PSEL Benowo Surabaya bakal jadi pilot project strategis Nasional

id PSEL Benowo,pilot project,stategis nasional,pemkot surabaya

PSEL Benowo Surabaya bakal jadi pilot project strategis Nasional

Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang berada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, Kota Surabaya, Jatim. (FOTO ANTARA/HO-Humas Pemkot Surabaya)

Surabaya (ANTARA) - Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang berada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, Kota Surabaya, Jatim, yang akan diresmikan Presiden Joko Widodo pada Kamis (6/5) bakal menjadi pilot project strategis Nasional.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Pemerintah Kota Surabaya Anna Fajriatin di Surabaya, Rabu mengatakan di Indonesia baru pertama kali instalasi pengolahan sampah terbesar menjadi listrik dilakukan.

"Jadi ini Insya Allah bakal menjadi pilot project (proyek percontohan) Nasional," katanya.

Anna menjelaskan bahwa pembangunan PSEL Benowo yang dilakukan pemkot ini, dimulai sejak Tahun 2012 dengan menggandeng PT. Sumber Organik (SO). Dimana saat itu proses mengolah sampah menjadi listrik masih menggunakan metode landfill gas power plant.

"Dengan metode ini, PSEL mampu menghasilkan energi listrik 2 Megawatt dari 600 ton sampah per hari," ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, lanjut dia, kemudian di Tahun 2015, pemkot yang bekerja sama dengan PT. SO ini mulai menggunakan metode gasification power plant untuk mengolah sampah menjadi listrik.

Target awalnya, di Tahun 2020 melalui metode ini sudah dapat mengolah sampah menjadi listrik, namun karena adanya pandemi COVID-19, sehingga proses komisioning atau pengujian oleh tim ahli dari luar negeri mundur dilakukan.

"Alhamdulillah Tanggal 10 Maret 2021 kemarin sudah proses. Jadi sudah bisa menghasilkan listrik 9 Megawatt dari setiap 1.000 ton sampah per hari," katanya.

Ia menyebut listrik yang dihasilkan dari pengolahan sampah ini kemudian menjadi kewenangan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sebab, PT. SO yang bekerja sama dengan PLN terkait listrik yang dihasilkan tersebut.

Sementara pemkot sendiri, kata dia, bekerja sama dengan PT. SO dengan konsep bangun guna serah (built operate and transfer) selama 20 tahun.

"Jadi nanti tahun ke 20 atau di Tahun 2032, semua (alat) ini menjadi milik pemkot dengan kondisi 85 persen. Artinya, mesinnya, semua peralatan pengolahan sampah ini dalam kondisi baik dan menghasilkan listrik dalam kondisi baik," katanya.

Secara sederhana, Anna menjelaskan bagaimana metode gasification power plant ini mampu mengolah sampah menjadi listrik. Pertama, sampah yang telah ditimbang akan dimasukkan waste pit atau proses pemilahan.

Kemudian, sampah itu diayak menggunakan crane, seperti capit dan dimasukkan ke dalam boiler. Di dalam boiler itulah proses pembakaran dilakukan. Metode ini pun terbilang lebih cepat dibanding sebelumnya landfill gas power plant.

"Jadi melalui gasification ini per hari minimal 1.000 ton sampah yang diolah menjadi listrik. Dan mesin ini bekerja selama 24 jam tidak berhenti, tapi memang dalam satu tahun itu ada beberapa hari masa pemeliharaan. Jadi saat itu mesin berhenti tidak beroperasi sama sekali, supaya tidak rusak," kata Anna.

Saat ini, Anna menyebut, sampah yang dihasilkan Kota Surabaya mencapai sekitar 1.500 ton per hari, sedangkan jenis sampah yang diolah di TPS Benowo adalah sampah domestik atau rumah tangga. Sementara untuk jenis sampah, seperti limbah mebel diolah kembali di lokasi lain, seperti di galeri milik pemkot.

"Jadi tidak semua jenis sampah masuk ke sini. Sebelum sampah masuk ke TPA Benowo itu kami pilah-pilah dulu di TPS (tempat pembuangan sampah). Ada sebanyak 190 TPS di Surabaya," kata dia.

Pewarta : Abdul Hakim
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar