Mensos imbau Pemda buat "One Stop Services"
Selasa, 26 Maret 2013 22:18 WIB
Ilustrasi - Menteri Sosial Salim Segaf saat kunker di Palembang.(Foto Antarasumsel.com/Yudi Abdullah)
Makassar (ANTARA Sumsel) - Menteri Sosial H Salim Sagaf Al Jufri mengimbau pemerintah daerah agar membuat "One Stop Services" untuk menangani Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
"Melalui pelayanan satu pintu itu semua pihak terkait bersama-sama menangani PMKS," kata Mensos pada kunjungan kerjanya di Makassar, Selasa.
Melalui fasilitas layanan itu, lanjut dia, PMKS tahu tempatnya mengadu, serta mengetahui nomor telepon pengaduan masalah.
Sebagai gambaran, ketika PMKS datang ke tempat itu, mereka tahu harus ke loket mana sesuai dengan permasalahan yang dihadapinya.
"Apakah itu masalah pengangguran, akses mendapat layanan kesehatan, pendidikan dan sebagainya," katanya.
Selain itu, lanjut Mensos, di lokasi itu juga tersedia "counter space" untuk relawan. Sehingga PMKS dan relawan dapat saling berinteraksi.
Dia mengatakan, untuk memberikan pelayanan optiomal terhadap PMKS, maka dibutuhkan pendataan yang akurat.
"Misalnya masalah beras untuk masyarakat miskin (Raskin), itu membutuhkan data yang akurat," ujarnya.
Menurut dia, untuk mengubah mental masyarakat tidaklah mudah. Karena ketika tidak mendapatkan Raskin lagi, karena tingkat kesejahteraannya sudah meningkat berdasarkan hasil pembaharuan data, masih ditemukan banyak yang menyalahka pihak petugas lapangan, misalnya kepala desa.
Khusus menganai dana Raskin periode 2013, Salim mengatakan, tidak lagi ditangani oleh pihak Bulog.
Alokasi dana Raskin sebanyak Rp17 triliun pada periode tersebut, kembali ditangani Kemensos.
"Tugas pokok Bulog hanya masalah pengadaan dan distribusi, jadi jangan dibebani lagi dengan masalah anggaran," ungkapnya.
"Melalui pelayanan satu pintu itu semua pihak terkait bersama-sama menangani PMKS," kata Mensos pada kunjungan kerjanya di Makassar, Selasa.
Melalui fasilitas layanan itu, lanjut dia, PMKS tahu tempatnya mengadu, serta mengetahui nomor telepon pengaduan masalah.
Sebagai gambaran, ketika PMKS datang ke tempat itu, mereka tahu harus ke loket mana sesuai dengan permasalahan yang dihadapinya.
"Apakah itu masalah pengangguran, akses mendapat layanan kesehatan, pendidikan dan sebagainya," katanya.
Selain itu, lanjut Mensos, di lokasi itu juga tersedia "counter space" untuk relawan. Sehingga PMKS dan relawan dapat saling berinteraksi.
Dia mengatakan, untuk memberikan pelayanan optiomal terhadap PMKS, maka dibutuhkan pendataan yang akurat.
"Misalnya masalah beras untuk masyarakat miskin (Raskin), itu membutuhkan data yang akurat," ujarnya.
Menurut dia, untuk mengubah mental masyarakat tidaklah mudah. Karena ketika tidak mendapatkan Raskin lagi, karena tingkat kesejahteraannya sudah meningkat berdasarkan hasil pembaharuan data, masih ditemukan banyak yang menyalahka pihak petugas lapangan, misalnya kepala desa.
Khusus menganai dana Raskin periode 2013, Salim mengatakan, tidak lagi ditangani oleh pihak Bulog.
Alokasi dana Raskin sebanyak Rp17 triliun pada periode tersebut, kembali ditangani Kemensos.
"Tugas pokok Bulog hanya masalah pengadaan dan distribusi, jadi jangan dibebani lagi dengan masalah anggaran," ungkapnya.
Pewarta : Oleh: Suriani Mappong
Editor : Yudi Abdullah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mensos: Validitas data penerima manfaat jadi kunci sukses Program Sekolah Rakyat
28 June 2026 19:54 WIB
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Polisi selamatkan 13 wisatawan tenggelam akibat kapal karam di Labuan Bajo
27 September 2026 17:13 WIB
Puluhan rumah di Pademangan terbakar, 380 jiwa kehilangan tempat tinggal
27 September 2026 12:26 WIB
Tim SAR gabungan cari nelayan hilang di perairan Kuala Tungkal Tanjabbar
27 September 2026 12:24 WIB
Peringatan Dini BMKG: Potensi gelombang tinggi 4 meter dan hujan lebat lokal
23 September 2026 10:37 WIB
Akses Jalan Solok - Padang lumpuh akibat banjir bandang, polisi imbau lewat Padang Panjang
22 September 2026 8:15 WIB