Ini empat teknologi pendukung mitigasi gempa-tsunami dalam INATEWS

id bppt, Hammam Riza, bencana geologi, gempa, tsunami, inatews

Ini empat teknologi pendukung mitigasi gempa-tsunami dalam INATEWS

Kepala BPPT Hammam Riza dalam Rakornas BNPB di Jakarta, Kamis (4/3/2021). (ANTARA/Devi Nindy)

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) secara khusus mengembangkan empat teknologi yang mendukung sistem peringatan dini dalam upaya mitigasi gempa dan tsunami di Indonesia pada INATEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System). 

"Secara khusus Indonesia Tsunami Early Warning System merupakan program yang terbesar di lingkungan pengkajian dan penerapan teknologi, dan kami menempatkan keseluruhan bidang teknologi reduksi risiko bencana dalam membangun, mengembangkan, dan mengoperasionalkan INATEWS Tahun 2020 hingga 2024," ujar Kepala BPPT Hammam Riza dalam Rakornas BNPB di Jakarta, Kamis.

Ia memaparkan pengembangan Inatews di antaranya pada penyempurnaan INA-BUOY (Indonesian Buoy) yang dilengkapi dengan ARGOS system atau sistem yang terhubung dengan satelit untuk melacak eksistensi bouy atau alat pendeteksi gelombang tinggi.

Selanjutnya pada INA CBT (Indonesia Cable-based Tsunamimeter) atau sistem deteksi tsunami berbasis kabel bawah laut guna mendeteksi potensi gempa dan tsunami.

Baca juga: BNPB: Indonesia buktikan pengendalian COVID-19 secara paralel

Secara khusus, BPPT mengadakan untuk pertama kalinya di empat lokasi, yakni Pulau Sipora, Pulau Siberut, Gunung Anak Krakatau, dan Gunung Rokatenda.

INA-CAT (Indonesia Coastel Acoustic Tomography) adalah sistem deteksi tsunami dan arus laut berbasis teknologi akustik tomografi pantai. Sistem ini mendeteksi gelombang tsunami pada transmisi rambatan gelombang suara yang diterima pasangan stasiun akustik.

Sinyal yang diterima akan diproses secara telemetri ke stasiun penerima BPPT dan memberikan informasi kedatangan gelombang tsunami. Tiga lokus sistem tersebut berada di kawasan Lombok, Nusa Tenggara Barat, selatan Bali, dan Selat Sunda.

Teknologi terakhir yakni PEKA Tsunami yang memberikan waktu tempuh, lokasi, dan ketinggian gelombang berbasis kecerdasan artifisial. Sistem prediksi tersebut memprediksi dari data simulasi, sensor buoy, INA CBT dan parameter lainnya.

"Secara khusus teknologi ini menjadi salah satu penguat dari upaya kita untuk menggunakan machine learning atau pembelajaran mesin nomor rangka memprediksi tsunami jika terjadi gempa bumi dalam skala tertentu dan pada wilayah tertentu," katanya.

Baca juga: BNPB catat 3.253 kali kejadian bencana di Indonesia setahun terakhir
Baca juga: BPPT gunakan sistem berbasis satelit ARGOS untuk lacak eksistensi buoy
Baca juga: BPPT sebut lima teknologi reduksi risiko bencana geologi Indonesia

Pewarta : Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar