Srikandi-srikandi di daerah terpencil
Senin, 28 November 2011 14:13 WIB
(ANTARA News) Jalanan berbatu yang berbukit dan berkelok dengan sisi jalan berupa hutan atau perkebunan di pelosok gunung, atau daerah ilalang menuju pantai terisolir merupakan pemandangan sehari-hari yang harus dilewati para guru di daerah terpencil.
Sumiyati A.Ma, Guru Sekolah Dasar (SD) Negeri 70 Seluma di Desa Cawang, Kecamatan Lubuk Sandi, Kabupaten Seluma, Bengkulu, misalnya, tidak peduli jika setiap hari harus mendatangi murid-muridnya di kawasan perbukitan, sementara ia sendiri tinggal di Kota Bengkulu, tepatnya di Kelurahan Betungan, Kecamatan Selebar.
Dari rumahnya ke sekolahnya ia harus mengendarai motor sejauh 60 km selama 2,5-3 jam. Ia berangkat pagi sekali sebelum pukul 06.00 WIB dan sampai di sekolah pukul 08.00 WIB lebih dengan kondisi jalan mendaki dan menurun serta belum beraspal.
"Itu tanggung jawab saya sebagai tenaga pendidikan sejak saya menerima SK (Surat Keputusan) pengangkatan sebagai Pegawai Negeri Sipil," kata wanita keturunan Jawa kelahiran Lampung 6 April 1966 itu saat ditemui di pertemuan Guru-guru Daerah Khusus di Jakarta beberapa waktu lalu.
Saat ini ia menjadi wali kelas II dan mengajar seluruh mata pelajaran bagi 17 murid dari total murid di sekolah itu yang jumlahnya 84 orang yang kebanyakan merupakan anak-anak dari petani perkebunan karet dan kopi rakyat di pelosok Seluma.
Banyak dari muridnya yang tinggal jauh dari sekolah, bahkan ada yang jauh di pelosok bukit lalu ikut tinggal bersama kerabatnya di dusun tersebut untuk bersekolah. Banyak juga dari mereka yang tidak bersepatu ke sekolah dan tidak memiliki buku tulis ataupun pena.
"Jadi kami memang menggunakan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk membelikan mereka buku tulis dan pena selain buku-buku pelajaran. Saya sering menyemangati mereka agar tetap senang bersekolah di tengah keterbatasan, mengajak mereka belajar di luar kelas di bawah pohon sambil bermain," katanya.
Ditanya soal murid-muridnya, ia mengakui murid-murid dusun yang lugu ini memang jarang mengerjakan pekerjaan rumah dan tidak rajin belajar, namun ia memakluminya karena Dusun Cawang memang belum kemasukan jaringan listrik PLN sehingga gelap menjelang malam hingga pagi.
Soal gedung sekolah, ia mengungkapkan, untuk ruang kelas V dan VI sudah layak dengan atap seng karena sudah direnovasi pada 2008, tetapi kelas I sampai kelas IV masih separuh papan dan separuh bambu dan berlantai tanah.
"Kami juga berharap sekolah bisa dilengkapi WC, karena selama ini kami ke sungai. Termasuk guru-guru jika ingin buang air," kata guru PNS golongan IIc ini sambil menambahkan bahwa sekolahnya juga berharap dilengkapi perpustakaan untuk memperkaya pengetahuan murid-murid.
Dari 10 guru SDN 70 Seluma, enam di antaranya sudah PNS, namun empat lainnya masih honorer dengan honor sekitar Rp100 ribu per bulan, bahkan ada yang di antaranya sudah lebih dari lima tahun menjadi honorer menunggu-nunggu untuk diangkat menjadi PNS.
"Saya harap teman-teman ini bisa segera diangkat, karena dengan penghasilan Rp100 ribu sebulan, sulit untuk hidup di zaman sekarang," katanya.
Anak Nelayan
Sementara itu dari Provinsi Sumatera Utara, ada Yanti Nirmala S.Pd, guru SD Negeri 102052 di Jalan Bagan Kuala, Kabupaten Serdang Bedagai, yang sudah lima tahun mengajar di daerah terpencil di kawasan pantai utara Sumut.
Para muridnya merupakan anak-anak nelayan miskin yang mengandalkan makan sehari-hari dari mencari ikan dan kepak (sejenis kerang lokal) serta mencari kayu di hutan pantai di kawasan itu.
Untuk menemui 32 muridnya di kelas III dari 170 total murid sekolahnya setiap hari, ia membutuhkan lebih dari setengah jam perjalanan sekitar enam km naik motor dari rumahnya yang berada di Jalan Desa Nagur, Kecamatan Tanjung Beringin di Kabupaten yang sama.
Untuk menuju sekolahnya itu ia juga harus melalui hutan yang gelap yang jika musim hujan becek, namun ia tidak takut karena mengajar sudah merupakan jalan hidupnya dan panggilan hatinya.
Meski sekolah dengan 10 guru ditambah kepala sekolah itu terbilang sudah layak pakai karena sudah direnovasi sejak 2009, namun setiap kali pasang sekolah yang merupakan satu-satunya di desa itu terpaksa kemasukan air laut.
"Sekolah kami tetap belajar meski keadaan banjir," katanya. Dengan demikian para siswa harus bergotong royong membersihkan sekolah sebelum pelajaran dimulai keesokan harinya.
Guru kelas III SD ini menilai para muridnya termasuk siswa yang kemauan belajarnya kurang dan menganggap sekolah bukan merupakan hal penting.
"Waktu ujian saja ada anak-anak yang harus dijemput ke rumahnya," katanya sambil menekankan ia ingin sekali muridnya menjadi anak yang semangat belajar agar daerah tersebut di masa mendatang bisa menjadi daerah yang lepas dari keterbelakangan dan bisa lebih maju.
Kelahiran Sumut 1 Januari 1969 yang sebelumnya juga mengajar di SD terpencil lain di lain kecamatan itu juga berharap pemerintah lebih memperhatikan pendidikan di daerah terpencil dengan menambah fasilitas sekolah dan memberi insentif yang cukup bagi para gurunya.
Saat ini dengan golongan IIb pegawai negeri sipil gajinya hanya Rp2.300.000 per bulannya, namun ia sangat senang pada tahun terakhir ini ia diberi tunjangan rapel daerah khusus oleh pemerintah sekitar Rp13 juta dan berharap insentif ini terus berlanjut.
35 Km Jaraknya
Sedangkan dari Sumatera Barat, Lasmami Hartini, guru SD Negeri 20 Air Amo, Desa Nagari Air Amo, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung, mengaku sekolahnya jauh dari mana-mana, dengan jarak dengan kota kecamatan Kamang Baru mencapai 25 km, dan jarak dengan Kota Kabupaten sampai sekitar 100 km.
Bahkan untuk sampai di sekolah, dari rumahnya di Kelurahan Sungai Tambang di Kecamatan Kamang Baru, jaraknya mencapai sekitar 35 km dan harus dicapainya dengan mengendarai motor selama kurang lebih satu jam.
Sebanyak 98 muridnya memang merupakan warga desa setempat yang merupakan anak-anak dari petani ladang yang miskin. Warga Desa Air Amo memang hanya memiliki satu SD ini.
Sudah beberapa bulan terakhir ia bersukur telah merasakan jalanan menuju ke sekolahnya sudah beraspal sehingga jalan berbukit-bukit yang dilaluinya tidak lagi terlalu sulit dilewati.
Wanita kelahiran Sumbar, 3 Juni 1968 ini juga merasakan kesedihan mereka ketika mulai mengajar di sekolah tersebut pada 2008 ketika jalan menuju desa tersebut belum beraspal dan membuatnya sangat terisolir.
Hingga kini pun SD yang berada di daerah terpencil ini belum menikmati jaringan listrik sehingga desa menjadi gelap gulita jika malam tiba. Bahkan sinyal telepon pun tidak sampai ke sana, sehingga komunikasi dengan daerah luar sangat sulit.
Ketiadaan listrik ini membuat para murid tidak bisa belajar di rumahnya jika malam sudah gelap, sayangnya sepulang sekolah di siang hingga sore harinya orang tua mereka juga tidak mendorong anak-anaknya agar rajin belajar, justru sebaliknya anak-anak diminta orang tua membantu pekerjaan di ladang sepulang sekolah.
"Tapi murid-murid saya sebenarnya pintar-pintar dan semangat ke sekolah," kata wanita yang sebelum mengajar di SDN 20 Air Amo, sudah lebih dulu menjadi guru bantu di sebuah SD di Desa Parit Rantang, Kecamatan Kamang Baru, Sijunjung.
Ia berharap, listrik segera masuk ke desa Air Amo sehingga murid-muridnya tetap bisa belajar sepulang dari berladang. Ia juga menginginkan dibangunnya perpustakaan di sekolahnya dengan dilengkapi buku-buku bermutu.
PNS golongan IIb ini juga berharap sekolahnya mendapat tambahan ruangan kelas, karena selama ini sekolah yang sudah ada sejak 1982 itu hanya memiliki enam ruangan, sehingga untuk kelas I terpaksa dibagi dua dengan kantor guru.
Saat ini di SD tempatnya mengajar sudah ada sembilan guru, dimana empat di antaranya merupakan honorer yang upahnya hanya Rp100 ribu per bulan. Untuk para honorer ini ia berharap bisa segera diangkat menjadi PNS.
Ia juga mengungkapkan, dengan ditemukannya bijih Mangan di daerahnya sejak tahun ini warga banyak berharap desanya menjadi kawasan pertambangan dan bisa lebih maju perekonomiannya. Namun menurut dia sumber daya manusia juga harus dipersiapkan.
Keterpencilan ternyata tidak menciutkan nyali para wanita mulia ini untuk mengajar anak-anak di pelosok dengan niat tulis menjadikan mereka lebih berpikiran maju, sehingga di masa depan bisa memiliki kehidupan yang lebih cerah. (ANT-D009/M033)
Sumiyati A.Ma, Guru Sekolah Dasar (SD) Negeri 70 Seluma di Desa Cawang, Kecamatan Lubuk Sandi, Kabupaten Seluma, Bengkulu, misalnya, tidak peduli jika setiap hari harus mendatangi murid-muridnya di kawasan perbukitan, sementara ia sendiri tinggal di Kota Bengkulu, tepatnya di Kelurahan Betungan, Kecamatan Selebar.
Dari rumahnya ke sekolahnya ia harus mengendarai motor sejauh 60 km selama 2,5-3 jam. Ia berangkat pagi sekali sebelum pukul 06.00 WIB dan sampai di sekolah pukul 08.00 WIB lebih dengan kondisi jalan mendaki dan menurun serta belum beraspal.
"Itu tanggung jawab saya sebagai tenaga pendidikan sejak saya menerima SK (Surat Keputusan) pengangkatan sebagai Pegawai Negeri Sipil," kata wanita keturunan Jawa kelahiran Lampung 6 April 1966 itu saat ditemui di pertemuan Guru-guru Daerah Khusus di Jakarta beberapa waktu lalu.
Saat ini ia menjadi wali kelas II dan mengajar seluruh mata pelajaran bagi 17 murid dari total murid di sekolah itu yang jumlahnya 84 orang yang kebanyakan merupakan anak-anak dari petani perkebunan karet dan kopi rakyat di pelosok Seluma.
Banyak dari muridnya yang tinggal jauh dari sekolah, bahkan ada yang jauh di pelosok bukit lalu ikut tinggal bersama kerabatnya di dusun tersebut untuk bersekolah. Banyak juga dari mereka yang tidak bersepatu ke sekolah dan tidak memiliki buku tulis ataupun pena.
"Jadi kami memang menggunakan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk membelikan mereka buku tulis dan pena selain buku-buku pelajaran. Saya sering menyemangati mereka agar tetap senang bersekolah di tengah keterbatasan, mengajak mereka belajar di luar kelas di bawah pohon sambil bermain," katanya.
Ditanya soal murid-muridnya, ia mengakui murid-murid dusun yang lugu ini memang jarang mengerjakan pekerjaan rumah dan tidak rajin belajar, namun ia memakluminya karena Dusun Cawang memang belum kemasukan jaringan listrik PLN sehingga gelap menjelang malam hingga pagi.
Soal gedung sekolah, ia mengungkapkan, untuk ruang kelas V dan VI sudah layak dengan atap seng karena sudah direnovasi pada 2008, tetapi kelas I sampai kelas IV masih separuh papan dan separuh bambu dan berlantai tanah.
"Kami juga berharap sekolah bisa dilengkapi WC, karena selama ini kami ke sungai. Termasuk guru-guru jika ingin buang air," kata guru PNS golongan IIc ini sambil menambahkan bahwa sekolahnya juga berharap dilengkapi perpustakaan untuk memperkaya pengetahuan murid-murid.
Dari 10 guru SDN 70 Seluma, enam di antaranya sudah PNS, namun empat lainnya masih honorer dengan honor sekitar Rp100 ribu per bulan, bahkan ada yang di antaranya sudah lebih dari lima tahun menjadi honorer menunggu-nunggu untuk diangkat menjadi PNS.
"Saya harap teman-teman ini bisa segera diangkat, karena dengan penghasilan Rp100 ribu sebulan, sulit untuk hidup di zaman sekarang," katanya.
Anak Nelayan
Sementara itu dari Provinsi Sumatera Utara, ada Yanti Nirmala S.Pd, guru SD Negeri 102052 di Jalan Bagan Kuala, Kabupaten Serdang Bedagai, yang sudah lima tahun mengajar di daerah terpencil di kawasan pantai utara Sumut.
Para muridnya merupakan anak-anak nelayan miskin yang mengandalkan makan sehari-hari dari mencari ikan dan kepak (sejenis kerang lokal) serta mencari kayu di hutan pantai di kawasan itu.
Untuk menemui 32 muridnya di kelas III dari 170 total murid sekolahnya setiap hari, ia membutuhkan lebih dari setengah jam perjalanan sekitar enam km naik motor dari rumahnya yang berada di Jalan Desa Nagur, Kecamatan Tanjung Beringin di Kabupaten yang sama.
Untuk menuju sekolahnya itu ia juga harus melalui hutan yang gelap yang jika musim hujan becek, namun ia tidak takut karena mengajar sudah merupakan jalan hidupnya dan panggilan hatinya.
Meski sekolah dengan 10 guru ditambah kepala sekolah itu terbilang sudah layak pakai karena sudah direnovasi sejak 2009, namun setiap kali pasang sekolah yang merupakan satu-satunya di desa itu terpaksa kemasukan air laut.
"Sekolah kami tetap belajar meski keadaan banjir," katanya. Dengan demikian para siswa harus bergotong royong membersihkan sekolah sebelum pelajaran dimulai keesokan harinya.
Guru kelas III SD ini menilai para muridnya termasuk siswa yang kemauan belajarnya kurang dan menganggap sekolah bukan merupakan hal penting.
"Waktu ujian saja ada anak-anak yang harus dijemput ke rumahnya," katanya sambil menekankan ia ingin sekali muridnya menjadi anak yang semangat belajar agar daerah tersebut di masa mendatang bisa menjadi daerah yang lepas dari keterbelakangan dan bisa lebih maju.
Kelahiran Sumut 1 Januari 1969 yang sebelumnya juga mengajar di SD terpencil lain di lain kecamatan itu juga berharap pemerintah lebih memperhatikan pendidikan di daerah terpencil dengan menambah fasilitas sekolah dan memberi insentif yang cukup bagi para gurunya.
Saat ini dengan golongan IIb pegawai negeri sipil gajinya hanya Rp2.300.000 per bulannya, namun ia sangat senang pada tahun terakhir ini ia diberi tunjangan rapel daerah khusus oleh pemerintah sekitar Rp13 juta dan berharap insentif ini terus berlanjut.
35 Km Jaraknya
Sedangkan dari Sumatera Barat, Lasmami Hartini, guru SD Negeri 20 Air Amo, Desa Nagari Air Amo, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung, mengaku sekolahnya jauh dari mana-mana, dengan jarak dengan kota kecamatan Kamang Baru mencapai 25 km, dan jarak dengan Kota Kabupaten sampai sekitar 100 km.
Bahkan untuk sampai di sekolah, dari rumahnya di Kelurahan Sungai Tambang di Kecamatan Kamang Baru, jaraknya mencapai sekitar 35 km dan harus dicapainya dengan mengendarai motor selama kurang lebih satu jam.
Sebanyak 98 muridnya memang merupakan warga desa setempat yang merupakan anak-anak dari petani ladang yang miskin. Warga Desa Air Amo memang hanya memiliki satu SD ini.
Sudah beberapa bulan terakhir ia bersukur telah merasakan jalanan menuju ke sekolahnya sudah beraspal sehingga jalan berbukit-bukit yang dilaluinya tidak lagi terlalu sulit dilewati.
Wanita kelahiran Sumbar, 3 Juni 1968 ini juga merasakan kesedihan mereka ketika mulai mengajar di sekolah tersebut pada 2008 ketika jalan menuju desa tersebut belum beraspal dan membuatnya sangat terisolir.
Hingga kini pun SD yang berada di daerah terpencil ini belum menikmati jaringan listrik sehingga desa menjadi gelap gulita jika malam tiba. Bahkan sinyal telepon pun tidak sampai ke sana, sehingga komunikasi dengan daerah luar sangat sulit.
Ketiadaan listrik ini membuat para murid tidak bisa belajar di rumahnya jika malam sudah gelap, sayangnya sepulang sekolah di siang hingga sore harinya orang tua mereka juga tidak mendorong anak-anaknya agar rajin belajar, justru sebaliknya anak-anak diminta orang tua membantu pekerjaan di ladang sepulang sekolah.
"Tapi murid-murid saya sebenarnya pintar-pintar dan semangat ke sekolah," kata wanita yang sebelum mengajar di SDN 20 Air Amo, sudah lebih dulu menjadi guru bantu di sebuah SD di Desa Parit Rantang, Kecamatan Kamang Baru, Sijunjung.
Ia berharap, listrik segera masuk ke desa Air Amo sehingga murid-muridnya tetap bisa belajar sepulang dari berladang. Ia juga menginginkan dibangunnya perpustakaan di sekolahnya dengan dilengkapi buku-buku bermutu.
PNS golongan IIb ini juga berharap sekolahnya mendapat tambahan ruangan kelas, karena selama ini sekolah yang sudah ada sejak 1982 itu hanya memiliki enam ruangan, sehingga untuk kelas I terpaksa dibagi dua dengan kantor guru.
Saat ini di SD tempatnya mengajar sudah ada sembilan guru, dimana empat di antaranya merupakan honorer yang upahnya hanya Rp100 ribu per bulan. Untuk para honorer ini ia berharap bisa segera diangkat menjadi PNS.
Ia juga mengungkapkan, dengan ditemukannya bijih Mangan di daerahnya sejak tahun ini warga banyak berharap desanya menjadi kawasan pertambangan dan bisa lebih maju perekonomiannya. Namun menurut dia sumber daya manusia juga harus dipersiapkan.
Keterpencilan ternyata tidak menciutkan nyali para wanita mulia ini untuk mengajar anak-anak di pelosok dengan niat tulis menjadikan mereka lebih berpikiran maju, sehingga di masa depan bisa memiliki kehidupan yang lebih cerah. (ANT-D009/M033)
Pewarta : Oleh Dewanti Lestari
Editor : AWI-SEO&Digital Ads
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Indonesia terjunkan dua tim pada Srikandi Merdeka Cup 2026, targetkan pembinaan sepak bola putri
30 July 2026 9:58 WIB
Pemprov Sumsel optimalkan SPBE lewat aplikasi Srikandi dan tanda tangan elektronik
22 July 2026 20:47 WIB
Aminah Syukur dan Dorinawati, srikandi perintis pendidikan di Kalimantan Timur
21 April 2026 10:53 WIB
PLN Baturaja membangun Generasi Emas melalui Program Srikandi Mengajar
06 December 2024 13:36 WIB, 2024
Terpopuler - Artikel
Lihat Juga
Kisah inspiratif Suhartini: Berdayakan perempuan desa lewat inovasi olahan pinang
05 August 2026 14:39 WIB
Catatan jurnalis ANTARA dari Xizang: Mengenal obat tradisional Tibet dan terapi Lum
01 August 2026 10:38 WIB