Hotspot di Sumatera tercatat 1.470 titik,
Senin, 22 Juni 2015 21:02 WIB
Ilustrasi - Peta sebaran titik api (hotspot) pada November 2014. (Foto Antarasumsel.com/14/Yudi Abdullah)
Pekanbaru (ANTARA Sumsel) - Berdasarkan pantauan Satelit NOAA-18, total hotspot sejak 1 Januari- 16 Juni 2015 di Sumatera tercatat sebanyak 1.470 titik, dan sebanyak 621 titik terdapat di Provinsi Riau.
"Sebanyak seribuan titik hotspot itu, maka kondisi hotspot sejak beberapa hari lalu dan diprediksi kondisi atmosfir untuk wilayah Sumatera pada umumnya dan Riau khususnya diperkirakan akan kering," kata Plt Gubernur Provinsi dalam keterangannya pada wartawan di Pekanbaru, Senin.
Ia mengatakan itu di sela peluncuran penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan untuk siaga darurat Karhutla Provinsi Riau tahap II.
Menurut dia, kondisi cuaca yang diperkirakan kering memicu akan bertambahnya hot spot sehingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerja sama dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Hujan Buatan - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan operasi TMC.
TMC dikenal hujan buatan itu, perlu dilakukan dalam upaya siaga darurat kebakaran hutan dan lahan untuk mengoptimalkan potensi awan menjadi hujan.
Secara regulasi peranan TMC untuk mitigasi bencana kebakaran lahan dan hutan telah tertuang dalam instruksi Presiden Republik Indonesia no. 16 tahun 2011 tentang peningkatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan, Presiden RI memberikan instruksi kepada Menteri Riset dan Teknologi untuk melakukan koordinasi dalam pemberian bantuan penanganan kebakaran hutan dan lahan dengan menggunakan teknologi hujan buatan.
"Operasi ini akan didukung oleh 1 unit pesawat jenis CN-295 milik TNI-AU pesawat ini dilengkapi dengan Artemis CN-295 yaitu konsul untuk penempatan dan pelepasan bahan semai pada pesawat CN-295 dengan kapasitas empat ton," katanya.
Sedangkan UPT hujan buatan juga bekerjasama dengan BMKG untuk memanfaatkan data radar cuaca stasiun meteorologi Pekanbaru.
"Sebanyak seribuan titik hotspot itu, maka kondisi hotspot sejak beberapa hari lalu dan diprediksi kondisi atmosfir untuk wilayah Sumatera pada umumnya dan Riau khususnya diperkirakan akan kering," kata Plt Gubernur Provinsi dalam keterangannya pada wartawan di Pekanbaru, Senin.
Ia mengatakan itu di sela peluncuran penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan untuk siaga darurat Karhutla Provinsi Riau tahap II.
Menurut dia, kondisi cuaca yang diperkirakan kering memicu akan bertambahnya hot spot sehingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerja sama dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Hujan Buatan - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan operasi TMC.
TMC dikenal hujan buatan itu, perlu dilakukan dalam upaya siaga darurat kebakaran hutan dan lahan untuk mengoptimalkan potensi awan menjadi hujan.
Secara regulasi peranan TMC untuk mitigasi bencana kebakaran lahan dan hutan telah tertuang dalam instruksi Presiden Republik Indonesia no. 16 tahun 2011 tentang peningkatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan, Presiden RI memberikan instruksi kepada Menteri Riset dan Teknologi untuk melakukan koordinasi dalam pemberian bantuan penanganan kebakaran hutan dan lahan dengan menggunakan teknologi hujan buatan.
"Operasi ini akan didukung oleh 1 unit pesawat jenis CN-295 milik TNI-AU pesawat ini dilengkapi dengan Artemis CN-295 yaitu konsul untuk penempatan dan pelepasan bahan semai pada pesawat CN-295 dengan kapasitas empat ton," katanya.
Sedangkan UPT hujan buatan juga bekerjasama dengan BMKG untuk memanfaatkan data radar cuaca stasiun meteorologi Pekanbaru.
Pewarta : Oleh : Frislidia
Editor : Yudi Abdullah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tim Satgas padamkan karhutla 8,5 hektare di Desa Merbau Ogan Komering Ulu
07 September 2026 22:41 WIB
Karhutla Gunung Bromo: Titik api Probolinggo padam, Pasuruan masih dipadamkan
12 August 2026 11:34 WIB
Karhutla hanguskan 10 hektare lahan di Muara Enim, tim gabungan gencarkan pemadaman
07 August 2026 20:10 WIB