Kasus COVID-19 di Sumatera Selatan meningkat usai PPKM tahap I

id COVID-19 sumsel, corona sumsel, ppkm sumsel, kasus positif sumsel,Dr iche andriany, positvy rate,Pasar bedug sumsel

Kasus COVID-19 di Sumatera Selatan meningkat usai PPKM tahap I

Peta zonasi COVID-19 Sumsel, Rabu (28/4) (ANTARA/Aziz Munajar/21)

Palembang (ANTARA) - Kasus konfirmasi positif COVID-19 di Sumatera Selatan meningkat usai pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro tahap I mulai 6-19 April dan memicu bertambahnya zona merah.

Data kasus COVID-19 Dinkes Sumatera Selatan, Rabu, mencatat total kasus positif pada PPKM tahap II periode pekan pertama 20-26 April mencapai 793 kasus, sedangkan periode pekan pertama PPKM tahap I hanya terdapat 497 kasus.

"Memang kecenderungan untuk meningkat saat Ramadhan dan usai Lebaran akan terjadi," kata Epidemiolog Universitas Sriwijaya Dr. Iche Andriany Liberty.

Meningkatnya kasus membuat Sumsel kini memiliki dua wilayah zona merah yakni Kota Palembang dan Kabupaten OKU Timur, sementara 13 daerah lainnya zona oranye serta hanya dua daerah zona kuning.

Jika melihat monitor google monitoring index, pergerakan masyarakat di Sumsel tidak mengalami peningkatan signifikan, karena hanya naik tujuh persen untuk kunjungan ke toko makanan dan tujuh persen di area pemukiman. Sedangkan pergerakan di retail, pusat transportasi umum, tempat kerja dan taman mengalami penurunan hingga minus 20 persen.

Baca juga: Warga Sumsel yang tidak pakai masker di tempat umum bakal didenda

Baca juga: Pemprov Sumsel tetap perketat jalur masuk meskipun transportasi dibuka


Dr. Iche menilai peningkatan kasus yang terjadi saat ini lebih disebabkan lemahnya 3T yang memunculkan fenomena gunung es.

"Banyak yang terinfeksi tapi tidak terkonfirmasi, kemudian tidak diawasi dengan ketat, maka kelompok rentan atau bergejala yang muncul ke permukaan," katanya.

Selain itu positvy rate di Sumsel juga kini telah menyentuh angka 30 persen dan diperkirakan terus meningkat jika 3T belum optimal serta prokes terus diabaikan masyarakat.

Pengabaian prokes tersebut karena masyarakat dibuat bingung dengan berbagai regulasi yang ada, kata dia, apalagi kebijakan kadang tidak sinkron yakni di satu sisi berupaya membatasi mobilitas sementara di sisi lain 3T kurang optimal.

Ia mengimbau Satgas COVID-19 di seluruh tingkatan lebih ketat mengawasi pergerakan masyarakat terutama para pemudik lokal, baik jelang momen lebaran dan terutama pada hari H Idul Fitri.

"Untuk saat ini potensi penularan paling besar ada di pasar-pasar bedug, maka masyarakat juga harus menjaga diri," ujarnya.

Baca juga: Perlu sinergi tumbuhkan disiplin tegakkan protokol kesehatan

Baca juga: Kepala daerah zona hijau di Sumsel bisa buka sekolah tatap muka

Pewarta : Aziz Munajar
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar