Pakar: Gempa Aceh dampak pergeseran sesar aktif
Rabu, 7 Desember 2016 19:29 WIB
Warga bersepeda motor melaju di jalanan yang rusak akibat gempa 6.5 SR, di Meuredu, Pidie Jaya, Aceh (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)
Yogyakarta (Antarasumsel.com) - Seorang pakar gempa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkapkan gempa bumi berskala 6,5 skala Richter yang mengguncang wilayah Pidie Jaya, Aceh pada Rabu, pukul 05.03 WIB karena dampak pergeseran sesar aktif.
"Gempa Pidie Jaya ini disebabkan oleh pergerakan sesar aktif di kawasan tersebut," ujar pakar gempa dari UGM Gayatri Indah Marliyani, di Departemen Teknik Geologi UGM dalam keterangan tertulis di Yogyakarta, Rabu.
Gayatri mengatakan gempa itu berpusat di darat pada koordinat 5,19 ° LU dan 96,38 BT dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa merupakan dampak dari aktivitas sesar aktif di wilayah tersebut yang bersifat mendatar dan dekstral (menganan).
Ia menjelaskan sesar aktif yang bergerak di Pidie Jaya ini merupakan cabang dari sesar Sumatera di bagian utara. Sesar ini berorientasi barat laut-tenggara.
Gempa ini terjadi karena pengaruh dari pergerakan sesar yang sudah ada tapi belum terpetakan sebelumnya, katanya.
"Adanya tekanan dari zona subduksi atau penunjaman di selatan Sumatera memberikan gaya tekan yang kuat ke daerah permukaan dan akibatnya membentuk sesar-sesar yang aktif, gempa terjadi akibat pergerakan dari sesar-sesar ini," katanya.
Menurut dia, goncangan gempa terasa kuat di daerah ini dikarenakan pada wilayah dekat pusat gempa tersusun oleh batuan yang tidak kompak.
Gelombang gempa merambat lebih cepat pada batuan kompak dan melambat ketika melewati batuan yang lepas-lepas, katanya.
"Ketika melewati daerah dengan batuan yang lepas-lepas, amplitudo gelombang gempa akan membesar untuk bisa merambatkan energi yang sama, sehingga getaran yang dirasakan pada daerah ini lebih kuat. Getaran yang kuat dari gempa bumi ini juga bisa menimbulkan longsoran," kata dia.
"Gempa Pidie Jaya ini disebabkan oleh pergerakan sesar aktif di kawasan tersebut," ujar pakar gempa dari UGM Gayatri Indah Marliyani, di Departemen Teknik Geologi UGM dalam keterangan tertulis di Yogyakarta, Rabu.
Gayatri mengatakan gempa itu berpusat di darat pada koordinat 5,19 ° LU dan 96,38 BT dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa merupakan dampak dari aktivitas sesar aktif di wilayah tersebut yang bersifat mendatar dan dekstral (menganan).
Ia menjelaskan sesar aktif yang bergerak di Pidie Jaya ini merupakan cabang dari sesar Sumatera di bagian utara. Sesar ini berorientasi barat laut-tenggara.
Gempa ini terjadi karena pengaruh dari pergerakan sesar yang sudah ada tapi belum terpetakan sebelumnya, katanya.
"Adanya tekanan dari zona subduksi atau penunjaman di selatan Sumatera memberikan gaya tekan yang kuat ke daerah permukaan dan akibatnya membentuk sesar-sesar yang aktif, gempa terjadi akibat pergerakan dari sesar-sesar ini," katanya.
Menurut dia, goncangan gempa terasa kuat di daerah ini dikarenakan pada wilayah dekat pusat gempa tersusun oleh batuan yang tidak kompak.
Gelombang gempa merambat lebih cepat pada batuan kompak dan melambat ketika melewati batuan yang lepas-lepas, katanya.
"Ketika melewati daerah dengan batuan yang lepas-lepas, amplitudo gelombang gempa akan membesar untuk bisa merambatkan energi yang sama, sehingga getaran yang dirasakan pada daerah ini lebih kuat. Getaran yang kuat dari gempa bumi ini juga bisa menimbulkan longsoran," kata dia.
Pewarta : RH Napitupulu
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ketua DPD PDIP Sumsel instruksikan kader gotong royong bantu korban gempa NTT
15 August 2026 21:13 WIB
Terpopuler - Warta Bumi
Lihat Juga
Jaga ekosistem laut, Pertamina Trans Kontinental tanam 512 terumbu karang di Sulawesi Utara
20 August 2026 7:24 WIB
Ubah limbah jadi bermanfaat, Kilang Plaju dorong Kelompok Proklim ciptakan produk bernilai
10 August 2026 22:42 WIB
Tim Gabungan berhasil kendalikan karhutla di Taman Nasional Gunung Rinjani NTB
09 August 2026 10:53 WIB
Pertamina Kilang Plaju kukuhkan kawasan siaga bencana dan gelar pelatihan mitigasi
02 August 2026 8:36 WIB
Pakar IPB imbau pemerintah antisipasi risiko karhutla terkait Super El Nino 2026--2027
28 July 2026 16:46 WIB