mahasiswa hari ini adalah masa depan Indonesia karena itu mereka harus dijaga agar tetap terpelihara idealismenya dan tidak mudah dirasuki paham yang menyesatkan, katanya.
Suhardi mengingatkan mahasiswa untuk membekali diri dengan akhlak yang baik dan moral karena akan menjadi filter mana informasi yang naik dan mana yang harus ditolak
"Mahasiswa harus cerdas, apalagi saat ini semua pegang gawai, lewat itu radikalimes bisa disebarkan," katanya.
(T.I030/T. Susilo)
"Jangan stigmakan teroris kepada agama apapun yang bertujuan menciptakan ketakutan adalah terorisme," kata Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius di Padang, Jumat usai memberikan kuliah umum di Universitas Andalas.
Ia menyampaikan memang secara kebetulan pelaku teror adalah mereka yang menyimpang dalam menafsirkan ajaran agama.
"Tapi dalam Islam sekali pun tidak ada mengajarkan kekerasan," kata dia.
Menurutnya kalau ada yang mencap orang bertakbir adalah radikal harus melihat kontennya dulu.
"Takbir untuk kebaikan itu boleh, tapi kalau untuk berbuat tidak benar itu yang tidak boleh," katanya.
Ia menyatakan tidak sependapat dengan pihak yang menyatakan takbir adalah radikal.
"Lain halnya membunuh orang lalu bertakbir itu namanya penyimpangan," lanjutnya.
Ia mengatakan Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan dan stigma yang ada juga akan membuat sulit dalam melakukan pemberantasan teroris.
Pada sisi lain ia berpesan kepada para mahasiswa di Tanah Air agar senantiasa menjaga idealisme dan tidak mudah terpengaruh radikalisme.
Para mahasiswa hari ini adalah masa depan Indonesia karena itu mereka harus dijaga agar tetap terpelihara idealismenya dan tidak mudah dirasuki paham yang menyesatkan, katanya.
Suhardi mengingatkan mahasiswa untuk membekali diri dengan akhlak yang baik dan moral karena akan menjadi filter mana informasi yang naik dan mana yang harus ditolak
"Mahasiswa harus cerdas, apalagi saat ini semua pegang gawai, lewat itu radikalimes bisa disebarkan," katanya.
(T.I030/T. Susilo)
Pewarta : Ikhwan Wahyudi
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polres Banyuasin tangkap dua tersangka pembunuhan berencana dua remaja di Talang Kelapa
07 September 2026 12:41 WIB
Terpopuler - Polhukam
Lihat Juga
Polres Banyuasin tangkap dua tersangka pembunuhan berencana dua remaja di Talang Kelapa
07 September 2026 12:41 WIB
Polwan bagikan 1.000 masker untuk antisipasi dampak karhutla ke warga Palembang
03 September 2026 7:41 WIB