Angin kencang robohkan pohon dan halte di Palembang

id angin kencang,cuaca,iklim,hujan,bmkg,bencana

Halte Transmusi roboh di Jalan Basuki Rahmad, Palembang, Senin (25/3). (Antara News Sumsel/Dolly Rosana/19)

Palembang (ANTARA) - Hujan disertai angin kencang yang melanda kota Palembang, Sumatera Selatan, pada Selasa sore telah merobohkan puluhan pohon di beberapa wilayah dan satu unit halte bus Transmusi.

Halte bus Transmusi di Jalan Basuki Rakhmat terpantau roboh hingga bangunannya rusak total usai dihantam angin kencang sekitar pukul 16.30 WIB.

"Saya tadi lagi lewat tiba-tiba haltenya roboh, saya khawatir pohon di dekatnya juga akan roboh jadi saya segera menyingkir," kata seorang warga, Hafidz Maulan.

Menurutnya, kota Palembang pada beberapa hari terakhir ini memang dilanda cuaca buruk, namun hujan disertai angin kencang kali ini terasa lebih 'ganas' dari hari sebelumnya.

Sementara angin kencang juga merobohkan pohon di kawasan kampus Setia Negara Kenten mengakibatkan beberapa sepeda motor warga tertimpa pohon berukuran cukup besar.

Selain itu pohon dan baliho di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Rumah Susun 24 Ilir, Jalan Soekarno Hatta dan Gandus juga ikut roboh saat angin kencang tersebut terjadi.

Aliran listrik di beberapa lokasi sempat dimatikan oleh PLN setempat selama hampir satu jam.

Sampai saat ini belum ada laporan korban jiwa akibat cuaca buruk tersebut, serta belum ada tindakan dari pihak terkait untuk mengevakuasi pohon yang roboh dan bangunan halte yang rusak itu.

Peringatan BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika(BMKG) memperingatkan warga di wilayah Sumatera Selatan dan sekitarnya untuk meningkatkan kewaspadaan karena diperkirakan akan terjadi hujan disertai angin kencang dalam dua hari ke depan.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Bambang Benny Setiaji mengatakan cuaca ini terjadi karena posisi Matahari di atas ekuator/ khatulistiwa menyebabkan temperatur udara cenderung lebih panas dari biasanya dari pagi hingga menjelang siang hari.

"Hal ini merupakan indikasi musim transisi," katanya.

Ia mengatakan pasokan uap air dari Laut Cina Selatan yang melimpah seiring masih aktifnya angin muson baratan mengakibatkan potensi hujan pada sore  hingga malam hari semakin tinggi.

Tentu saja kondisi ini dapat diikuti angin kencang seiring perbedaan tekanan permukaan yang tinggi akibat kenaikan suhu signifikan pada pagi menjelang siang hari.

Menurut dia, respon terhadap kenaikan suhu antara permukaan yang tertutup (aspal, semen, dsb) dan permukaan yang terbuka (tanah, rawa, gambut, dsb) yang berbeda ini akan memicu perbedaan tekanan permukaan.

Kondisi ini diperburuk dengan gangguan badai tropis Trevor dan pusat-pusat tekanan rendah di Samudera Hindia Selatan Jawa yang mengakibatnya terjadinya konvergensi (pertemuan massa udara) yang sarat uap air di wilayah Sumatera Selatan yang meningkatkan pertumbuhan awan hujan (konvektif).

Seiring kadar air tanah yang jenuh dikarenakan musim hujan mengakibatkan potensi genangan hingga banjir akan semakin tinggi dan untuk daerah dataran tinggi berpotensi pergeseran tanah/ longsor
 

Pewarta : Dolly Rosana
Editor: Alex Sariwating
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar