Nelayan keluhkan sulit dapatkan bbm
Minggu, 5 Agustus 2012 12:54 WIB
SPBU sering kehabisan stok solar (FOTO ANTARA)
Toboali, Bangka Selatan (ANTARA Sumsel) - Nelayan tradisional di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung mengeluhkan kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak solar karena stok BBM di SPBN kurang memadai.
"Selama bulan Ramadhan ini, stok di Stasiun Pengisian BBM Nelayan (SPBN) kurang, seiring maraknya pengerit BBM jenis solar untuk penambangan bijih timah," kata Suyitno, salah seorang nelayan di Toboali, Minggu.
Ia menjelaskan, saat ini BBM untuk mengoperasionalkan kapal tidak mencukupi sehingga hasil tangkapan kurang, karena nelayan tidak bisa melaut lebih jauh.
"Saat ini, stok BBM di SPBN sering kosong, sehingga kami terpaksa membeli eceran dengan harga tinggi, sehingga biaya melaut semakin tinggi, sementara hasil tangkapan ikan berkurang akibat cuaca yang tidak menentu," ujarnya.
Ia mengatakan, kebutuhan solar untuk kapal berkapasitas 5 GT sebanyak 40 liter untuk melaut selama lima hari, namun ketersediaan BBM di SPBN terbatas, nelayan terpaksa membeli solar eceran sebanyak 20 liter dan terkadang tidak mendapatkan karena permintaan solar ini cukup tinggi.
"Saat ini, pedagang solar eceran lebih mengutamakan permintaan dari penambang timah, karena lebih berani membayar solar lebih tinggi," ujarnya.
Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Bangka Selatan, kebutuhan BBM untuk kapal nelayan mencapai dua ton per hari untuk 2.575 unit kapal yang tersebar di Kecamatan Toboali, Lepar Pongok, Tukak Sadai, Pulau Besar, Simpang Rimba, sementara penduduk di dua Kecamatan Payung dan Air Gegas tidak ada yang berprofesi nelayan.
Dari 2.575 unit kapal nelayan tersebut, jumlah perahu tanpa motor sebanyak 420 unit, perahu motor tempel sebanyak 151 unit, kapal nelayan berkapasitas 5 GT hingga 10 GT sebanyak 1.891 unit, kapal berkapasitas 10 hingga 20 GT sebanyak 15 unit.
Menurut dia, BBM di SPBN mulai sulit didapatkan semenjak harga bijih timah kembali naik, sehingga para pengerit, penambang dan pemilik mesin tambang timah berlomba-lomba membeli BBM dalam jumlah besar untuk mengoperasikan mesin tambangnya.
Untuk itu, kata dia, diharapkan instansi terkait, Pertamina dan aparat kepolisian meningkatkan pengawasan penyaluran BBM di SPBN dan menindak tegas oknum petugas SPBN yang menjual kepada para pengerit.
Sementara itu, Danan, salah seorang nelayan Toboali mengatakan, banyak nelayan yang tidak bisa melaut karena tidak mendapatkan solar untuk mengoperasikan kapal tangkap ikan.
"Apabila BBM di SPBN habis, kami terpaksa membeli eceran yang harganya mencapai Rp8.000 hingga Rp10 ribu per liter," katanya.(Ant)
"Selama bulan Ramadhan ini, stok di Stasiun Pengisian BBM Nelayan (SPBN) kurang, seiring maraknya pengerit BBM jenis solar untuk penambangan bijih timah," kata Suyitno, salah seorang nelayan di Toboali, Minggu.
Ia menjelaskan, saat ini BBM untuk mengoperasionalkan kapal tidak mencukupi sehingga hasil tangkapan kurang, karena nelayan tidak bisa melaut lebih jauh.
"Saat ini, stok BBM di SPBN sering kosong, sehingga kami terpaksa membeli eceran dengan harga tinggi, sehingga biaya melaut semakin tinggi, sementara hasil tangkapan ikan berkurang akibat cuaca yang tidak menentu," ujarnya.
Ia mengatakan, kebutuhan solar untuk kapal berkapasitas 5 GT sebanyak 40 liter untuk melaut selama lima hari, namun ketersediaan BBM di SPBN terbatas, nelayan terpaksa membeli solar eceran sebanyak 20 liter dan terkadang tidak mendapatkan karena permintaan solar ini cukup tinggi.
"Saat ini, pedagang solar eceran lebih mengutamakan permintaan dari penambang timah, karena lebih berani membayar solar lebih tinggi," ujarnya.
Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Bangka Selatan, kebutuhan BBM untuk kapal nelayan mencapai dua ton per hari untuk 2.575 unit kapal yang tersebar di Kecamatan Toboali, Lepar Pongok, Tukak Sadai, Pulau Besar, Simpang Rimba, sementara penduduk di dua Kecamatan Payung dan Air Gegas tidak ada yang berprofesi nelayan.
Dari 2.575 unit kapal nelayan tersebut, jumlah perahu tanpa motor sebanyak 420 unit, perahu motor tempel sebanyak 151 unit, kapal nelayan berkapasitas 5 GT hingga 10 GT sebanyak 1.891 unit, kapal berkapasitas 10 hingga 20 GT sebanyak 15 unit.
Menurut dia, BBM di SPBN mulai sulit didapatkan semenjak harga bijih timah kembali naik, sehingga para pengerit, penambang dan pemilik mesin tambang timah berlomba-lomba membeli BBM dalam jumlah besar untuk mengoperasikan mesin tambangnya.
Untuk itu, kata dia, diharapkan instansi terkait, Pertamina dan aparat kepolisian meningkatkan pengawasan penyaluran BBM di SPBN dan menindak tegas oknum petugas SPBN yang menjual kepada para pengerit.
Sementara itu, Danan, salah seorang nelayan Toboali mengatakan, banyak nelayan yang tidak bisa melaut karena tidak mendapatkan solar untuk mengoperasikan kapal tangkap ikan.
"Apabila BBM di SPBN habis, kami terpaksa membeli eceran yang harganya mencapai Rp8.000 hingga Rp10 ribu per liter," katanya.(Ant)
Pewarta :
Editor : M. Suparni
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Jaga pasokan domestik, Rusia perpanjang larangan ekspor bensin hingga akhir 2026
26 July 2026 9:56 WIB
Pertamina Patra Niaga: Disparitas harga jadi pemicu utama penyalahgunaan BBM Subsidi
01 May 2026 20:24 WIB
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Prakiraan cuaca Jakarta Rabu, 16 September 2026: Cerah hingga cerah berawan
16 September 2026 9:18 WIB
Tim SAR evakuasi tujuh pendaki Gunung Nokilalaki Sigi yang kehabisan logistik
13 September 2026 16:44 WIB
Keluarga penumpang Kapal Virgo Transport 8 cemas menanti evakuasi di Pelabuhan Trisakti
13 September 2026 16:35 WIB
Kecelakaan Kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa: 6 meninggal, 97 selamat
13 September 2026 16:32 WIB
Kapal Pertamina selamatkan 16 korban KMP Virgo Transport 08 di Laut Jawa
13 September 2026 16:29 WIB
Pemadaman kebakaran Gunung Bromo lewat water bombing terkendala cuaca buruk
13 September 2026 16:21 WIB
Basarnas kerahkan helikopter cari korban kecelakaan Kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa
13 September 2026 12:52 WIB
Tim SAR pusatkan pencarian lima jurnalis hilang di radius terdekat Gunung Anak Krakatau
11 September 2026 21:26 WIB