RS Indonesia di Gaza-Myanmar diapresiasi Inggris

id MER-C,wakil dubes Inggris,Rumah sakit Indonesia,Gaza,Myanmar

Wakil Duta Besar Inggris untuk Indonesia Rob Fenn bertukar cendera mata dengan Ketua Presidium MER-C Indonesia, dr Sarbini Abdul Murad usai bertemu di Jakarta. (FOTO ANTARA/HO-MER-C/Andi Jauhari/2019)

Jakarta (ANTARA) - Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina, dan juga yang kini sedang dibangun di Rakhine State, Myanmar, oleh organisasi kegawatdaruratan kesehatan "Medical Emergency Rescue Committee" (MER-C) mendapat apresiasi dari Pemerintah Inggris.

"Apresiasi itu disampaikan oleh Bapak Wakil Duta Besar Inggris untuk Indonesia Rob Fenn saat menerima delegasi kami," kata Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Sarbini Abdul Murad, putra asal Aceh yang merupakan dokter Indonesia pertama yang berhasil masuk ke garis depan Gaza saat konflik Palestina-Israel pada 2008-2009 itu telah bertemu Wakil Dubes Inggris itu di kantornya belum lama berselang.

Ia menjelaskan bahwa dalam pertemuan itu, Wakil Duta Besar Inggris memberikan apresiasinya terhadap filosofi yang menjadi dasar program pembangunan RS Indonesia, terlebih di Rakhine State, sebuah wilayah yang sangat tertutup.

Pihaknya menghormati langkah tersebut, apalagi Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla terlibat langsung di dalamnya.

"Kami sangat tertarik dengan apa yang telah MER-C lakukan, baik di Palestina maupun di Myanmar. Saya berharap Inggris dan MER-C bisa bekerja sama dengan kami ke depan," kata Rob Fenn, seperti disampaikan Sarbini Abdul Murad.

Dalam pertemuan kedua belah pihak, disampaikan bahwa MER-C menyadari bahwa dana bukanlah hal yang utama, namun SDM sukarelawan yang setiap saat siap turun ke lapangan dan jaringan (networking) adalah hal terpenting dalam menjalankan organisasi kemanusiaan ini.

Ia menjelaskan, pertemuan dengan Wakil Dubes Inggris itu adalah upaya memperluas jaringan.

Sarbini memaparkan mengenai MER-C sebagai sebuah LSM Indonesia dengan berbagai program medis dan kemanusiaan, baik di dalam maupun di luar negeri.

Dua diantaranya adalah program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di wilayah konflik Jalur Gaza, Palestina dan Rakhine State, Myanmar.

 
Wakil Duta Besar Inggris untuk Indonesia Rob Fenn dan staf saat berdiskusi dengan Ketua Presidium MER-C Indonesia, dr Sarbini Abdul Murad usai bertemu di Jakarta. (FOTO ANTARA/HO-MER-C/Andi Jauhari/2019)


Khusus di wilayah Rakhine State, Sarbini menyampaikan bahwa pembangunan RS Indonesia adalah program kerja sama MER-C, PMI (Palang Merah Indonesia) dan Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia).

"Kami berharap RS Indonesia di Rakhine State bisa menjadi simbol perdamaian antara umat Muslim dan Budha di Myanmar sebagaimana yang membangun rumah sakit ini adalah umat Muslim, Budha dan rakyat Indonesia," kata Sarbini.

Ia menambahkan bahwa Wakil Presiden Jusuf Kalla -- yang juga menjabat Ketua Umum PMI -- juga sangat berperan dalam pembangunan RS Indonesia di Myanmar itu.

Pembangunan Rumah Sakit Indonesia yang luasnya lebih dari 7.000 meter persegi itu berada di Myaung Bwe Village, Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar.

Pada Februari 2019, "Site Manager" pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Ir Nur Ikhwan Abadi dari divisi konstruksi MER-C, bersama tiga sukarelawan MER-C lainnya, yaitu Ir Ahmad Fauzi (Site Engineer), serta Karidi dan Wanto, keduanya adalah sukarelawan bagian sipil dan mekanikal elektrikal,

Ia menjelaskan bahwa area pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) yang luasnya lebih dari 7.000 meter persegi itu berada di Myaung Bwe Village, Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar.

Menurut dia, pekan lalu (8/2) Nur Ikhwan Abadi berangkat ke Yangon bersama tiga sukarelawan MER-C lainnya, yaitu Ir Ahmad Fauzi (Site Engineer), serta Karidi dan Wanto, keduanya adalah sukarelawan bagian sipil dan mekanikal elektrikal berangkat ke Myanmar untuk merampungkan pekerjaan pembangunan yang sudah mencapao lebih dari 91 persen.

Tim divisi konstruksi MER-C itu bisa berangkat kembali ke Yangon, setelah adanya informasi dari Kedutaan Besar RI bahwa surat izin dari Kantor Presiden, Kementerian Kesehatan dan Olahraga, serta pemerintah negara bagian Rakhine telah didapat. (*)

Pewarta : Andi Jauhary
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar