Schneider Electric pabrik percontohan pertama industri 4.0

id smart factory,industri 4.0,Schneider, kemenperin

Penandatanganan Nota Kesepahaman dilakukan oleh Ngakan Timur Antara, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, dan Gabriel De Tissot, Vice President PT Schneider Electric Manufacturing Batam; disaksikan oleh Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian Republik Indonesia dan Jim Tobojka, Senior Vice President of Global Supply Chain for Schneider Electric in East Asia Japan Pacific, di Smart Factory Schneider Electric di Batam. (HO)

Batam (ANTARA News) - Schneider Electric di Batam, Kepulauan Riau, menjadi pabrik percontohan pertama Kementerian Perindustrian dalam mendorong akselerasi implementasi industri 4.0 di Indonesia, Jumat.

Secara umum, Industri 4.0 ditandai konektivitas, interaksi dan semakin konvergensinya batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya melalui teknologi informasi dan komunikasi. Implementasi Industri 4.0 di manufaktur sangat terkait dengan penyediaan infrastruktur, teknologi informasi dan komunikasi antara lain; Internet of Things, Big Data, Cloud Computing, Artificial Intellegence, Mobility, Virtual dan Augmented Reality, sistem sensor dan otomasi.

Untuk itu, Schneider Electric sebagai perusahaan global pengelolaan energi, otomasi dan proteksi listrik, hari ini menandatangani Nota Kesepahaman dengan Kemenperin terkait pengembangan dan penerapan Industri 4.0, yang bertujuan mengembangkan, meningkatkan keterampilan dan optimalisasi penggunaan hasil evolusi industri.

Nota Kesepahaman itu diteken Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kemenperin Ngakan Timur Antara bersama Vice President PT Schneider Electric Manufacturing Batam Gabriel De Tissot, disaksikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Senior Vice President of Global Supply Chain for Schneider Electric in East Asia Japan Pacific Jim Tobojka.

"Kolaborasi dengan berbagai mitra yang berkompeten di bidang transformasi digital seperti Schneider Electric merupakan bagian dari penguatan kebijakan Kemenperin dalam mempercepat pengimplementasian revolusi industri 4.0 di industri manufaktur yang memiliki peranan sangat penting dalam pencapaian visi Indonesia untuk mejadi 10 ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030," kata Airlangga Hartarto di pabrik Schneider Electric, Jumat.

Ia menambahkan, "Dengan adanya lighthouse berupa Smart Factory di Batam akan memberikan gambaran lebih riil kepada para pelaku industri di Indonesia mengenai proses perjalanan transformasi digital industri dan manfaatnya bagi bisnis."

Percepatan implementasi revolusi industri keempat oleh Kemenperin merupakan bagian dari inisiatif Making Indonesia 4.0, yang diluncurkan Presiden RI, Joko Widodo, pada 4 April 2018 dengan menetapkan lima sektor industri prioritas yaitu Industri Makanan dan Minuman, Industri Otomotif, Industri Elektronik, Industri Kimia dan Industri Tekstil dan Produk Tekstil.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian, Ngakan Timur Antara, menyampaikan "Selama tiga tahun masa Nota Kesepahaman, Schneider Electric akan menjadi mitra kerja Kemenperin dalam melaksanakan pelatihan dan pendampingan bagi para pelaku industri."

"Serta menjadi pabrik percontohan bagi pelaku industri di Indonesia yang ingin belajar dan menyaksikan secara langsung penerapan otomasi pabrik Schneider Electric di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia," katanya.

Ngakan mengatakan program pelatihan dan pendampingan "Manajer Transformasi Industri 4.0" bakal melatih peserta selama satu minggu terkait transformasi digital dalam penerapan industri 4.0.

Baca juga: Ragam teknologi Schneider untuk "smart home" masa kini
Karyawan Schneider Electric menggunakan teknologi "remote assistance" (tengah) dalam mendukung industri 4.0 sekaligus memudahkan serta mempercepat proses pekerjaan di pabrik Schneider Electric Batam, Jumat (16/11). (ANTARA News/Alviansyah P)


Meningkatkan produktivitas

Country President Schneider Electric Indonesia, Xavier Denoly, mengatakan Revolusi Industri 4.0 diperkirakan akan berkontribusi 3,7 triliun dolar AS terhadap perekonomian global karena meningkatnya produktivitas.

Menurut dia, teknologi digital dan globalisasi secara signifikan mengubah model bisnis di semua sektor, meningkatkan laju perubahan dalam dunia kerja dan menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru serta keterampilan yang lebih tinggi dari yang dibutuhkan sebelumnya.

"Kerjasama dengan Kemenperin dan Smart Factory kami di Batam dalam pelatihan dan pendampingan akan membuka peluang terbesar bagi para pelaku industri untuk berdiskusi dan membangun kompetensi dalam penerapan digitalisasi, otomasi dan proses transformasi digital di manufaktur dengan merujuk pada praktek terbaik yang pernah ada," kata Xavier Denoly.

Ia menambahkan bahwa Schneider Electric Indonesia telah bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk membangun pusat pelatihan dan pengembangan ahli ketenagalistrikan Indonesia, pengembangan kurikulum dan bantuan peralatan laboratorium yang menghasilkan lulusan kompeten untuk menghadapi era digitalisasi yang menargetkan 10.800 siswa SMK siap kerja hingga 2023.

Baca juga: Teknologi kontrol mesin jarak jauh teranyar dari Schneider Electric

Di Batam, Schneider mempekerjakan lebih dari 2.900 karyawan di tiga smart factory yang memproduksi ragam produk (contractor, relay, variable speed drives, sensors, circuit breakers, electronic boards) yang didistribusikan tidak hanya untuk pasar dalam negeri, namun juga Eropa, Amerika Utara, China, India dan wilayah Asia Pasifik.

"Kami sangat bangga dapat bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian Indonesia untuk menjadi pabrik percontohan Industri 4.0 pertama di Indonesia dan diperhitungkan sebagai salah satu perusahaan terkemuka di wilayah ini," kata Gabriel De Tissot, Vice President PT Schneider Electric Manufacturing Batam.

"Semua karyawan di pabrik kami mendapatkan manfaat dari solusi Industri 4.0 dimana return on investment (ROI) teknologi ini bervariasi dari 6 bulan sampai 2 tahun," kata dia.

Pewarta : Alviansyah Pasaribu
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar