Putra Bung Tomo bicara soal berjuang tanpa pamrih jelang Hari Pahlawan

id Bung tomo,hari pahlawan,pemuda,10 november

Bambang Sulistomo putra pahlawan nasional Sutomo atau lebih dikenal Bung Tomo saat diwawancarai awak media massa terkait Hari Pahlawan. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Bambang Sulistomo yang merupakan putra pahlawan nasional Sutomo atau lebih dikenal sebagai Bung Tomo menjelang Hari Pahlawan berbicara soal berjuang tanpa pamrih dan semangat pantang menyerah sebagai nilai-nilai keluhuran bangsa yang relevan dilakukan pemuda untuk menguasai masa depan.

“Jadi, jika ingin berbicara atau melihat masa depan, setiap individu harus paham terlebih dahulu bagaimana cara mencapai tujuan dengan nilai-nilai dasar yang ada dalam UUD 1945,” kata di Jakarta, Sabtu. 

Baca juga: Dua pahlawan film menurut Reza Rahadian
Baca juga: Aries Susanti Rahayu, pemecah rekor dan perayaan prestasi perempuan

Anak-anak muda harus tahu betul tujuan nasional Bangsa Indonesia yang penuh dengan nilai-nilai luhur kebangsaan. Keseluruhan nilai-nilai itu ada dalam Pembukaan UUD 1945 mulai dari nilai kemanusiaan, kebhinekaan, pemberdayaan, mencerdaskan kehidupan bangsa dan sebagainya, ujar Bambang.

Ia meminta para pemuda-pemudi Indonesia untuk menggali kembali nilai-nilai keluhuran bangsa itu untuk memaknai Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November.

"Nilai-nilai keluhuran itu termasuk berjuang tanpa pamrih dan semangat pantang menyerah," katanya.

Para anak-anak muda bangsa perlu untuk selalu diberi dorongan agar bisa berjuang dan meneruskan perjuangan serta mengisi kemerdekaan. Mereka juga harus memegang erat nilai kejujuran dan mau memperjuangkan keadilan. 

Baca juga: Gatot Gunawan tebar semangat Inggit Garnasih dalam Sekolah Ra'jat
Baca juga: Pejuang literasi di gang-gang kecil

"Kemerdekaan itu keadilan dan kemerdekaan itu memperjuangkan keadilan," kata dia.

Sementara itu, ia mengatakan untuk paham-paham radikal yang mengingkari nilai-nilai kebersamaan, mengingkari kebhinekaan dan mengingkari nilai keadilan, hal itu harus dilawan. 

Tapi radikal yang menegakkan keadilan, yang menegakkan kesejahteraan, kemakmuran, hukum dan semacamnya, itu harus diteladani. “Kalau bertentangan, baru dilawan," kata dia.

Baca juga: Peneliti sebut tokoh Pegunungan Papua layak jadi pahlawan nasional
Baca juga: Jejak Sardjito sebagai Ilmuwan Pejuang Indonesia

 


Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar