Dokter: Masyarakat agar kenali prinsip "ESSE" pada HIV/AIDS

id HIV/AIDS, RSUD WANGAYA, Bali, ESSE

Konsultan Klinik VCT Merpati RSUD Wangaya, dr. Ketut Suryana, Sp.PD-KAI FINASIM saat diwawancara di RSUD Wangaya, Denpasar, Kamis (20/2/2020). ANTARA/Ayu Khania Pranisitha

Denpasar (ANTARA) - Dokter Ketut Suryana, Sp.PD-KAI FINASIM konsultan pada klinik VCT Merpati RSUD Wangaya Denpasar mengajak masyarakat untuk mengenali prinsip Exit, Survive, Sufficient, Enter (ESSE) pada HIV/AIDS dengan benar.

"Jadi penularan virus HIV itu tidak mudah, ada prinsip yang harus dipegang yaitu ESSE. Dari empat itu kalau satu saja tidak dikerjakan proses penularan itu tidak bisa ditularkan dari satu orang ke orang lain, karena jalur umumnya itu melalui kontak seks yang tidak terlindung dengan bukan pasangan," kata dr. Ketut Suryana saat dikonfirmasi di Denpasar, Kamis.

Ia menjelaskan bahwa HIV hanya bisa menular jika empat prinsip ini dipenuhi semua. Untuk itu pihaknya mengatakan agar masyarakat tidak melebih-lebihkan tentang penularan virus HIV tersebut.
Baca juga: RSUD Wangaya terima 70-120 kunjungan pasien HIV/AIDS perhari

Adapun pengertian ESSE yaitu, E berarti Exit. Adanya jalan keluar cairan yang ada didalam tubuh seseorang dengan virus HIV. Misalnya saja penggunaan narkoba dari jarum suntik secara bergantian dari orang dengan virus HIV ke orang yang tidak terkena virus HIV sebelumnya.

"Bisa juga misalnya terjadi kecelakaan kerja yang menyebabkan suntikan bekas pasien HIV tersebut malah tertusuk ke seseorang yang tidak terkena sebelumnya,"katanya.

Kedua adalah Survive yang artinya cairan tubuh pada seseorang dengan virus HIV ini harus tetap mengandung virus yang bisa mendorong untuk bertahan hidup.

Ketiga adalah Sufficient yang berarti kandungan dalam virus HIV yang berada di tubuh seseorang yang terinfeksi harus dalam kandungan yang cukup. Jumlah kandungan tersebut mempengaruhi proses inkubasi pada tubuh seseorang lainnya.
Baca juga: Legislator: Banyak perempuan tertular HIV/AIDS karena tak bisa memilih

Selanjutnya adalah Enter, adalah proses masuknya cairan yang mengandung virus HIV masuk ke tubuh seseorang. Salah satunya terjadi ketika ada kontak hubungan seksual dianjurkan untuk menggunakan pengaman (kondom) agar meminimalisir jalir masuk tersebut.

"Kalau pasiennya dalam keadaan hamil terkena HIV, dianjurkan untuk rutin mengkonsumsi ARV selama enam bulan itu untuk menekan resiko penularan, kalau laki - laki itu tinggi juga maka dosis pemberian ARV juga berbeda,"jelasnya.

Untuk pasien dengan virus HIV ini harus menjalani pengobatan dengan rutin, konsisten dan disiplin. "Kalau dia engga taat repot juga karena virus HIV salah satu virus yang bandel, jadi tidak cukup 1-2 kali diberi obat tapi harus rutin, yang perlu digaris bawahi untuk pasien HIV, tingkat kepatuhannya harus tinggi,"ucapnya.

Ia mengatakan seseorang dengan HIV memang harus diberikan obat virus tapi dengan syarat adalah infeksi oportunistik yang ada harus terkendali sehingga tidak menimbulkan kegaduhan baru dalam tubuh.
Baca juga: YPI ingatkan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayinya

"Banyak ditemukan pasien dengan infeksi lain, kalau dia datang dengan HIV positif dan ada kondisi TBC tentu berpotensi menimbulkan masalah, jadi TBC nya diobati lebih dulu sampai tubuh mulai toleran. Kalau tubuh sudah toleran langsung diberikan obat virus," katanya.

Ia menambahkan bahwa seseorang dengan positif HIV tanpa ada catatan infeksi oportunistik atau adanya infeksi menyimpang bisa mengkonsumsi obat virus, untuk itu penting adanya pemeriksaan sejak dini.

Selain itu, untuk stok ARV di RSUD Wangaya terbilang cukup dan kata dia tidak pernah mengalami kekurangan. "Setiap tiga bulan kita ajukan, dan satu bulan terakhir langsung kita ajukan kembali, jadi stoknya tetap aman," ucap dr. Ketut Suryana.

Selanjutnya para pasien HIV/AIDS yang dirawat di RSUD Wangaya menjalani rentang waktu perawatan berbeda - beda, ada tujuh hari, lima hari dan tiga hari. Menurutnya, ruangan untuk pasien dengan HIV/AIDS tidak harus diisolasi, namun tidak boleh juga dicampur dengan pasien lainnya, karena pasien HIV/AIDS adalah orang - orang dengan daya tahan tubuh menurun.

"Jadi mereka tidak dipisahkan atau tidak berada dalam ruang isoladi agar tidak ada namanya diskriminasi. Mereka dirawat diruang yang sama bersama pasien lain dengan catatan lingkungan tidak bersiko menular," jelasnya.
Baca juga: Jakarta targetkan bebas HIV-AIDS pada 2030

Penelitian sebut pengidap HIV/AIDS tertinggi adalah ibu rumah tangga


 

Pewarta : Ayu Khania Pranishita
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar