Kemarin, antisipasi penyebaran virus Corona sampai ekskavasi candi

id virus corona,ular kobra,radioisotop batan

Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) menunjukan monitor alat deteksi suhu tubuh atau "thermoscan" di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (22/1/2020). Alat tersebut digunakan untuk mendeteksi suhu tubuh penumpang pesawat internasional untuk mengantisipasi penyebaran Virus Corona yang berasal dari Wuhan, China. ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho/pras.

Jakarta (ANTARA) - Ada beberapa pemberitaan pada Rabu (23/1) yang menarik perhatian pembaca mulai dari kisah dokter yang menyelamatkan korban gigitan ular langka sampai topik hangat penyebaran virus Corona.

Berikut sejumlah berita humaniora yang masih menarik dibaca untuk hari ini:

Kemenkes siap cegah kemungkinan penyebaran Corona di Indonesia

Virus Corona atau Novel Coronavirus (nCov) sudah menyebar ke beberapa negara setelah beberapa orang kembali dari China, tempat pertama virus itu menyebar.

Untuk itu, Kementerian Kesehatan siap mencegah dan meningkatkan kesiapsiagaan untuk kemungkinan penyebaran Corona di Indonesia.

Untuk mengetahui apa saja langkah yang diambil Kemenkes untuk mencegah Corona menyebar ke Indonesia bisa di baca di tautan berikut

Temuan batuan diduga bangunan candi di Dieng segera diekskavasi BPCB

Batuan yang diduga bangunan candi yang ditemukan di lahan milik warga Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah sedang dalam proses ekskavasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

Untuk mengetahui proses ekskavasi dari yang diduga bangunan candi tersebut bisa dibaca di sini

BATAN kembang radioisotop dari molibdenum alam bantu diagnosis kanker

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) kini tengah mengembangkan teknologi yang dapat membatu mendiagnosis penyakit kanker.

Radioisotop Tc-99m yang dikembangkan BATAN memiliki waktu paruh yang pendek sehingga radiasi yang dipancarkannya akan hilang setelah diagnosis dan aman bagi tubuh pasien.

Berita pengembangan radioisotop oleh BATAN bisa dibaca di sini

Cerita dokter Maharani, penyelamat korban gigitan ular langka

Seorang anak digigit ular langka yang sangat berbisa di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Sadar tidak akan bisa menolong pasien tanpa anti-bisa dokter Maharani nekad berangkat ke Thailand dengan dana seadanya untuk membeli obat.

Untuk mengetahui kisah dokter Maharani terbang ke Thailand hanya untuk membeli obat anti-bisa dapat dilihat di link berikut ini

Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar