Konsumsi masyarakat 100 kota besar sumbang 10 persen emisi global

id Emisi urban, emisi GRK, perubahan iklim

Petugas Dinas Lingkungan Hidup melakukan pemisahan sampah untuk dibuat kompos di Pusat Daur Ulang Sampah, Bandungrejosari, Malang, Jawa Timur, Kamis (4/42019). Diharapkan pembangunan Pusat Daur Ulang Sampah dari Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan (KLH) tersebut mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 5.000 ton CO2 per tahun. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto (ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO)

Jakarta (ANTARA) - Hasil penelitian terbaru dari C40 Cities menyebutkan emisi berbasis konsumsi masyarakat urban di 100 kota besar dunia merepresentasikan 10 persen emisi gas rumah kaca (GRK) global.

Riset baru The Future of Urban Consumption in a 1.5°C Worldyang dilakukan bersama dengan Arup dan the University of Leeds, memperingatkan bahwa emisi berbasis konsumsi perkotaan harus dikurangi setidaknya 50 persen pada 2030 untuk menjaga kemungkinan kenaikan suhu global tetap di bawah 1,5°C.

“Menghentikan krisis iklim butuh menjaga temperatur global hanya meningkat di bawah 1.5°C. Transformasi ekonomi global untuk mencapai tujuannya akan membutuhkan aksi pada skala yang belum pernah dilihat sebelumnya. Semuanya dan setiap orang harus berubah, tetapi langkah awal adalah memahami apa yang perlu dilakukan,” ujar Direktur Eksekutif C40 Cities Mark Watts dalam keterangan tertulisnya diterima di Jakarta, Kamis.

Penelitian ini secara jelas mendemonstrasikan bahwa mengubah cara mengkonsumsi dapat membuat kontribusi yang signifikan untuk memotong emisi, lanjutnya.

Ini adalah seruan untuk semua para pemimpin, bisnis dan warga negara untuk mempertimbangkan dampak iklim lokal dan global dari hal-hal yang mereka konsumsi, dan kesempatan untuk melibatkan warga dan bisnis dengan lebih baik dalam menyelesaikan keadaan darurat iklim, kata Watts.

Tanpa aksi yang mendesak, menurut dia, emisi tersebut akan mendekati dua kali lipat pada 2050. Studi mengungkap kesempatan luar biasa bagi kota-kota dan warganya untuk berkontribusi lebih untuk upaya global memotong emisi dan mengatasi darurat iklim.

Ketika dikombinasikan dengan upaya kota yang kuat untuk mengurangi emisi lokal, ini akan memungkinkan kota untuk memberikan 35 persen dari penghematan emisi yang dibutuhkan untuk menempatkan mereka pada jalur menekan peningkatan suhu global di bawah 1,5 ° C.

Daerah berpenghasilan tinggi, yang menghasilkan sebagian besar emisi, perlu memotong emisinya jauh lebih cepat, dua pertiga pada 2030. Untungnya, ia mengatakan penelitian ini menemukan bahwa jika negara, bisnis, kota dan warga mengambil tindakan iklim yang ambisius selama 10 tahun ke depan, kota akan berada di jalur yang benar untuk mengurangi emisinya sejalan dengan dunia yang mencegah peningkatan suhu di atas 1,5°C.

Baca juga: Inggris akan jadi anggota G7 pertama dengan target emisi nol bersih

Baca juga: Kemajuan Indonesia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca


Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar