Teater tradisional "Dul Muluk" terancam punah
Kamis, 31 Mei 2012 15:06 WIB
Sejumlah pelakon Dul Muluk dari sanggar Harapan Jaya tengah melakukan pertunjukkan di Graha Budaya Jakabaring Palembang, Sabtu (21/4). (FOTO antarasumsel.com/Feny/12)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Seni pertunjukan tradisional khas Palembang "Dul Muluk" terancam punah akibat jarang tampil dalam kehidupan masyarakat dewasa ini, kata Ketua Seksi Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Sumatera Selatan, Dadang Irawan.
"Padahal dahulu, jenis kesenian itu sering ditampilkan dalam acara hajatan semisal perkawinan, khitanan, atau pun syukuran lainnya, namun seiring berkembangnya zaman, dan semakin modernnya peradaban manusia maka kesenian teater Dul Muluk semakin ditinggalkan," ujarnya di Palembang, Kamis.
Masyarakat lebih senang mengundang musik organ tunggal atau musik modern lainnya untuk memeriahkan acara hajatan.
"Jika tidak diwaspadai dari sekarang bisa jadi seni pertunjukan Dul Muluk yang lahir sekitar abad 20-an ini benar-benar punah. Apalagi seniman-seniman yang biasa memainkannya telah rentah sementara anak-anak muda enggan menggantikan," katanya.
Konsep "Dul Muluk" hanya sebuah pertunjukan dongeng atau pembacaan kisah pertualangn Abdul Muluk Jauhari, anak dari Sultan Adbul Hamid Syah yang bertahta di Negeri Berbari.
Peran ini dimainkan saudagar-saudagar Arab (Gujarat) pada malam hari sehabis berniaga di Kota Palembang dan sekitarnya.
"Ternyata kisah yang dicuplik dari buku Syair (Sultan) Abdul Muluk karangan seorang perempuan bernama Saleha ini menarik perhatian oleh sebagian besar masyarakat Palembang. Sejak itulah pada berbagai kesempatan, sosok saudagar Gujarat itu kerap diundang untuk membacakan dongeng maupun pembacaan kisah Abdul Muluk dalam bahasa Melayu klasik ataupun pantun-pantun bertutur," ujarnya.
Pemerintah Provinsi Sumsel berupaya melestarikan kesenian khas daerah itu dengan memberikan kesempatan kepada senima-seniman menggelar pertunjukan pada sejumlah acara penting.
"Pada SEA Games tahun 2011 lalu, Dul Muluk kerap ditampilkan untuk menjamu para tamu-tama negara. Pada beberapa kesempatan juga ditampilkan mal-mal Kota Palembang untuk menarik perhatian dan menghilangkan citra terkebelakangnya," katanya.
Selain itu, dilakukan workshop pembinaan teater tadisional bekerja sama dengan Dewan Kesenian Sumsel.
"Saat ini Dul Muluk sudah tampil secara rutin pada sejumlah televisi swasta lokal. Ini sudah berjalan kurang lebih satu tahun dan cukup berhasil menggugah masyarakat untuk melestarikannya," ujarnya.(ANT/pso-039)
"Padahal dahulu, jenis kesenian itu sering ditampilkan dalam acara hajatan semisal perkawinan, khitanan, atau pun syukuran lainnya, namun seiring berkembangnya zaman, dan semakin modernnya peradaban manusia maka kesenian teater Dul Muluk semakin ditinggalkan," ujarnya di Palembang, Kamis.
Masyarakat lebih senang mengundang musik organ tunggal atau musik modern lainnya untuk memeriahkan acara hajatan.
"Jika tidak diwaspadai dari sekarang bisa jadi seni pertunjukan Dul Muluk yang lahir sekitar abad 20-an ini benar-benar punah. Apalagi seniman-seniman yang biasa memainkannya telah rentah sementara anak-anak muda enggan menggantikan," katanya.
Konsep "Dul Muluk" hanya sebuah pertunjukan dongeng atau pembacaan kisah pertualangn Abdul Muluk Jauhari, anak dari Sultan Adbul Hamid Syah yang bertahta di Negeri Berbari.
Peran ini dimainkan saudagar-saudagar Arab (Gujarat) pada malam hari sehabis berniaga di Kota Palembang dan sekitarnya.
"Ternyata kisah yang dicuplik dari buku Syair (Sultan) Abdul Muluk karangan seorang perempuan bernama Saleha ini menarik perhatian oleh sebagian besar masyarakat Palembang. Sejak itulah pada berbagai kesempatan, sosok saudagar Gujarat itu kerap diundang untuk membacakan dongeng maupun pembacaan kisah Abdul Muluk dalam bahasa Melayu klasik ataupun pantun-pantun bertutur," ujarnya.
Pemerintah Provinsi Sumsel berupaya melestarikan kesenian khas daerah itu dengan memberikan kesempatan kepada senima-seniman menggelar pertunjukan pada sejumlah acara penting.
"Pada SEA Games tahun 2011 lalu, Dul Muluk kerap ditampilkan untuk menjamu para tamu-tama negara. Pada beberapa kesempatan juga ditampilkan mal-mal Kota Palembang untuk menarik perhatian dan menghilangkan citra terkebelakangnya," katanya.
Selain itu, dilakukan workshop pembinaan teater tadisional bekerja sama dengan Dewan Kesenian Sumsel.
"Saat ini Dul Muluk sudah tampil secara rutin pada sejumlah televisi swasta lokal. Ini sudah berjalan kurang lebih satu tahun dan cukup berhasil menggugah masyarakat untuk melestarikannya," ujarnya.(ANT/pso-039)
Pewarta :
Editor : Yudi Abdullah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Film Dul Muluk dan Dul Malik potensial promosikan pariwisata Sumsel
29 September 2024 6:11 WIB, 2024
Pj Gubernur Sumsel berharap film Dul Muluk dan Dul Matin berdampak ke promosi daerah
28 September 2024 19:52 WIB, 2024
Pj Gubernur Sumsel tak canggung syuting film "Dulmuluk dan Dulmalik"
13 January 2024 14:15 WIB, 2024
Pebulu tangkis Viktor Axelsen tak ingin pasang target muluk di seri Indonesia
09 June 2022 14:33 WIB, 2022