IPW sebut atasan bisa deteksi dini anggotanya

id tembak polisi

Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S. Pane (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengatakan kasus oknum polisi menembak polisi sebenarnya tidak perlu terjadi jika atasan mampu melakukan deteksi dini perilaku anak buahnya.

"Atasan harus memperhatikan perilaku anak buahnya, misalnya mendadak beringas, gampang emosi, tensi tinggi," katanya, saat dihubungi Antara, di Jakarta, Jumat, menanggapi insiden polisi tembak polisi yang kembali terjadi.

Neta mengingatkan jika atasan menemukan anggotanya yang perilakunya menunjukkan keanehan, seperti mudah emosi dan sebagainya harus merekomendasikan untuk psikotes ulang.

Baca juga: Polisi tembak polisi, Lemkapi sebut cek psikologi enam bulan sekali

"Kemudian, dia jangan dikasih pegang senjata dulu. Kedua, jangan dikasih tugas yang berat, apalagi bersentuhan dengan masyarakat," katanya.

Pemantauan perilaku anggota, kata dia, menjadi tugas atasan langsung dalam unit kerja terkecil dan secara berjenjang melaporkan kepada unit kerja yang lebih tinggi.

"Yang paling 'concern' kan yang setiap hari bertemu dengan anak buahnya. Atasan paling bawah, misalnya kepala regu. Kan ada itu," katanya.

Baca juga: Peristiwa polisi tembak polisi di Polsek Cimanggis, karena tersinggung

Namun, diakui Neta, mekanisme itu yang seringkali diabaikan oleh jajaran kepolisian sampai akhirnya terjadi kasus penembakan oleh polisi semacam ini berulang lagi.

Dari catatan IPW, kasus polisi tembak polisi terakhir terjadi pada Oktober 2017 ketika anggota Brimob menembak temannya sesama anggota di lokasi tambang minyak rakyat di Blora, Jawa Tengah.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) Edi Saputra Hasibuan mengakui kondisi kejiwaan setiap personel polisi sulit dideteksi setiap saat meski sudah ada mekanisme pemberian senjata api.

Baca juga: Polisi ditembak polisi, jenazah dibawa ke RS Polri Kramat Jati

"Dalam hal ini perlu para pimpinan satuan kerja, baik itu kapolsek, kapolres meneliti perilaku setiap anggotanya yang aneh-aneh," kata Edi.

Sebelumnya, terjadi penembakan terhadap Bripka RE oleh Brigadir RT di Polsek Cimanggis, Depok, Kamis (25/7) malam, karena RT merasa kesal permintaannya tak dituruti korban RE.

Perselisihan bermula dari RE yang juga anggota Samsat Polda Metro Jaya mengamankan seorang pelaku tawuran berinisial FZ, pada Kamis malam.

Kemudian datang orangtua pelaku berinisial Z bersama dengan Brigadir RT ke Polsek Cimanggis, yang meminta dengan nada keras agar FZ dibina oleh orang tuanya.

Bripka RE menolak dengan nada keras sembari menjelaskan bahwa proses sedang berjalan. Brigadir RT yang naik pitam kemudian menembak Bripka RE hingga meninggal di lokasi.

Pewarta : Zuhdiar Laeis
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar