Aceh tingkatkan kegiatan "silvofishery" di kawasan hutan mangrove

id Aceh,hari mangrove,hutan mangrove,lingkungan,perikanan,silvofishery,ekonomi,bisnis,wisata,DLHK

Aceh tingkatkan kegiatan "silvofishery" di kawasan hutan mangrove

Ilustrasi - Sejumlah wisatawan menikmati pemandangan di hutan mangrove yang telah dikembangkan menjadi kawasan wisata mangrove di pesisir Kota Langsa, Aceh. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

Banda Aceh (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh terus berupaya meningkatkan kegiatan silvofishery dalam rangka pelestarian mangrove serta upaya peningkatan ekonomi masyarakat di wilayah pesisir.

"Dalam penyelamatan atau konservasi mangrove kita lakukan kegiatan pemberdayaan ekonomi seperti silvofishery," kata Kabid Perlindungan dan Konservasi Sumberdaya Alam DLHK Aceh M Daud, di Banda Aceh, Senin.

Silvofishery itu sebagai upaya menyelamatkan hutan mangrove dengan penggabungan kegiatan perikanan. Di mana budidaya perikanan di kawasan mangrove tersebut disesuaikan dengan daerah setempat.

Silvofishery adalah sistem pertambakan teknologi tradisional yang menggabungkan antara usaha perikanan dengan penanaman mangrove, yang diikuti konsep pengenalan sistem pengelolaan dengan meminimalkan input dan mengurangi dampak terhadap lingkungan.

M Daud menyampaikan, seperti hutan mangrove di wilayah Kota Langsa, di kawasan itu banyak kegiatan silvofishery seperti budidaya ikan bandeng, kerapu, pembesaran kepiting hingga budidaya tiram.

Kegiatan itu sangat dimungkinkan karena kondisi hutan mangrove nya juga masih bagus, banyak biota laut yang menjadi sumber makanan ikan yang dibudidayakan dengan konsep silvofishery tersebut.

"Kegiatan silvofishery ini sangat dirasakan berdampak baik terhadap ekonominya masyarakat, dan ini juga sebagai tanda bahwa mangrove itu memberikan manfaat," kata M Daud.

Selain itu, lanjut M Daud, tanaman mangrove itu juga sangat bermanfaat dari sisi wisata, karena itu Pemerintah Aceh melalui Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) wilayah III sudah bekerjasama dengan Pemko Langsa terkait pengembangan wisata mangrove, serta dengan daerah Kabupaten Aceh Jaya.

M Daud menyebutkan, luas hutan mangrove yang masih cukup lestari di Aceh saat ini sekitar 30 ribu hektare (Ha) lebih, terluas di Kabupaten Aceh Tamiang mencapai 15 ribu Ha, Aceh Timur 7 Ha, dan sisanya dari beberapa kabupaten/kota lainnya di Aceh.

Dirinya kembali menuturkan,hutan mangrove ini memberikan manfaat terutama untuk warga pesisir, selain menjadi pengaman air laut, juga dapat menyelamatkan pantai, memberikan perlindungan terhadap aktivitas masyarakat.

Kemudian, lanjut M Daud, dampak besar lainnya dari ekosistem mangrove ini juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat jika benar-benar dikelola dengan baik.

"Sangat banyak fungsi ekosistem mangrove ini, selain dapat melindungi penduduk pesisir juga memberikan nilai ekonomi. Karenanya ini menjadi perhatian Pemerintah Aceh melalui DLHK," ujarnya.

M Daud menambahkan, pihaknya terus melaksanakan kegiatan pelestarian dan penyelamatan mangrove tersebut. Di mana proses rehabilitasi rutin dilakukan oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Bahkan, hampir setiap tahun ada perbaikan mangrove yang rusak.

"Rehabilitasi ini kita lakukan baik untuk hutan mangrove di wilayah timur maupun barat, dan selama ini kita juga dibantu LSM Yagasu yang memang intens melakukan penyelamatan mangrove bersama masyarakat," demikian M Daud.
Baca juga: ACB: Hutan mangrove ASEAN lindungi masyarakat hadapi perubahan iklim
Baca juga: BRGM ajak "stakeholder" perkuat rehabilitasi di Hari Mangrove Sedunia

 

Pewarta : Rahmat Fajri
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar