Taufik Hidayat dikonfirmasi tupoksi sebagai staf khusus di Kemenpora

id TAUFIK HIDAYAT, KPK, MANTAN PEBULU TANGKIS, STAF KHUSUS, SATLAK PRIMA

Mantan pebulu tangkis Indonesia Taufik Hidayat usai dimintai keterangan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (1-8-02019). (Foto: Benardy Ferdiansyah)

Jakarta (ANTARA) - Mantan pebulu tangkis Indonesia Taufik Hidayat mengaku dimintai keterangan soal tugas, pokok, dan fungsi (tupoksi) saat masih menjadi staf khusus di Kemenpora dan Wakil Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima).

"Cuma dimintai keterangan saja, saya 'kan sebagai stafsus Kemenpora pada tahun 2017 s.d. 2018 itu saja. Saya di Satlak Prima sebagai apa, kerjaannya apa di situ," ucap Taufik usai dimintai keterangan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis.

KPK pada hari  Kamis meminta keterangan Taufik dalam pengembangan dari perkara sebelumnya di Kemenpora yang telah diproses di persidangan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Baca juga: Menpora tegaskan tak ketahui perwakilan KONI datang ke Muktamar NU

Lebih lanjut, dia juga mengaku dimintai keterangan soal pengetahuannya tentang Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi.

"Ya, kenal Pak Imam di mana, itu saja," kata Taufik.

Selain itu, dia juga mengaku dikonfirmasi soal pengetahuannya tentang asisten pribadi (aspri) Menpora Imam Nahrawi bernama Miftahul Ulum.

"Ditanya kenal, ya, kenal," ujar Taufik.

Saat dikonfirmasi apakah dirinya juga dikonfirmasi soal perkara korupsi terkait dengan dana hibah dari pemerintah kepada KONI, Taufik mengaku tidak ada pertanyaan soal itu.

"Tidak, tidak ditanyain," ungkapnya.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyatakan lembaganya meminta keterangan Taufik dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Satlak Prima dan staf khusus di Kemenpora.

Baca juga: Aspri Menpora membenarkan terima uang 'ngopi' dari terdakwa Ending

"Taufik Hidayat dimintakan keterangan dalam penyelidikan sebagai Wakil Ketua Satlak Prima dan staf khusus di Kemenpora," kata Febri.

Sebelumnya, dalam perkara korupsi terkait dengan dana hibah, Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy divonis 2 tahun dan 8 bulan penjara ditambah denda Rp100 juta subsider 2 bulan, sedangkan Johny E. Awuy divonis 1 tahun dan 8 bulan penjara ditambah denda Rp50 juta subsider 2 bulan.

Keduanya dinilai terbukti menyuap Deputi IV bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Mulyana, Asisten Olahraga Prestasi pada Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Adhi Purnomo dan Staf Deputi IV Olahraga Prestasi Kemenpora Eko Triyanta agar dapat memperlancar dua proposal dana hibah yang diajukan oleh KONI.

Baca juga: Menpora jadi saksi dugaan suap dana hibah KONI di Pengadilan Tipikor

Dalam putusan tersebut, hakim juga menilai bahwa asisten pribadi (aspri) Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi bernama Miftahul Ulum terbukti menerima Rp11,5 miliar serta ATM dan buku tabungan dari Sekjen dan Bendahara Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

"Untuk memenuhi commitment fee yang diminta, Ending Fuad Hamidy dan Johny E. Awuy telah juga memberikan kepada Miftahul Ulum selaku aspri menteri melalui Arief Susanto selaku protokoler Kemenpora yang seluruhnya berjumlah Rp11,5 miliar untuk kepentingan Menpora," kata hakim Arifin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (20/5).

Pewarta : Benardy Ferdiansyah
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar