Rencana strategis kesehatan fokus pada upaya preventif

id logo kemenkes

Kementerian Kesehatan RI (Ist)

Jakarta (ANTARA) - Rencana Strategis pemerintah bidang kesehatan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 hingga 2024 berfokus pada berbagai upaya preventif untuk mengendalikan kasus penyakit yang banyak terjadi di Indonesia.

“Masih ada masalah kesehatan yang menjadi prioritas dalam RPJMN itu dan harus diselesaikan melalui Renstra Kemenkes. Renstra dibentuk untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut agar terpenuhi pelayanan dasar masyarakat Indonesia," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Oscar Primadi dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Senin.

Ia menjabarkan strateginya dapat dilakukan melalui peningkatan kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, kesehatan reproduksi, percepatan perbaikan gizi masyarakat, peningkatan pengendalian penyakit, penguatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), dan penguatan sistem kesehatan dan pengawasan obat dan makanan.

Peningkatan kesehatan ibu dan anak mencakup peningkatan seluruh persalinan di fasilitas kesehatan, peningkatan kompetensi bidan, penyediaan sarana prasarana dan farmasi, perluasan imunisasi dasar lengkap terutama pada daerah dengan cakupan rendah dan pengembangan imunisasi untuk menurunkan kematian bayi.

Baca juga: Kemenkes: Obesitas masalah kesehatan cukup serius

Terkait percepatan perbaikan gizi masyarakat, dilakukan untuk pencegahan dan penanggulangan permasalahan gizi seperti stunting. Kemudian peningkatan pengendalian penyakit dengan perhatian khusus pada penyakit tidak menular dan penyakit menular, penyakit yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa, dan penyakit jiwa.

Penguatan Germas dilakukan dengan mengembangkan kawasan sehat, seperti kabupaten-kota sehat, sekolah sehat, dan lingkungan kerja yang sehat. Sementara penguatan sistem dan pengawasan obat dan makanan mencakup di antaranya fokus pada efisiensi pengadaan obat dan vaksin dengan mempertimbangkan kualitas produk.

Selain itu fokus juga pada perluasan cakupan dan kualitas pengawasan pre dan post market obat dan pangan berisiko. Hal ini didukung oleh peningkatan kompetensi SDM pengawas dan penguji serta pemenuhan sarana prasarana laboratorium.

Baca juga: Masalah kesehatan masih jadi momok di era Revolusi Industri 4.0

Oscar menambahkan kondisi derajat kesehatan Indonesia saat ini sudah membaik namun belum merata di seluruh wilayah di Indonesia.

Berbagai masalah kesehatan masih terjadi di setiap daerah, seperti kematian ibu dan bayi, kapasitas tenaga kesehatan, dan tingginya prevalensi penyakit menular utama yaitu HIV/AIDS, TB dan malaria, disertai dengan ancaman emerging diseases akibat tingginya mobilitas penduduk.

Menurut Global Burden of Disease, 2017 perubahan beban penyakit di dunia terjadi dari yang sebelumnya penyakit menular atau masalah kesehatan ibu, anak, dan gizi kini menjadi penyakit tidak menular.

Pada 1990 lima jenis beban penyakit lebih condong pada gangguan neonatal, infeksi saluran pernapasan bawah, diare, Tuberkulosis, dan stroke. Sementara pada 2017 kasus beban penyakit berubah menjadi stroke, penyakit jantung iskemik, dan diabetes, gangguan neonatal, dan tuberkulosis.

Baca juga: Pasien stroke di RS Pusat Otak Nasional capai 350 orang per hari


Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar