Harmoni Polri dan TNI menjaga Melayu di batas negeri

id TNI, Polri

Momen kedekatan Komandan Korem 031 Wirabima Brigjen TNI Mohammad Fadjar (kiri) bersama Kapolda Riau Irjen Pol. Agung Setya Imam Effendi. Sinergitas menjadi harga mati bagi TNI Polri yang merangkul masyarakat untuk menjaga mimpi para pahlawan pejuang kemerdekaan. ANTARA/Anggi Romadhoni

Pekanbaru (ANTARA) - “Bertuah rumah adat tuannya, bertuah negeri adat puncaknya. Elok kampung ada tuannya, elok negeri ada rajanya.”

Potongan bait syair Melayu itu menjadi petunjuk dalam kehidupan manusia. Mulai dari lingkungan kecil hingga masyarakat luas, haruslah menjunjung adat dan pemimpin. Hal ini agar cita-cita para pahlawan pejuang bangsa terus terjaga.

Adat menjadi tradisi sekaligus regulasi yang terus diterapkan masyarakat hingga kini. Satu di antara adat yang menjadi panutan adalah sinergitas dan kebersamaan. Tanpanya, tidaklah masyarakat terjaga akan kerukunan dan kedamaian.

Keberadaan para pemimpin juga harus dibarengi dengan sinergitas yang baik melibatkan seluruh perangkat negara.

Peran Polri dan TNI bersama para pemimpin di batas negeri yang membaur dan merangkul masyarakat menjadi penanda bahwa negara ini dalam kondisi prima. Siap untuk menjaga setiap jengkal Ibu Pertiwi hingga ke pelosok dan batas negeri meraih mimpi.

Riau, salah satu provinsi yang kaya akan sumber daya alam, masih mengedepankan adat istiadat dalam menjalani kehidupan. Sejarah provinsi berjuluk Bumi Lancang Kuning ini mewarnai perjalanan panjang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca juga: Kapolri temui KSAD kuatkan sinergitas Polri-TNI

Satu di antaranya, bahasa Melayu, menjadi khazanah perekat bangsa. Melayu sebagai lingua franca atau bahasa pergaulan yang sudah berabad-abad hadir di Nusantara menjadi tulang punggung bahasa Indonesia.

Namun, kata cendekiawan Melayu Elviriadi, kesucian dan cinta pada alam buana, ternodai zaman yang kian menggila. Para penderhaka yang datang ke Tanah Melayu, suka membuat gaduh.

Di sinilah peran dan sinergitas Polri dan TNI bersama rakyat diuji. Menjawab segala bentuk tantangan nyata yang datang bertubi-tubi. Beragam masalah klasik terus mengusik Riau yang berbatasan langsung dengan jalur pelayaran tersibuk dunia, Selat Malaka.

Sejatinya Riau menjadi cermin kehidupan berbangsa yang langsung bersebelahan dengan negeri jiran Malaysia serta Singapura. Nama baik itu harus dijaga. Hal ini demi menjaga kepercayaan dunia kepada negara.

Sinergitas hingga kini dan seterusnya akan terus menjadi kata kunci dalam menjawab seluruh tantangan yang ada.

Meski tidak banyak riak berteriak di Bumi Riau, ancaman terlalu nyata. Mulai dari bencana tahunan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga serbuan barang haram perusak generasi bangsa, narkoba.

Panjang garis pantai Riau yang mencapai 2.076 kilometer menjadi sasaran empuk para penyelundup narkoba. Barang haram itu memanfaatkan lokasi strategis Riau dan berharap lemahnya koordinasi antarinstansi.

Baca juga: Polisi di Riau sita 89,72 kg sabu-sabu, 24.000 pil ekstasi

Sinergi Polri bersama TNI, terutama Angkatan Laut serta keterlibatan peran aktif masyarakat, nelayan, lagi-lagi menjadi kunci menghentikan langkah para penderhaka.

Terbukti, sepanjang 2018 sebanyak 325 kilogram sabu-sabu senilai ratusan miliar rupiah disita Polda Riau dan jajaran. Selain itu, 2.261 tersangka pengedar dan bandar dijebloskan ke penjara.

Hingga medio 2019, penyelundupan narkoba sepertinya tak kunjung surut. Lebih dari 95 kilogram sabu-sabu serta lebih dari 80.000 pil ekstasi dan happy five kembali disita Polisi hingga sepanjang tahun ini.

Sebanyak 1.071 tersangka dijerat kasus narkoba. Angka itu berpotensi meningkat mengingat Polda Riau terus menabuh genderang perang melawan narkoba.

Direktur Reserse Narkoba Polda Riau Kombes Pol. Suhirman mengakui bahwa pemberantasan narkoba tidak akan maksimal hanya mengandalkan Korps Bhayangkara. Kembali lagi soal sinergitas yang baik antara TNI dan Polri serta informasi masyarakat menjadi tameng utama menjaga gempuran para sindikat narkoba.

Dalam penegakan hukum kebakaran hutan dan lahan, Polda Riau juga menyatakan tak akan pernah tinggal diam. Kapolri pada bulan Agustus 2019 saat mengunjungi Riau dengan terbuka meminta bantuan TNI untuk membantu menangkap para penderhaka pembakar lahan.

Koordinasi kedua instansi yang terjalin makin akrab tersebut membuahkan hasil. Sedikitnya 70 tersangka pembakar lahan dibekuk sepanjang 2019.

Baca juga: Karhutla Riau habiskan anggaran BNPB Rp468 miliar

Tak hanya itu, Polda Riau juga menetapkan dua korporasi yang diduga kuat telah melakukan pembakar lahan.

Penetapan korporasi sebagai tersangka karhutla bukanlah perkara mudah. Penyelidikan hingga penyidikan juga harus terus dilakukan dengan terukur.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau AKBP Fibri Karpiananto mengatakan perusahaan yang terjerat lagi pidana lingkungan hidup itu adalah PT Tesso Indah (TI).

Selain menetapkan PT TI yang berlokasi di Kabupaten Indragiri Hulu sebagai tersangka secara korporasi, penyidik juga menetapkan tersangka secara perorangan yang mewakili perusahaan.

Dua tersangka dalam perkara ini, pertama PT TI sebagai tersangka korporasi. Dalam hal ini diwakilkan direktur operasionalnya berinisial HK. Satu lagi berinisial S sebagai tersangka perorangan untuk perusahaan tersebut.

Fibri menjelaskan bahwa S (asisten kebun tersebut) diduga lali dalam menjaga perkebunan sawit hingga menyebabkan kebakaran. Saat ini S juga telah ditahan untuk proses hukum lebih lanjut. Polisi pun menahan S.

Baca juga: Kejaksaan Riau: Berkas korporasi tersangka Karhutla lengkap

Dengan ditetapkannya PT TI sebagai tersangka korporasi, artinya sudah dua perusahaan yang terjerat kasus hukum terkait dengan karhutla. Korporasi pertama yang terjerat perkara serupa adalah PT Sumber Sawit Sejahtera (SSS). Perusahaan sawit yang berada di Pelalawan, Riau itu kini telah masuk dalam pemberkasan di kejaksaan.

Fibri menegaskan bahwa langkah hukum ini merupakan bentuk komitmen Polda Riau dalam mengusut kasus karhutla, khususnya melibatkan perusahaan.

PT TI ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik menyatakan 69 hektare lahan di perusahaan itu terbakar pada bulan Agustus 2019. Polda Riau bergerak cepat melakukan penyelidikan hingga mengumumkan penetapan dua tersangka dalam kasus ini.

Sinergitas Harga Mati

Komandan Resor Militer 032 Wirabima Brigjen TNI Mohammad Fadjar menegaskan bahwa sinergitas TNI dan Polri merupakan harga mati. Hal itu disampaikan jenderal bintang satu tersebut berulang kali kepada awak media.

Terakhir, kedekatan kedua institusi tersebut tercermin saat peringatan HUT Ke-74 TNI yang berlangsung beberapa waktu lalu.

Kala itu, Kapolda Riau Irjen Pol. Agung Setya Imam Effendi "menggerebek" kediaman dinas Brigjen TNI Fadjar usai salat Subuh, sesaat sebelum upacara HUT TNI berlangsung. Agenda yang sama juga dilakukan Kapolri ke rumah dinas Panglima TNI di Jakarta.

"Itu adalah wujud bahwa kedekatan kami sebagai aparat menopang NKRI, itu adalah kedekatan dari hati. Sinergitas bagi TNI/Polri adalah harga mati," kata Brigjen TNI Fadjar menegaskan.

Baca juga: Panglima TNI sebut sinergitas TNI-Polri berjalan baik

Kedekatan kedua institusi itu tak hanya sebatas retorika di depan media, tetapi juga tercermin ketika keduanya tergabung dalam satuan tugas yang sama, karhutla. Peranan penting yang dilakukan kedua institusi tersebut akan terus dibutuhkan Riau, sebagai provinsi di batas negeri.

Tak hanya Riau, kedekatan yang turut melibatkan masyarakat juga akan sangat dibutuhkan bangsa Indonesia.


Pewarta : Anggi Romadhoni
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar