202 CJH dan 56 petugas kloter Pekanbaru lakukan rekam biometrik

id Kanwil kemenag Riau

Rekam data biometrik. (antaranews.com)

Kota Pekanbaru (ANTARA) - Sebanyak 202 calon jamaah haji (CJH) dari Kota Pekanbaru, dan 56 petugas kloter melakukan perekaman biometrik sebagai prasyarat pembuatan visa jemaah haji berdasarkan ketentuan yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi.

"Hari ini semuanya yang melakukan perekaman biometrik menjadi 258 CJH, namun alat rekam biometrik ini baru bisa merekam jamaah 50 orang/hari, " kata Kasi Pendaftaran dan Dokumen haji Bidang PHU Kemenag Riau,  Suhardi Hasan di Pekanbaru, Jumat.

Menurut dia, kemudian perekaman biometrik pada hari ke empat baru bisa diplot sebanyak 200 orang lagi, tapi yang bisa melakukan perekaman baru 193 orang. Sedangkan pada hari Sabtu ada 230 orang jamaah Pekanbaru.

Pemerintah Arab Saudi menetapkan rekam biometrik sebagai prasyarat pembuatan visa jamaah haji. Proses rekam biometrik itu sudah dimulai sejak 19 Maret 2019 yang dipusatkan di Jl. Adisucipto Pekanbaru.

"Pekanbaru sengaja diprioritaskan karena lebih dekat maka lebih mudah diproses," katanya.

Proses perekaman berbasis manifest daftar jamaah haji yang diterbitkan oleh Kanwil Kemenag Riau dan manifest itu diserahkan ke pihak VFS Tasheel untuk dilakukan input data.

Ia menjelaskan dalm biometrik ini, kita mesti mengusulkan nama jamaah dulu ke indohaj, VFS Tasheel, setelah kita menetapkan manifes nama, baru bisa mereka balas. Selanjutnya baru pihak VFS Tasheel membuat jadwal perekaman dan terkait hal ini sudah diberitahu ke Kemenag kabupaten dan kota.

Menurut data yang diterima, katanya lagi, jamaah yang sudah melakukan biometrik sampai kemarin, Rabu (28/03) sebanyak 1.125 CJH.

Sementara itu, mengenai penambahan titik lokasi oleh VFS Tasheel dalam minggu ini tidak mungkin terjadi, jadi dijalankan apa adanya saja supaya keberangkatan jamaah tidak tertunda.

Ia mengakui keterbatasan ini menjadi kewenangan Pemerintahan Arab Saudi. Melalui VFS Tasheel, sedangkan pihak Kementerian Agama hanya sebatas penyelenggara saja.

Pewarta : Frislidia
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar