Volume eskpor kopi Sumsel masih rendah
Jumat, 10 Juni 2016 14:40 WIB
Ilustrasi - Petani kopi Semendo tengah memetik buah kopi semendo yang matang di area perkebunan kopi milik warga Semendo Darat Ulu Muara Enim,Sumatera Selatan,Senin (4/2). (Foto Antarasumsel.com/13/Feny Selly/Aw)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Komoditas kopi saat ini masih menjadi salah satu andalan utama masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel), namun sayangnya volume ekspor dari komoditas kopi itu masih rendah.
"Volume ekspor kopi Sumsel hingga saat ini masih rendah dibandingkan dengan komoditas lainnya seperti karet dan kelapa sawit atau minyak sawit mentah (CPO)," kata Kadisperindag Sumsel, Permana, di Palembang, Jumat.
Disperindag Sumsel selama lima tahun terakhir mencatat provinsi itu hanya mampu mengekspor kopi sebanyak 160 ton per tahun dengan rata-rata sekitar 10-14 ton per bulan.
Padahal, kata dia, secara kualitas dan potensi tanaman kopi di Sumsel sangat besar, karena masih menjadi salah satu penghasilan utama masyarakat di beberapa kabupaten dan kota di provinsi tersebut.
"Melihat kondisi demikian, kami mengupayakan proses hilirisasi bagi kopi Sumsel yang nantinya akan diolah menjadi merek dagang milik Sumatera Selatan tanpa mencantumkan nama kedaerahan," kata Permana.
Selanjutnya, melalui upaya menekan penjualan kopi dalam bentuk bijian dengan memperkenalkan berdasarkan kualitas dan ukuran serta bentuk kemasan merek dagang.
"Kita di sini harus ada satu merek dagang kopi khas Sumsel atau Palembang, seperti di Aceh terkenal dengan kopi gayohnya, dan diharapkan dengan keragaman kopi di sini dapat disatukan menjadi merek dagang yang menjadi ciri khas daerah," katanya.
Ia berharap, dengan mulai mengurangi mata rantai perdagangan kopi yang selama ini terjadi, pemerintah akan mampu menciptakan perdagangan dan promosi lebih menguntungkan petani.
Serta membuat kopi Sumsel tidak kehilangan identitasnya yang selama ini diolah menjadi campuran kopi-kopi bermerEk di pasaran, katanya.
"Volume ekspor kopi Sumsel hingga saat ini masih rendah dibandingkan dengan komoditas lainnya seperti karet dan kelapa sawit atau minyak sawit mentah (CPO)," kata Kadisperindag Sumsel, Permana, di Palembang, Jumat.
Disperindag Sumsel selama lima tahun terakhir mencatat provinsi itu hanya mampu mengekspor kopi sebanyak 160 ton per tahun dengan rata-rata sekitar 10-14 ton per bulan.
Padahal, kata dia, secara kualitas dan potensi tanaman kopi di Sumsel sangat besar, karena masih menjadi salah satu penghasilan utama masyarakat di beberapa kabupaten dan kota di provinsi tersebut.
"Melihat kondisi demikian, kami mengupayakan proses hilirisasi bagi kopi Sumsel yang nantinya akan diolah menjadi merek dagang milik Sumatera Selatan tanpa mencantumkan nama kedaerahan," kata Permana.
Selanjutnya, melalui upaya menekan penjualan kopi dalam bentuk bijian dengan memperkenalkan berdasarkan kualitas dan ukuran serta bentuk kemasan merek dagang.
"Kita di sini harus ada satu merek dagang kopi khas Sumsel atau Palembang, seperti di Aceh terkenal dengan kopi gayohnya, dan diharapkan dengan keragaman kopi di sini dapat disatukan menjadi merek dagang yang menjadi ciri khas daerah," katanya.
Ia berharap, dengan mulai mengurangi mata rantai perdagangan kopi yang selama ini terjadi, pemerintah akan mampu menciptakan perdagangan dan promosi lebih menguntungkan petani.
Serta membuat kopi Sumsel tidak kehilangan identitasnya yang selama ini diolah menjadi campuran kopi-kopi bermerEk di pasaran, katanya.
Pewarta : Evan Ervani
Editor : Ujang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kopi asal Muara Enim dan Lahat sudah go internasional, tembus pasar Malaysia
13 November 2025 7:18 WIB
Pusri dorong Desa Tebat Benawa makin sehat dan cerdas lewat program Kopi Berkelanjutan
12 November 2025 14:32 WIB
Dewan Kopi Indonesia Provinsi Sumatera Selatan berikan penghargaan kepada Bupati Empat Lawang
29 October 2025 21:15 WIB
Pusri tingkatkan kapasitas UMK Desa Tebat Benawa lewat pelatihan digital marketing dan kopi kekinian
24 September 2025 12:05 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB