Kasus kematian 71 migran di Austria, 4 pelaku dipenjara seumur hidup

id perdagangan manusia,migran,pengungsi,austria,suriah,irak,afghanistan

(Arsip Foto) - Para migran menunggu diangkut bus di Nickelsdorf, Austria, 14 September 2015. Arus pengungsi dari negara-negara bertikai di Timur Tengah dan sekitarnya meningkat drastis, buntut dari kekacauan di negara-negara itu selama beberapa tahun terakhir. Eropa dan negara di Laut Mediterania jadi tujuan utama mereka. (Reuters)

Szeged, Hungaria (ANTARA) - Empat pelaku perdagangan manusia diputuskan mendapat hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan Hungaria, Kamis (20/6), atas kasus kematian 71 migran yang jasadnya ditemukan membusuk dan berjejal di dalam truk buangan di jalan tol Austria, Agustus 2015.

Dalam putusan akhir, hakim persidangan Erik Mezolaki menyatakan bahwa tiga pelaku tidak akan mendapatkan kesempatan pengurangan hukuman, sedangkan satu pelaku lain akan dihukum setidaknya 30 tahun penjara.

Pemimpin pelaku, orang Afghanistan, dan tiga kaki tangannya, orang Bulgaria, dinyatakan bersalah atas pembantaian karena menolak untuk menghentikan truk pendingin yang membawa korban dan membuka pintunya agar ada udara masuk, meskipun para korban telah memohon.

Menurut hakim pada persidangan tahun lalu, para korban yang menyadari mereka dalam bahaya sesak napas kemudian memukul-mukul pintu truk dan berteriak-teriak untuk mendapatkan perhatian para pelaku.

Kematian 71 korban yang yang terdiri dari 59 laki-laki, delapan perempuan, serta empat anak-anak dari Suriah, Irak, dan Afghanistan menggemparkan Eropa yang saat itu tengah berjuang mengatasi arus masuk para migran.

Kasus tersebut merupakan yang terburuk di sepanjang rute Balkan, di mana ratusan ribu migran melaluinya untuk mengungsi akibat perang dan kemiskinan di Timur Tengah, Afrika, dan Asia.

Sumber: Reuters

Baca juga: 20 Migran hilang di lepas pantai Spanyol

Baca juga: Trump: Belasan juta migran ilegal bakal diusir dari AS

Baca juga: Warga Banglades yang diperdagangkan ke Vanuatu mulai dipulangkan


 

Pewarta : Suwanti
Editor: Azizah Fitriyanti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar