BKKBN perkuat program kampung KB di Papua Barat

id Hasto wardoyo,Kampung kb,Keluarga berencana

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo memberikan pemahaman tentang program KB dalam kunjungan kerja ke Kampung KB Udopi di distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, Kamis (21/11/2019). (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Manokwari (ANTARA) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperkuat dan mendukung peningkatan kualitas kampung keluarga berencana (KB) di Provinsi Papua Barat.

"BKKBN hadir untuk kesehatan bukan untuk membatasi (jumlah anak), tapi untuk sehat jaraknya (jarak kelahiran antar anak di keluarga) harus diatur," kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam kunjungan kerja ke Kampung KB Udopi di Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, Kamis.

Dia mengatakan program KB bertujuan untuk meningkatkan kualitas anak dan keluarga sehingga pasangan suami istri dapat merencanakan keluarga dengan baik untuk mendukung terciptanya generasi unggul Indonesia termasuk generasi emas di Papua dan Papua Barat.

Baca juga: BKKBN: Kabupaten Keerom jadi proyek percontohan KB di Papua

Hasto menginginkan daerah yang menjalankan program kampung KB di Papua, dapat bangkit dan menjadi daerah yang lebih sejahtera serta keluar dari kemiskinan. Ibu-ibu yang ada di Papua didukung untuk dapat melahirkan anak-anak yang sehat dan kuat melalui pengaturan jarak lahir antar anak dan memperhatikan kesehatan reproduksi.

Lewat pengaturan jarak kelahiran minimal tiga tahun dan maksimal lima tahun, orang tua dapat mempersiapkan sumber daya termasuk aspek ekonomi untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Baca juga: BKKBN tingkatkan penyuluhan KB hingga pedalaman

"Kehadiran kami di sini untuk meningkatkan kualitas anak dan keluarga," tuturnya.

Dalam kunjungan kerja tersebut, Hasto berdiskusi dengan warga dan memberikan pemahaman dan menambah wawasan masyarakat tentang pentingnya program KB dan pembangunan keluarga yang berkualitas termasuk dengan mengatur jarak kelahiran antar anak.

Dalam diskusi itu, Hasto menjelaskan resiko jika menikah muda sebelum umur 20 tahun, misalnya anak perempuan usia 16-17 tahun menikah, maka dia rentan terkena kanker serviks karena organ reproduksinya belum matang. Dia juga menekankan perempuan hamil saat berusia di atas 35 tahun rentan mengalami gangguan kesehatan seperti mengalami tekanan darah tinggi saat kehamilan dan gula darah lebih tinggi.

Sementara usia 21-35 tahun adalah masa yang ideal untuk hamil dan melahirkan bagi ibu dengan risiko kesehatan paling rendah.

Hasto juga mendorong peningkatan pelayanan kesehatan bagi warga di wilayah setempat terutama untuk menjamin kesehatan ibu dan anak.

Baca juga: BKKBN: Program KB fokus peningkatan kualitas anak
Baca juga: Pemprov Papua apresiasi BKKBN terkait kebijakan berkearifan lokal
Baca juga: BKKBN: kampung KB sukses jika didukung sinergi kementerian dan lembaga


 

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar