Berita Politik kemarin, serunya 'gathering' menteri, tanggapan pakar

id Politik, gathering menteri, pakar politik, akademisi

Presiden Joko Widodo (kedua kiri) yang menggendong cucunya Jan Ethes menyaksikan lomba makan kerupuk yang diikuti Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kanan), Mantan Mendikbud yang sekarang menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kiri) saat "gathering" keluarga Kabinet Kerja di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (4/8/2019). Gathering yang diikuti menteri kabinet kerja dan keluarga itu mengangkat tema solidaritas tanpa batas. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww

Jakarta (ANTARA) - Sejumlah berita politik yang terjadi akhir pekan pertama bulan Agustus, Minggu (4/8) kemarin, menjadi perhatian publik dan masih menarik untuk dibaca ulang, mulai dari 'gathering' Presiden Joko Widodo bersama menteri dan keluarga di Istana Bogor, hingga komentar sejumlah pakar terkait isu terkini perpolitikan Indonesia.

Berikut sejumlah berita politik kemarin yang masih menarik untuk dibaca hari ini:

Presiden Joko Widodo mengaku awalnya merencanakan acara "gathering" menteri Kabinet Kerja setiap enam bulan sekali bersama masing-masing keluarga, namun kenyataannya baru terwujud pada tahun kelima pemerintahan.

"Iya ini kan sudah lama, rencana lama dan inginnya itu kan 6 bulan ketemu sekali atau minimum setahun sekali, tapi ini 5 tahun baru sekali, ha ha ha," kata Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Minggu.

Selengkapnya di sini :

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memenangi lomba makan kerupuk yang diadakan dalam acara Gathering Keluarga Kabinet Kerja "Solidaritas Tanpa Batas".

Pada pertandingan pertama peserta lomba makan kerupuk adalah mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani, mantan Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Adrinof Chaniago, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly, Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.

Selengkapnya di sini :

Cucu pertama Presiden Joko Widodo, Jan Ethes Srinarendra, ogah untuk ikut lomba makan kerupuk bersama dengan anak-anak sebayanya dalam acara "Gathering" Keluarga Kabinet Kerja Solidaritas Tanpa Batas.

Awalnya Jan Ethes yang digendong Presiden Joko Widodo tampak tertarik melihat para menteri dan mantan menteri berlomba makan kerupuk di halaman Istana Kepresidenan Bogor pada Minggu.

Selengkapnya baca di sini :

Di sela-sela keseruan 'gathering' para menteri Kabinet Indonesia Kerja (KIK) jilid I di Istana Bogor, sejumlah pengamat memberikan pandangannya terkait politik.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP PAN Saleh Partaonan Daulay menilai pendapat para tokoh senior partai tersebut akan menjadi salah satu referensi dalam menentukan sikap politik yang akan diambil.

Karena itu menurut dia, Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan sedang memetakan dinamika politik yang berkembang untuk selanjutnya diselaraskan dengan masukan dan pandangan dari tokoh senior, kader, simpatisan, dan masyarakat.

Selengkapnya di sini :

Sementara itu Golkar mulai melirik kaum milenial masuk mesin politik.

Wakil Koordinator bidang Pratama DPP Partai Golkar Bambang Soesatyo menilai partai tersebut harus merangkul semua golongan dan kelompok-kelompok kekuatan nasionalis yang saat ini ada di dalam generasi milenial.

"Karakter generasi milenial sudah banyak diulas. Jika Golkar ingin melakukan pendekatan kepada mereka, tentu saja pola pendekatannya berbeda dengan pola yang dulu digunakan oleh para perancang Sekber Golkar," kata Bambang Soesatyo--biasa disapa--Bamsoet dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu.

Selengkapnya di sini:

Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Kasim Riau, Prof Alaidin Koto mengatakan pemilihan menteri pengisi Kabinet Indonesia Kerja jilid II perlu mempertimbangkan keterwakilan daerah sebagai pengikat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Keterwakilan daerah itu adalah salah satu langkah mengantisipasi munculnya gejolak-gejolak yang berdasarkan kedaerahan untuk memperteguh nilai-nilai, rasa ke-NKRI-an," kata Alaidin saat dihubungi Antara di Jakarta, Minggu.

Selengkapnya di sini :

Pewarta : Laily Rahmawaty
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar