Keheningan Sabtu pagi di Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, dipecah oleh suara gemuruh tanah yang gugur dari lereng Tebing Banaran.

Pagi yang seharusnya masih tenang dibalut kabut suasana perdesaan, dicabik dengan suara teriakan panik warga di bawah kaki bukit itu.

Tak ada yang menyangka, Sabtu di awal April itu akan menjadi kenangan buruk bagi warga setempat karena harus kehilangan tempat tinggal dan keluarganya akibat tertimbun tanah longsor.

Meski alam telah memperlihatkan tanda-tanda sejak dua pekan sebelumnya bahwa akan terjadi sesuatu, namun siapa yang mengira tanah akan luruh pada pagi itu, sekira pukul 07.40 WIB.

Warga telah menemukan tanda-tanda retakan di tebing pada 17 Maret 2017, dan semakin meluas akibat hujan yang terus mengguyur.

Melihat kondisi alam yang mencurigakan, kesadaran warga akan kemungkinan datangnya bencana timbul sehingga mereka mengungsi ke wilayah yang lebih aman dengan menumpang di rumah keluarga di desa tetangga pada malam hari.

Namun, kehidupan masih harus terus berjalan. Meski ancaman bencana mengintai, dapur tetap harus mengepul dan kebun jahe harus dipanen. Warga yang sebagian besar hidup bercocok tanam kembali lagi ke dusun mereka pada pagi hari.

Saat memanen jahe di tengah guyuran hujan warga mendengar suara gemuruh dan asap yang berasal dari tebing sehingga mereka berhamburan menyelamatkan diri.

Seperti kata peribahasa, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, bencana itu tak dapat dihindari sehingga menyebabkan 28 orang dilaporkan hilang oleh keluarganya dan 32 rumah tertimbun.

Pagi yang damai berubah menjadi kepanikan dengan isak tangis  para keluarga yang menjadi korban.

    
              Gerak Cepat Penanganan
Pascalongsor, bantuan mengalir berdatangan terutama para relawan dan tim pencarian dari berbagai unsur.

Tidak hanya dari daerah setempat, tapi juga dari kabupaten sekitar Ponorogo yang datang untuk membantu, terutama mencari korban.

Pencarian korban tertimbun tanah longsor masih terus dilakukan, meski sulitnya akses akibat jalan yang sempit dan material longsor yang begitu dalam mengukur permukiman warga.

Hingga Minggu (2/4), baru dua dari warga yang dilaporkan hilang yang ditemukan dan sudah dievakuasi serta teridentifikasi.

Empat unit alat berat diturunkan untuk menguruk material longsor dan membantu evakuasi.    
Kementerian Sosial juga menurunkan Taruna Siaga Bencana (Tagana) untuk evakuasi dan membuka dapur umum dengan kekuatan 135 personel.

Mereka terdiri dari Tagana Probolinggo 40 personel, Tagana Trenggalek, Nganjuk, Pacitan,  Magetan, Madiun dan kota Madiun masing-masing 10 personel dan anggota Kampung Siaga Bencana (KSB) Ngebel sebanyak 30 personel.

Bantuan permakanan dan kebutuhan pokok lainnya juga sudah disalurkan untuk memastikan kebutuhan korban dan para relawan bisa terpenuhi.

Total bantuan yang disalurkan Kementerian Sosial untuk penanganan tanah longsor di Ponorogo mencapai Rp1,34 miliar.

Bantuan tanggap darurat yang disalurkan berupa logistik dengan total bantuan senilai lebih dari Rp831 juta, operasional Tagana selama seminggu Rp70 juta serta menyiapkan santunan untuk ahli waris korban meninggal dunia senilai Rp420 juta dan juga korban luka-luka maksimal Rp5 juta.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang memang tengah melakukan kunjungan kerja ke Jawa Timur, langsung terjun ke lokasi sehari setelah bencana.

Khofifah memastikan agar kebutuhan pokok korban terpenuhi terutama pangan dan sandang. Ia juga meninjau lokasi longsor dengan naik motor.

    
              Daerah Rawan
Ponorogo dengan kontur wilayah yang berbukit merupakan salah satu dari daerah yang rawan bencana tanah longsor di Provinsi Jawa Timur.

Desa Banaran juga merupakan daerah bencana yang terletak pada zona kerentanan tinggi yang berpotensi untuk terjadi gerakan tanah.

Ditambah hujan dengan intensitas tinggi dan lama, maka kemungkinan besar tanah longsor akan terjadi.

Tercatat 323 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia yang rawan bencana alam, termasuk salah satunya tanah longsor.

Karena kerentanan dan kerawanan tanah di Banaran, sudah seharusnya pemerintah setempat memikirkan opsi relokasi bagi warga yang tinggal di sekitarnya untuk mencegah terulangnya bencana serupa.

Begitu juga dengan alamnya, harus tetap dijaga agar tidak rusak dan menjadi malapetaka jika daya dukung dan tampung alam sudah tak mampu lagi menahan bencana.

Jika sudah terlanjur rusak, ada baiknya dilakukan reboisasi agar alam berfungsi kembali sebagaimana mestinya.

Warga yang menetap di daerah rawan juga harus terus waspada dan mencermati setiap perubahan dan tanda-tanya yang diberikan alam.

Serta bijak dalam memanfaatkan anugerah kekayaan alam yang ada disekitarnya agar bencana tidak terus mengancam. Disinilah perlunya kita bersahabat dengan alam.

Pewarta : Desi Purnamawati
Editor : Ujang
Copyright © ANTARA 2024