BKKBN: Penting tingkatkan kualitas keluarga dalam era bonus demografi

id Bonus demografi Indonesia,demografi penduduk,stunting,BKKBN

BKKBN: Penting tingkatkan kualitas keluarga dalam era bonus demografi

Tangkapan layar Kepala BKKBN Hasto Wardoyo (depan, tengah) dalam acara Pencanangan Kegiatan Pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi Bersama Mitra Kerja Tahun 2021 yang diikuti melalui Youtube BKKBN Official di Jakarta, Senin (27/9/2021). (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan hal penting untuk meningkatkan kualitas keluarga dalam era bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini.

“Arahan dari Bapak Presiden perhatian terhadap kualitas keluarga menjadi sangat penting. Salah satu yang menjadi alasan adalah bahwa proporsi penduduk sekarang ini, maka jumlah penduduk yang berusia produktif usia kerja jauh lebih banyak dibandingkan yang berusia usia tidak produktif,” katanya dalam acara Pencanangan Kegiatan Pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi Bersama Mitra Kerja Tahun 2021 yang diikuti melalui Youtube BKKBN Official di Jakarta, Senin.

Ia menuturkan era bonus demografi yang dimiliki oleh negara merupakan kesempatan untuk dapat meningkatkan pendapatan per kapita yang berasal dari masyarakat.

Menurut dia, kunci penentu kesuksesan pemanfaatan bonus demografi untuk dapat menuju Indonesia emas pada 2024 diciptakan melalui kualitas sumber daya manusia generasi muda atau remaja.

Namun, adanya remaja yang putus sekolah untuk menikah dini, banyaknya kelahiran yang tidak direncanakan dan jumlah kematian ibu dan bayi yang masih banyak membuat hal tersebut kemungkinan sulit untuk dicapai apabila melihat keadaan sumber daya manusia di Tanah Air hingga hari ini.

Baca juga: BKKBN: Pandemi berdampak besar kurangnya pemenuhan gizi keluarga

Hasto juga menyebutkan angka kekerdilan yang masih tinggi, yaitu 27,67 persen, menunjukkan bahwa generasi bangsa Indonesia sepertiganya masih belum berkualitas dengan baik.

“Sehingga bonus demografi bisa menjadi beban pembangunan, bukan menjadi modal pembangunan. Bisa menjadi musibah, tidak menjadi berkah. Kalau seandainya kualitas generasi mudanya tidak baik karena tidak mampu bersaing,” katanya.

Ia menegaskan sebisa mungkin kekerdilan harus dicegah karena dapat memberikan dampak pada pembentukan generasi Indonesia yang berkualitas.

Hal tersebut dikarenakan kekerdilan dapat menghambat tumbuh kembang dan kecerdasan anak, sehingga anak tidak dapat bersaing di masa mendatang. Kekerdilan bahkan juga membuat anak jauh lebih mudah terkena penyakit saat memasuki usia tua.

Baca juga: BKKBN: Lebih baik beli makanan bergizi untuk anak ketimbang rokok

Untuk dapat membangun sumber daya manusia yang berkualitas, pihaknya melakukan sejumlah kegiatan pelayanan program Keluarga Berencana (KB) dan pelayanan kesehatan reproduksi di seluruh wilayah Indonesia.

Beberapa kegiatan yang dimaksud Hasto, antara lain melakukan kerja sama dengan rumah sakit di daerah yang dijadikan sebagai rumah sakit unggulan untuk melakukan pelayanan program KB dan menyediakan alat kontrasepsi bagi masyarakat yang membutuhkan.

Pihaknya juga memberikan alokasi dana pada daerah melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), baik fisik maupun nonfisik, untuk pendistribusian alat kontrasepsi dan memberikan jasa medis kepada dokter dan bidan yang melayani.

Dengan upaya-upaya yang dilakukan, dia berharap, menciptakan kualitas generasi masa depan yang unggul dan berkualitas.

“Semoga dengan kegiatan ini maka capaian-capaian di tahun 2021 bisa terpenuhi dengan baik di seluruh wilayah,” kata Hasto.

Baca juga: Kepala BKKBN ungkap penyebab stunting di Indonesia
Baca juga: BKKBN tegaskan stunting dapat menghambat bonus demografi
Baca juga: Guru Besar FEB UI: Bonus demografi bisa intervensi pembangunan manusia


Pewarta : Hreeloita Dharma Shanti
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar